
Kali ini bis Sumber Kencono membawa saya ke Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Saya perkirakan perjalanan ini akan memakan waktu kurang lebih 3 jam, hanya selisih sedikit dari jarak tempuh Madiun-Solo. Tapi ternyata kalkulasi saya salah besar, nilai galat perhitungan waktu saya meleset jauh dari kenyataan.
Melewati RS Muwardi, saya berhenti di Tirtomoyo untuk berganti bis kecil jurusan Bulu-Kelir. Wahyu Putro, nama bis itu, membawa saya dengan laju tak lebih dari 30 km/jam lambat merayap laksana pawai 17 Agustus, melalui sudut-sudut kota Solo di siang hari yang padat pemukiman. Tak jauh berbeda dengan Madiun, sepanjang jalan dipenuhi gambar-gambar anak manusia yang ingin duduk di kursi wakil rakyat, apalagi saat itu bersamaan dengan Mukernas PDI-P yang bertempat di The Sunan Hotel. Aroma pemilu makin terasa tajam siang itu.
Tujuan saya adalah desa Gentan, Kecamatan Bulu, kediaman sahabat saya, sekaligus untuk berziarah ke makam ibunya yang meninggal beberapa waktu lalu.
Lepas dari kota Solo memasuki kabupaten Sukoharjo, sawah-sawah hijau muda dengan ujung keemasan terbentang, mengingatkan saya bahwa masyarakat sekitar masih menyandarkan hidupnya pada pertanian. Bis mulai meningkatkan kecepatan, mungkin karena sadar tidak ada penumpang yang bisa diangkut di jalur itu. Suara Koes Plus bersaudara masih setia mengalun dari tape recorder karatan yang terletak di dekat sang supir bis. Saya sempat khawatir karena di depan saya melihat tulisan besar tertera “Selamat Datang di Kabupaten Wonogiri”. Apakah saya sudah terlewat ? Maklum ini kali pertama saya ke sana hanya berbekal petunjuk alamat dari sms. Ternyata jalur bis untuk menuju Kecamatan Bulu memang harus melewati Wonogiri terlebih dahulu, lalu memutar ke barat ke arah Kelir.
Turun dari bis, hawa sejuk perbukitan berhembus menjemput wajah saya. Tepat 5 jam perjalanan di atas bis dari Madiun hingga Bulu Sukoharjo, persis jarak tempuh Madiun-Jogja. Dengan berjalan kaki saya melewati rumah-rumah peduduk yang sangat sederhana di kelilingi hutan jati. Jalanan sangat sepi meski jam menunjukkan angka 11.16 siang. Saya bahkan bisa mendengar desis suara serangga dari pohon-pohon jati di sekeliling saya. Kurang lebih 1 kilometer saya berjalan hingga bertemu sahabat saya tepat di depan pemakaman. Tanah pekuburan masih basah karena hujan semalam, dan bunga mawar yang ditaburkan di atasnya belum lagi kering. Untuk sejenak saya memunajatkan doa untuk sang penghuni kubur, ibunda dari sahabat saya tercinta.
Dia masih sama seperti dahulu, masih mahasiswa UNS semester 10 yang pending skripsi gara-gara proposal ditolak DP II. Hanya bapaknya yang tampak lebih tua dan lelah, maklumlah terakhir kali bertemu beliau 6 tahun yang lalu. Kesedihan telah kehilangan istri tercinta terlihat dari sorot mata dan bias wajah beliau yang sederhana. Saya menyesal tidak bersilaturrahim lebih awal sebelum musibah ini terjadi. Tapi apa mau dikata, semua sudah terlambat.
Jadwal mengajar kelas malam tidak memungkinkan saya untuk berlama-lama. 14.30 saya pamit pulang. Bis “Wahyu Putro” yang kembali mengangkut saya melaju lebih cepat daripada perjalanan berangkat tadi. Dan untuk kedua kalinya hari ini, kecelakaan sepeda motor kembali terjadi di depan mata saya. Darah berceceran, membuat perut saya langsung mual pingin muntah. Memang ada phobia tersendiri dengan cairan berwarna merah itu. Pelajaran moral no 17. Buat semuanya saja, hati-hati benar kalo naik sepeda motor, ini peringatan!
Hujan deras kembali mewarnai perjalanan kali ini. Saya mengambil headset dan menemukan frekuensi radio anak Solo yang bahasanya sudah “loe-gue”… benar-benar ngga mau kalah sama ibukota.
Menjauhi kota Solo, hujan semakin deras membuat pemandangan luar dari jendela bis tampak kabur tetapi tidak menyurutkan semangat pengamen bisu yang mencoba bernyanyi atau lebih tepatnya berteriak terbata-bata di depan saya. Tuhan, lidah saya kelu melihatnya. Potret lain dari jahatnya kemiskinan.
“Dear God” yang dinyanyikan Avanged sevenfold mengalun pelan, membawa ingatan saya pada kepingan-kepingan hikmah yang harusnya mampu saya tangkap dari perjalanan ini. Hidup, nasib, dan kematian semua ada yang berkuasa mengaturnya, dan kita hanya bisa pasrah.