Satu lagi Frame Kehidupan

Setengah terkantuk saya membaca pesan singkat itu, “ Mbak nanti masuk enggak?”. Empat patah kata diakhiri tanda tanya. Simple, tapi kemudian membuyarkan gelembung imajinasi yang telah saya rangkai dengan sempurna untuk mengakhiri hari ini dengan indah.

Yah, setelah seharian penuh bergulat dengan nasib, beradu dengan radiasi matahari, pada akhirnya melepuh bersama hari di jelang senja yang ranum. Seperempat jam lagi bedug maghrib. Buka puasa, delapan rakaat tarawih, lalu segera bersua dengan kasur untuk merebahkan rangka tubuh ini. Hmm, sebuah rencana yang sempurna bukan buatan.

Saya bahkan sudah berpikir untuk membatalkan jadwal mengajar  di Rumah Singgah ba'da tarawih. Ego saya terus berbisik, toh tak mengapa kalo Cuma absen sekali.  Lagipula minggu depan kan masih ada waktu. Anak-anak itu pasti bisa mengerti.  Dan kasur di atas tempat tidur reyot itu rasanya bagai singgasana yang kian kuat memancarkan medan magnet di sekitar saya. 

Lalu sms kedua datang , " Mbak Ros, nanti malam masuk kan? ". Akhiran -kan di belakang pesan itu tidak hanya menegaskan pertanyaan pertama,  tetapi sekaligus harapan bahwa orang yang ditanya akan menjawab "iya". Tapi siapa yang bakal tega mengatakan tidak untuk wajah-wajah itu ? Anak-anak yang kala pagi harus bekerja entah sebagai PRT, loper koran, bahkan security, lalu malam harinya masih menyisakan semangat demi mendapat gelar paket C setara SMA. Anak-anak usia 20-an yang secara kurikulum harus mendapatkan Teorema fundamental integral meskipun sampai saat ini saya masih belum tahu bagaimana mengajarkannya untuk membuat mereka tidak "nggumun". Di saat siswa SMA lain bisa duduk nyaman di pagi hari dengan buku-buku berkualitas berstandar Chambridge, mereka harus puas hanya dengan mencatat dari papan tulis. 

Yah, sebuah kelas malam yang lebih sering molor hingga setengah jam demi menggenapkan muridnya menjadi 2 orang. Bahkan tak jarang si pengajar harus rela menjemput siswanya agar mau datang untuk belajar.  Satu lagi frame realita kehidupan. Hukum sebab akibat yang sangat populer,  "kemiskinan dan sulitnya akses pendidikan". Tapi melihat semangat di mata anak-anak itu, menemukan pijar antusias ketika mereka baru tahu bahwa aktivitas belanja di pasar bisa dimanipulasi menjadi model persamaan linear. Saya rasa tak ada seorangpun yang akan  sanggup mengatakan tidak.