
Dalam ukuran dan proporsinya, setiap unsur di alam semesta teramat bijak dan cerdas dalam memaknai perannya. Coba kita lihat matahari. Ia terus bersedekah memberikan potensi energi yang dimilikinya untuk menjamin kehidupan makhluk lain di sudut – sudut semesta. Tanpa mengeluh, ia terus berproses mereaksikan hidrogen secara fusi untuk menghasilkan atom ringan helium hingga menghasilkan sekumpulan elektron energi. Energi ini lantas dipancarkan ke mana saja sehingga kita, penduduk bumi tetap bisa merasakan hangatnya pagi. (Dapatkah kita bayangkan terbangun di esok hari tanpa ada sinar matahari ? Hanya ada warna malam yang kelam .... membayangkannya saja saya sudah merinding ....).
Lalu mari sejenak kita pandangi bulan di langit malam. Yang hadirnya selalu dinanti, menyiratkan rasa hangat di hati kita. Bulan selalu istiqomah dalam fungsinya sebagai satelit yang mengorbit. Dengan patuh ia mengekor ke manapun planet induknya pergi. Ia terus berusaha memantulkan “kebaikan” matahari. Keteraturan orbital serta cahaya yang ia pantulkan, mampu menjadi penunjuk jalan, arah, serta patokan penanggalan Qamariyah. Posisinya mempengaruhi pula terjadinya pasang surut di permukaan laut. Ketika purnamanya merekah, membentuk diameter yang sempurna, akan banyak hal “istimewa” terjadi. Darah yang naik ke kepala akibat gravitasi akan memunculkan aktivasi kelenjar-kelenjar hipotalamus dan hipofisis. Akibatnya manusia lebih mampu meningkatkan arus impuls dan melahirkan pusaran logika. Pada keluarga cumi-cumi, kondisi ini akan merangsang hormon reproduksi bereaksi lebih intens dibanding momen-momen lain.
“Maka nikmat Tuhan mana yang bisa kita dustakan ?”
Mudah-mudahan kita mampu menjadi seperti matahari yang ikhlas. Serta menjadi seperti bulan yang memantulkan kebaikan. Semoga.
Dikutip dengan sedikit perubahan dari buku karya Dr. Tauhid Nur Azhar&Eman Sulaiman : Ajaib bin Aneh, Jadi insan Segala Tahu (2009).