Secangkir kasih buat jiwa-jiwa hangat


Kabut masih enggan beranjak dari bumi tempat berpijak pagi ini. Sejuk. Aromanya menembus tiap sudut kegalauan di relung hati. Memecah partikel kelesuan yang mengendap.
Kecuali Sang Maha Hidup, segala sesuatu di hadapan mata tampak tak pasti. Sama tak pastinya dengan nilai kejadian dalam teori probabilitas Blaise Pascal.
Bumi masih merotasikan hari. Langit biru masih membisikkan harapan. Tunas-tunas pakis haji di ujung ruangan ini pun menerbitkan asa di atas seribu luka. Tapi, beri tahu saya tentang episode di ujung senja nanti ? Adakah yang bisa menjamin peri-peri pagi kan kembali ?
Apapun itu, diantara ketidakpastian ini kita masih harus tetap berjalan. Melaju seperti bulan yang setia mengiringi bumi. Jua seperti Colombus yang tak lelah mengarungi Atlantik. Bersama cinta yang selalu ada.
Tak perlu mencarinya hingga ke ujung samudra hingga penat kubaca dalam wajahmu. Sebab dia dekat di sini. Tumbuh dari bibit ketulusan terdalam. Berdifusi dari jiwa-jiwa hangat yang mewarnai sepenggal perjalanan diri. Lalu diproses sehingga menghasilkan secangkir kasih beraroma vanilla persahabatan.



Maka secangkir kasih ini saya persembahkan buat jiwa-jiwa hangat yang telah sudi berbagi. Mba Newsoul trimakasih atas award dan tulisan-tulisan yang selalu menginspirasi, mba Fanda, ijin pasang awardnya di sini yah hehe. Tulisan ini juga saya persembahkan buat jiwa hangat lainnya, Mba Tisti Rabbani dan semua sahabat yang telah sudi berkunjung ke blog ini.