SORE YANG VIOLET

Akhirnya bisa juga menulis dengan tenang. Setelah beberapa pekan terbelenggu dengan hal yang tak urgen tapi lumayan menguras perhatian.

Rindu sekali dengan suasana ini, duduk di balik jendela kayu sambil memandangi langit sore yang violet. Harum bau tanah basah yang menyegarkan, dan tembok berlumut yang eksotis. Bagi orang seperti saya itu sudah cukup merupakan kemewahan buat jiwa, tak akan setara meskipun ditukar dengan fasilitas di hall cafe beratapkan ukir-ukiran mahakarya Michelangelo, beralaskan porselen terbaik dari Dinasti Qin.

Menghirup sore yang beraroma vanila. Bercengkerama dengan angin musim kemarau yang mengintai dari balik tirai bulan Rajab. Suara gaduh suporter Indonesia Open yang mendukung Taufik Hidayat dari tabung ajaib bernama televisi di belakang saya seperti harmonisasi orkestra Hayden saja. Bisingnya knalpot sepeda motorsport yang digeber keras-keras di samping kantor kecamatan, yang biasanya memekakkan gendang telinga, sore ini layaknya alunan simponi Mozart yang riang. Nikmat, dan syahdu.

Jujur saya tidak tahu akan menulis apa. Saya juga tak tahu ke mana arah paragraf-paragraf ini. Yang saya tahu, saat ini saya kangen sekali menulis. Ya, kangen sekali.

Saya biarkan jari-jari ini menari di atas keyboard yang telah lama terindukan. Biarkan kran kerinduan mengalir membasahi sela-sela jiwa yang tertidur.

Mungkin saya hanya ingin menyapa anda, para sahabat tercinta. Mungkin juga saya hanya ingin menyapa tulisan saya sendiri yang beberapa waktu ini kehilangan tuannya.

“ Menulis sudah menjadi bagian integral dalam hidup. Maka jeda sedikit saja dari menulis, ibarat kehilangan satu bagian dari hidup”, begitu kata orang –orang pandai yang ada di koran.

Buat saya, menulis bagi diri sendiri adalah proses pelepasan sesuatu dari jiwa. Satu bentuk eksistensi bahwa kita bebas. Bebas dari aturan kebahasaan, bebas dari penentuan tema, bebas dari apa saja. Sebab kitalah yang menentukan segalanya. Kitalah tuannya.

Seperti juga sore ini, ketika saya membiarkan diri ini bebas terbawa ‘aliran’. Hanya menulis. Tanpa terikat tema, tanpa diperbudak aturan bahasa. Tanpa prediksi bagaimana saya harus mengakhiri paragrafnya. Tapi buat yang satu ini, saya sepakat dengan Jikustik untuk mengakhirinya dengan indah.

Selamat menikmati sore.