Membaca biografi Ennie Van Moorsel Arif membuka mata hati saya tentang dimensi lain yang ditawarkan oleh mimpi-mimpi anak manusia yang sebagian harus berakhir .... ah, bahkan saya tak sanggup membayangkannya.
Adalah biro jodoh internasional yang telah mengenalkan Ennie dengan seorang pria warga Belanda, Gez, begitulah namanya disebut. Saat itu tahun 1986, internet belum lagi singgah merangkul tanah air. Hubungan mereka berjalan via klub penpals (semacam klub korespondensi internasional). Lewat video, Ennie melihat sosok pria itu begitu simpatik, gagah, tinggi, kekar, atletis dan gentleman. Beberapa bulan mereka berkorespondensi, berkomunikasi via telepon, serta saling berkirim hadiah, hingga suatu ketika Gez melamar Ennie menjadi istrinya. Menikah dengan seorang pria Bule bisa jadi adalah mimpi bagi sebagian wanita, dan Ennie adalah satu diantaranya. Maka tanpa banyak pertimbangan, dengan modal menjual asset kekayaan hasil usaha yang telah dibangun bertahun-tahun, Ennie terbang ke Amsterdam membawa putra kecil semata wayangnya hasil pernikahan pertamanya yang telah gagal. Merajut mimpi demi melacak jejak surga kehidupan yang selama ini ia cari. Akan tetapi semuanya menguap tak bersisa hanya sedetik setelah Ennie mendapati sosok Gez yang nyatanya benar-benar jauh berbeda dari profil yang dikenal selama ini. Sosok gentleman itu ternyata adalah makhluk pemabuk paling kasar yang terjebak dalam tubuh manusia.
Tiba di Belanda Ennie dan putranya langsung dibawa ke sebuah apartemen, ditodong dengan pistol, putranya dikunci dalam toilet hingga kelaparan dan kedinginan, disekap selama berminggu-minggu, diberi makan sisa remah-remah roti, dihajar hingga babak belur, dipaksa melayani nafsu bejat si durjana dengan membabi buta –maaf- dengan alat-alat aneh scherp en vreemde voorwerpen. Di titik ini saya tidak sanggup lagi melanjutkan berbagai penyiksaan lain yang diterima Ennie dan putranya. Perut saya rasanya seperti diaduk – aduk membayangkan semua kebejatan Gez yang ternyata adalah seorang interniran militer, penipu, pemabuk dan psikopat kronis !! Mengapa profilnya di video yang direkomendasikan biro jodoh internasional itu awalnya tampak begitu simpatik, ganteng dan lembut ?
Walau pada akhirnya Tuhan menolong Ennie untuk bisa kabur dari Gez, trauma penyiksaan berminggu-minggu itu selamanya akan melekat dalam ingatan En dan putranya hingga dewasa.
Kita mungkin bisa belajar dari pengalaman hidup Ennie Van Moorsel Arif, adik kandung Pipiet Senja, salah satu penulis terbaik di tanah air. Kisahnya menjadi warning bagi sebagian dari kita yang selama ini telah dilenakan kemudahan transaksi dunia maya. Memang tidak salah kalau kita bisa menjalin komunikasi dengan banyak orang hingga ujung Tierra del Fuego. Bisa saja lewat myspace atau facebook kita menemukan jodoh yang selama ini dicari. Namun perkenalan lewat chatting, facebook, friendster, myspace, biro jodoh, atau apapun namanya jangan sampai membuat kita bermimpi di siang bolong lalu hilang kewarasan untuk berpikir logis. Sebab bagaimana pun juga, kita harus tetap terjaga dan berpijak pada realita.