KALA


Hidup adalah sebuah pilihan. Tidak semua pilihan itu mudah. Kita harus menghitung, menimbang ke belakang, meraba masa depan yang masih tertutup kabut. Tapi bukankah itu yang diajarkan nasib ?


Tidak semua bisa memahami keputusan besar yang pada suatu ketika membelokkan peta rencana semula. Ada yang mencibir. Ada yang mengumpat. Ada yang coba membeli passion itu dengan iming-iming financial. Tapi otoritas untuk memilih ada pada pundak kita dengan segala konsekuensinya.


Kita bisa saja memilih untuk tetap berada di dalam tempurung yang sama, dengan jaminan financial cukup ‘stabil’ untuk ukuran orang udik yang tidak neko-neko. Akan tetapi hidup bukan semata masalah materi dan kepuasan raga. Ada kalanya sekam mimpi memantik dalam jiwa dan rindu untuk dinyalakan .


Ketika kita telah menghabiskan puluhan purnama bersama orang-orang terbaik yang mengajari kita banyak hal, tentu adalah hal berat memutuskan untuk pergi. Namun rindu akan dunia di luar sana terlalu lama terpendam dalam kotak mimpi yang telah berkarat. Maka perjalanan untuk mengembalikan mimpi-mimpi itu memang harus dibayar dengan pengorbanan, rasa kehilangan, serta ketidaktahuan akan apa yang akan dihadapi di depan sana.


Hidup bukanlah tentang hasil, akan tetapi tentang proses belajar. Belajar menemukan hal-hal baru yang akan membasuh kerinduan jiwa ini akan makna. Juga tentang pelajaran di setiap jengkal bumi yang dibentangkan-Nya.


Maka demi itulah sebuah keputusan harus ditetapkan. Bukan tentang untung rugi, atau semata-mata tentang materi. Akan tetapi hidup yang Cuma sesaat ini terlalu sia-sia jika tak ditempa dengan pengalaman. Terlalu gersang jika tak disirami dengan hikmah dalam tiap episodenya.