Hobi Fotografi


Seperti menulis, menekuni hobi fotografi ternyata menyenangkan. Bagi saya, ini cara lain menuai bulir-bulir makna dan rasa, karena setiap materi di jagat raya menyimpan hikmah jika kita mau menggali lebih dekat. Dan indah, kalau saja kita bersedia menggeser sudut pandang sebelumnya.

Virus inilah yang menggerayangi hasrat saya untuk terus mengasah kepekaan dari waktu ke waktu. Menajamkan insting, menangkap sudut-sudut hari yang seringkali terabaikan, lalu mengabadikannya dalam sekian ratus pixel gambar. Hehe, amatiran memang, tapi lumayan mengasyikkan.




Potret seorang tukang becak yang tertidur tentu tak pernah semenarik poster bergambar Dian sastrowardoyo yang aduhai dalam baliho iklan sabunnya. Tetapi satu bidikan gambar itu sudah cukup mewakili sosiokultur dan satire realitas kesejahteraan yang menghujam tubuh kurus seorang pejuang hidup. Dia kelelahan, maka ia tertidur. Bisa juga perutnya kosong sehingga ia lebih memilih tidur untuk melupakan demonstrasi sang usus. Dalam juring lingkaran waktu yang lebih luas, batin pun akan bertanya, lalu bagaimana jika ia pulang tanpa selembar rupiah? Bagaimana dengan si kecil yang minta jatah susu? Atau sang isteri yang menuntut dibelikan gincu? Hmmm, dari sini kita hanya diijinkan mengintervensi nasib si tukang becak sebatas dalam kotak imajinasi masing-masing, tidak lebih.




Potret “childhood” barangkali sangat biasa di mata banyak orang. Namun dalam prespektif lain, ini bisa bercerita tentang cermin masa lampau yang berbalut kepolosan sekaligus asa tentang masa depan. Lalu perjalanan itu akan mengantar kita pada kepingan kisah serupa, ketika jiwa belum lagi faham apa itu dosa, ketika bu guru menanyakan apa cita-cita kita, dan waktu belum lagi menyulam usia. Wajah-wajah innocent itu ibarat kertas putih yang beberapa tahun kemudian bisa menjadi merah, biru atau abu-abu tergantung kepada siapa yang mewarnainya.




Apa saja bisa menjadi objek fotografi. Namun setiap karya bakal melahirkan rasa dan sentuhan aura yang berbeda. Sangat intim, sangat personal, bahkan egosentris. Mungkin itulah yang membuat karya lukisan seorang Van Gogh begitu diagungkan, tanpa menafikkan fakta sejarah bahwa ia pernah memotong kupingnya sendiri gara-gara mengidap penyakit gila.




Di zaman serba digital seperti sekarang, saya rasa siapapun bisa bertransformasi menjadi fotografer amatiran. Kapanpun dimanapun. Karena spontanitas adalah salah satu prinsip acuan. Kepekaan sekitar sebagai bumbu katalisator. Dan ilmu sebagai penyempurnanya.

Hmmm, tak usahlah saya berbincang banyak tentang bab ini. Lha wong saya ini Cuma tukang foto jadi-jadian. Jadi mending pamit kabur dulu sebelum ada fotografer professional baca…


Award dari sastra-radio



Award dari de javu