Une Femme Honorable


Takdir telah mencatatkan duka mendalam pada lembar sejarah Polandia manakala presidennya beserta sang ibu negara wafat dalam sebuah kecelakaan pesawat di langit Rusia beberapa waktu lalu. Catatan tragis ini lalu menggelitik rasa penasaran saya untuk mengenal Polandia lebih dekat.

Sejujurnya memang tidak banyak yang saya tahu tentang negeri di sebelah timur Belarusia ini. Hanya benderanya saja saya hafal yang sejak SD, persis dengan warna bendera NKRI tapi terbalik. That’s all.

Perjalanan di antara labirin-labirin rasa penasaran itu lantas menautkan saya pada sebuah memoar bertajuk “Une Femme Honorable”. Rekam jejak wanita kelahiran Polandia, 7 November 1867 bernama Marie Curie. Spontan ingatan saya melaju pada matrikulasi kelas 1 SMA sepuluh tahun yang lalu, bab Kimia Unsur. Terimakasih Tuhan telah memberikan guru kimia yang sangat brilian hingga saya masih bisa mengingat istilah "kimia unsur" yang terdengar begitu terpelajar dan sangat...buku.

Sebelum pembicaraan ini menyimpang terlampau jauh, saya ingatkan bahwa wanita yang kita bicarakan ini memang sosok yang luar biasa cerdas, tekun dan setia. Peraih nobel fisika tahun 1903 bersama sang suami, Pierre Curie, praksis Marie dan Piere mengabdikan hidupnya secara total pada penelitian tentang radium. Bahkan akibat intensitas pekerjaan keduanya di lab, baik Marie mapupun Pierre tidak sadar telah terimbas efek radiasi yang mematikan. Jari-jari Marie melepuh seperti terbakar, tubuh wanita ini pun menjadi lemah dan sering sakit-sakitan. Mereka tanpa sadar telah menjadi korban dari penemuan mereka sendiri. Sungguh ironis...

Tahun 1906, Pierre Curie meninggal dunia. Marie dilanda duka luar biasa. Duka inilah yang lantas mengilhaminya untuk menuliskan segala kesedihan itu pada lembar-lembar diari yang pada akhirnya diangkat menjadi biografi populer berjudul “Une Femme Honorable”(Wanita yang Mulia).


Going the extra miles... mungkin itulah kata-kata ajaib yang melecutkan bara semangat buat para pejuang hidup termasuk Marie Curie. sambil menyeka duka, ia terus menekuni penelitiannya tentang radium yang kelak akan sangat mempengaruhi kosmos politik dunia.

Tahun 1911, kedua kalinya Marie mendapatkan Nobel untuk keberhasilannya mengisolasi radium kali ini di bidang Kimia, tanpa Pierre...


Mudah-mudahan setangkup kecil biografi ini mampu menginspirasi kita ...