Wanita dan belanja rasanya ibarat dua sisi keping mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Sulit untuk dipungkiri, sebab sekalipun saya mau membela diri untuk menolak generalisasi ini, secara de facto realitas telah berkata demikian. Mulai dari pasar tradisional ala Indonesia yang murah meriah hingga pusat perbelanjaan Primark di Oxford street ala London, lihat saja siapa komunitas yang mayoritas bertransaksi di sana? Kaum hawa, golongan saya.
Beberapa minggu lalu saya sendiri jatuh ke dalam endemic shopaholic. Entah bisikan dari mana yang tiba-tiba mendorong saya untuk memuaskan keinginan belanja ala “perempuan” yang sebelumnya tidak pernah saya lakukan. Pikiran ketika itu mengatakan toh sekali-kali ngga apa-apa, sebagai imbalan buat diri sendiri atas kerja keras tiap hari dari subuh ampe malam. Akhirnya demi menuruti bisikan itu, lembar demi lembar rupiah mengalir untuk membeli keperluan yang bisa dibilang bukan “kebutuhan”. Sepatu, baju, kaos, sandal, jajan, dan jajan lagi. Sesaat terpikir, oke setelah saya mendapatkan baju ini atau sepatu itu saya bakal mendapatkan kepuasan batin. Tapi nyatanya tidak, kawan. Semakin menuruti hasrat berbelanja yang tidak lagi sejalan dengan teori kebutuhan itu, semakin saya berjalan menjauhi rel definisi kepuasan hati. Ibarat meminum air laut, semakin banyak diminum, justru semakin membuat haus.
Tenggorokan saya rasanya tercekat, melihat di pinggir-pinggir jalan pedagang koran masih berdiri di siang bolong hanya untuk menawarkan Jawa Pos yang bahkan tinggal separuh harga. Benar-benar malu jika berkaca pada mereka yang menghargai sekeping rupiah untuk bertahan hidup sementara saya menghamburkan uang hanya demi menuruti keinginan sesaat.
Saya tidak mengerti apa yang ada dalam benak mereka yang rela menghabiskan waktu seharian bahkan hanya untuk keluar masuk mall dengan tas di pundak atas, tangan kanan dan kiri menjinjing berbagai barang bermerk untuk memenuhi kepuasan yang fatamorgana itu. Saya teringat seorang teman pernah bertanya retorik, “Apa salahnya belanja barang bermerk kalo emang punya uang ?”. Sama sekali tidak salah, logikanya saya balik begini, kalo ada barang lain yang sudah cukup memenuhi asas kemanfaatan meski pun tidak bermerk, buat apa beli yang mahal ? Toh uangnya bisa buat hal lain dari sekedar membeli prestise brand terkenal.
Tapi itu semua kembali pada pribadi masing-masing. Saya tidak menganggap ini pendapat yang benar, sama sekali tidak. Sangat relatif, sangat subjektif. Namun di atas itu semua ada indikator paling sensitif yang bisa menilai yaitu kata hati.
Beberapa minggu lalu saya sendiri jatuh ke dalam endemic shopaholic. Entah bisikan dari mana yang tiba-tiba mendorong saya untuk memuaskan keinginan belanja ala “perempuan” yang sebelumnya tidak pernah saya lakukan. Pikiran ketika itu mengatakan toh sekali-kali ngga apa-apa, sebagai imbalan buat diri sendiri atas kerja keras tiap hari dari subuh ampe malam. Akhirnya demi menuruti bisikan itu, lembar demi lembar rupiah mengalir untuk membeli keperluan yang bisa dibilang bukan “kebutuhan”. Sepatu, baju, kaos, sandal, jajan, dan jajan lagi. Sesaat terpikir, oke setelah saya mendapatkan baju ini atau sepatu itu saya bakal mendapatkan kepuasan batin. Tapi nyatanya tidak, kawan. Semakin menuruti hasrat berbelanja yang tidak lagi sejalan dengan teori kebutuhan itu, semakin saya berjalan menjauhi rel definisi kepuasan hati. Ibarat meminum air laut, semakin banyak diminum, justru semakin membuat haus.
Tenggorokan saya rasanya tercekat, melihat di pinggir-pinggir jalan pedagang koran masih berdiri di siang bolong hanya untuk menawarkan Jawa Pos yang bahkan tinggal separuh harga. Benar-benar malu jika berkaca pada mereka yang menghargai sekeping rupiah untuk bertahan hidup sementara saya menghamburkan uang hanya demi menuruti keinginan sesaat.
Saya tidak mengerti apa yang ada dalam benak mereka yang rela menghabiskan waktu seharian bahkan hanya untuk keluar masuk mall dengan tas di pundak atas, tangan kanan dan kiri menjinjing berbagai barang bermerk untuk memenuhi kepuasan yang fatamorgana itu. Saya teringat seorang teman pernah bertanya retorik, “Apa salahnya belanja barang bermerk kalo emang punya uang ?”. Sama sekali tidak salah, logikanya saya balik begini, kalo ada barang lain yang sudah cukup memenuhi asas kemanfaatan meski pun tidak bermerk, buat apa beli yang mahal ? Toh uangnya bisa buat hal lain dari sekedar membeli prestise brand terkenal.
Tapi itu semua kembali pada pribadi masing-masing. Saya tidak menganggap ini pendapat yang benar, sama sekali tidak. Sangat relatif, sangat subjektif. Namun di atas itu semua ada indikator paling sensitif yang bisa menilai yaitu kata hati.