Ketapang - Gilimanuk


Saya mencintai perjalanan, berada dari satu tempat ke tempat lain membentuk prespektif tersendiri bagi saya dalam memandang kehidupan. Kita bisa melihat beragam budaya, bahasa, adat dan kebiasaaan manusia, serta karakter suatu daerah. Buat saya itu menyenangkan, memperkaya diri, mengembangkan pola pikir, dan membunuh rutinitas yang menjemukan. Terkadang saya bermimpi untuk bisa mendapatkan pekerjaan yang memungkinkan untuk melakukan travelling dari daerah satu ke daerah lain seperti Riyanni Djangkaru mungkin…(hehe ngayal !!!). Lalu seorang teman merekomendasikan sebuah profesi yang bisa mengakomodir keinginan saya itu. Terus berkelana dari satu kota ke kota lain, bahkan memiliki otoritas penuh atas sejumlah nasib manusia. Ya, teman saya merekomendasikan saya untuk menjadi kondektur bis.
Perjalanan Madiun-Singaraja yang seharusnya bisa ditempuh dalam kurun kurang lebih 12 jam ternyata jauh melebihi prediksi. Ini karena bis dari Probolinggo menuju Banyuwangi yang mengangkut saya berjalan lambat merayap laksana pawai ta’aruf 1 Muharam, penderitaan terjebak bersama para manusia cerobong asap juga memaksa saya harus meluangkan waktu lebih untuk mengembalikan kewarasan di terminal Ketapang. 
Pukul 10.30 pagi, dengan naik kendaraan omprengan sejenis oplet saya menuju pelabuhan Ketapang. Jaraknya terminal-pelabuhan sebenarnya tidak terlalu jauh, sekitar 2 km, tapi saya harus rela menunggu satu jam lamanya hingga oplet melebihi kurva maksimum bobot angkutan, fiuh molor lagi. 
Saya mengencangkan tali sepatu kets, membenahi ransel butut 10 kg yang bertengger di punggung, sembari menarik nafas dalam-dalam mengkerucutkan mental sebelum naik ke dek kapal. Maklum cuaca Selat Bali bulan ketujuh hingga kesembilan bisa dipastikan tidak begitu bersahabat. Saya naik ke dek atas karena di dalam telah penuh sesak manusia. Bule-bule dari Jerman acuh berfoto ria tak peduli dengan angin yang bertiup cukup kencang. Saya berpegangan erat pada besi tepian kapal dan berdoa agar tidak terlempar ke lautan. Asap hitam karbondioksida dari cerobong kapal berputar-putar menyengat hidung, tidak berapa lama ombak mulai tenang. Saya bahkan mulai bisa melihat makhluk-makhluk anggota filum coelenterata dan porifera melambai-lambai dari bawah air. Berbagai jenis nekton bahari dan ikan-ikan kecil berkejaran di sela-sela antozhoa, indah sekali. 
Di tengah keasyikan saya bercengkerama dengan para penghuni lautan, tiba-tiba seorang pemuda menegur saya, 
“Ombak uda lumayan tenang mbak …” 
“Iya”, pendek saya menjawab.
“Suka Arsenal ya ?” tanyanya melihat kalung handphone saya yang berlogo Arsenal.
“Iya.” Lagi-lagi saya menjawab pendek.
“Sayang musim kemarin kalah lagi sama MU, ada Christiano Ronaldo sih.” Katanya mencoba akrab.
“Oya ?” komentar saya pendek lagi. 
“Napa suka Arsenal ?” Tanya pemuda yang kental dengan logat Bali itu.
“Percaya pada the young gun”. Kilahku. 
Dan percakapan berikutnya masih berkutat pada Liga Inggris dan tujuan perjalanan kami. Tapi anehnya kami samasekali tidak menanyakan nama masing-masing. Sekian titik tanpa koma.

30 menit terombang-ambing di laut, 11.45 siang kapal merapat di Gilimanuk. Akhirnya, Bali, I’m coming!!! Tetapi perjalanan ini belum berakhir, saya bergegas menuju terminal di seberang pelabuhan mencari bis jurusan Singaraja. (to be continued)


Fotografi


























Ini beberapa hasil jeprat-jepret dengan obyek makhluk-makhluk berklorofil di halaman rumah saya yang sempit. Ada spider plant yang menjuntai-juntai, melati belanda yang ternyata mudah dikembangkan di tempat panas, boston ferns alias paku-pakuan favorit saya, mawar yang saya kirain uda tamat umurnya tapi masih mau berbunga, kamboja jepang yang setia menemani 16 tahun dan mekar tanpa mengenal musim, rosela yang juga hidup lagi setelah mati suri, juga anggrek purple titipan tetangga hehehe. Saya ambil dengan kamera SE K750 2.0 Megapixel.

Jejak Perjalanan Menuju Kota Singaraja



Senja telah jauh tergulung langit malam ketika saya melaju di atas bis jurusan Surabaya. Malam hari sengaja saya pilih untuk perjalanan kali ini demi memangkas waktu tempuh. Maklum siang berpeluang besar macet.
Destinasi saya adalah Sririt, Kota Singaraja. Kalo kita membuka peta Pulau Bali maka letak Singaraja ada di ujung utara, ditandai bulatan warna merah dengan noktah hitam di tengahnya, sebagai simbol bahwa ia adalah ibukota kabupaten Buleleng.
3 setengah jam perjalanan Madiun-Surabaya saya sempat terlelap, untungnya suara kondektur bis yang seperti kaleng pecah membangunkan tidur saya yang telah memasuki fase REM (Rapid Eye Movement). Bis tiba di Bungurasih tepat saat adzan subuh berkumandang. Saya turun untuk menunaikan dua rakaat di masjid di seberang terminal.
Sebenarnya ada beberapa alternatif yang bisa dipilih untuk bertolak ke Banyuwangi dari Surabaya. Pilihan pertama, pergi ke stasiun terdekat lalu naik kereta api jurusan Ketapang, tapi saat itu tepat tengah malam, lagipula jadwal KA susah diprediksi. Alternatif kedua, naik bis malam jurusan Singaraja. Sejauh pengetahuan saya hanya ada dua PO yang punya otoritas mengangkut penumpang menyeberangi Selat Bali menuju Singaraja, PO Manggala dan Puspasari. Kelebihan naik bis malam jelas nyaman dan aman sampai tujuan, dan sesuai hukum alam kenyamanan itu tidak bisa dibeli dengan harga murah. Sekitar 120 ribu tarif bis malam Surabaya-Singaraja, dan saya harus realistis karena anggaran financial saya cukup terbatas untuk perjalanan ini, jadi pilihan kedua cukuplah sebatas wacana. Alternatif ketiga naik bis jurusan Muncar langsung nyampe terminal Ketapang, dan terakhir adalah naik bis jurusan Probolinggo. Alternatif terakhir inilah yang saya ambil karena lebih banyak pilihan bis.
Bungurasih dini hari tak ubahnya seperti siang yang redup, ibarat penonton Piala Dunia yang telah meneguk 7 cangkir kopi agar mata tetap terjaga, setengah dipaksakan. Diantara deretan koran dan tabloid yang bertengger di etalase kios tak berkaca, mata saya melirik berita kepindahan Samir Nasri dari Olimpic Marseille ke Arsenal di jendela transfer musim pertama, hehe sayang untuk dilewatkan, maklum saya memang penggemar The Gunners.
Lepas dari Surabaya, bis menembus fajar di Pasuruan. Saya tidak menyangka beberapa bulan setelahnya, nama Pasuruan akan terkenal karena tragedi zakat yang mengenaskan di daerah pinggiran ini.
Memasuki Probolinggo aroma pantai mulai tercium, karena Probolinggo berbatasan langsung dengan Laut Jawa di sebelah utara. Lalu saat matahari telah naik mengembangkan layar episode anak manusia di hari itu, saya harus estafet ke bis jurusan Banyuwangi. Jalanan masih sepi seperti kota yang baru saja membuka mata. Kemudian bis memasuki kabupaten Situbondo. Bagi saya Situbondo ibarat mutiara yang terbungkus lumpur, menunggu investor yang bisa mengeksplorasi kecantikannya yang tersembunyi. Ingat Situbondo, jadi ingat Pasir Putih. Dulu bermacam species kuda laut dan batu karang cantik banyak ditemui disana, ngga tau bagaimana eksistensi mereka sekarang, apakah masih bisa bertahan di tengah habitat yang mulai kronis akibat pencemaran.
Dan ujian sebenarnya dalam perjalanan ini adalah ketika bis memasuki alas Baluran di perbatasan Situbondo-Banyuwangi. Supir mengurangi kecepatan untuk menciduk penumpang semaksimal mungkin walaupun kurva bobot angkutan sudah melebihi batas maksimum. Penumpang masih terus dijejalkan. Bis benar-benar penuh, bahkan lorong antar kursi pun ngga bisa dilewati. Orang-orang berseragam hijau berpangkat kopral memenuhi kendaraan, plus pedagang-pedagang yang juga ingin menyeberang ke Gilimanuk. Di tengah bis yang padat massa, saya terjebak. Sebelah kiri, depan dan belakang saya dengan seenaknya orang-orang itu menyalakan rokok. Ya Tuhan, saya benar-benar terjebak, tak berkutik di tengah kepungan asap rokok. Panas, pengap, bau, seperti ikan yang terpanggang karbonmonoksida. Pembuluh darah saya terasa menyempit, dan saya pengin muntah. Alangkah senangnya kalo saja bisa muntah di depan mereka, hitung-hitung balas jasa atas asap rokok yang mereka sumbangkan pada paru-paru saya. Rasanya antara hidup dan mati. Sungguh manusia-manusia cerobong asap yang merokok di dalam bis, tidak berperi kemanusiaan. Pantas diadili di mahkamah internasional lalu dimasukkan di penjara Azkaban bersama para dementor di buku Harry Potter.
Penyiksaan itu berakhir di terminal Ketapang. Saya turun dan beristirahat sejenak untuk mengembalikan kewarasan saya setelah beberapa jam terjebak oleh kepungan manusia-manusia cerobong asap. Mengisi perut saya yang mulai protes meminta jatah sarapan.
Syukurlah saya bisa bertemu nasi pecel di sana… hehe. Dasar lidah Madiun, ke manapun yang dicari ya nasi pecel walaupun lidah saya telah mati rasa bercampur mual kebanyakan suplai TAR, CO, dan nikotin.
Ya, perjalanan menuju Singaraja masih di seberang mata dan saya harus bersiap mental menghadapi apa lagi yang ada di depan sana. Sampai jumpa di perjalanan berikutnya.

Fenomena Ponari dan Batu Bertuah

Ponari dan Batu bertuah, mengingatkan saya pada buku Harry Potter jilid 1 "Harry Potter and The Sorcerers Stone" hehe... melihat ramainya pemberitaan di media soal Ponari dan batu ajaibnya, benar-benar menggelitik logika saya. Simpul-simpul neuron otak saya seperti kena kejut, terheran-heran, lantas terbengong-bengong. bukan karena kehebatan sang batu yang dibilang orang bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit, tetapi shock menelan pil realita bahwa masyarakat kita masih tunduk pada hal-hal yang menyerempetkan iman pada jurang kesesatan nomor 1 yaitu kesyirikan.
memang masalahnya lebih kompleks dari itu, lemahnya kualitas pelayanan kesehatan bagi rakyat kecil, biaya obat dan dokter yang makin mahal, terbatasnya tenaga medis di pelosok diindikasi menjadi beberapa penyebab mengapa puluhan ribu orang rela mengantre demi mendapat "berkah kesembuhan" batu Ponari.
secara ilmiah jelas belum ada postulat yang membenarkan kesahihan sang batu. tetapi ketika sakit telah bersarang pada diri, berbagai obat telah diminum, puluhan dokter telah di datangi, tetapi penyakit ngga kunjung sembuh, maka kekerdilan imanlah yang pada akhirnya mengantarkan kita pada hal-hal unlogic semacam ini.padahal jelas bahwa sakit adalah ujian, ujian untuk mendekatkan kita pada Sang Pemilik Jiwa kita. Ketika mampu dihadapi dengan sabar, maka imbalannya adalah gugurnya dosa-dosa. maka apakah pantas jika manusia yang kerdil dan lemah menyandarkan hidupnya hanya pada sebutir batu ? Andrea Hirata menyebutnya : Obsesif Kompulsif terhadap batu Ponari. Menggelikan sekaligus mengenaskan.

Catatan Perjalanan


Kali ini bis Sumber Kencono membawa saya ke Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Saya perkirakan perjalanan ini akan memakan waktu kurang lebih 3 jam, hanya selisih sedikit dari jarak tempuh Madiun-Solo. Tapi ternyata kalkulasi saya salah besar, nilai galat perhitungan waktu saya meleset jauh dari kenyataan. 
Melewati RS Muwardi, saya berhenti di Tirtomoyo untuk berganti bis kecil jurusan Bulu-Kelir. Wahyu Putro, nama bis itu, membawa saya dengan laju tak lebih dari 30 km/jam lambat merayap laksana pawai 17 Agustus, melalui sudut-sudut kota Solo di siang hari yang padat pemukiman. Tak jauh berbeda dengan Madiun, sepanjang jalan dipenuhi gambar-gambar anak manusia yang ingin duduk di kursi wakil rakyat, apalagi saat itu bersamaan dengan Mukernas PDI-P yang bertempat di The Sunan Hotel. Aroma pemilu makin terasa tajam siang itu.
Tujuan saya adalah desa Gentan, Kecamatan Bulu, kediaman sahabat saya, sekaligus untuk berziarah ke makam ibunya yang meninggal beberapa waktu lalu. 
Lepas dari kota Solo memasuki kabupaten Sukoharjo, sawah-sawah hijau muda dengan ujung keemasan terbentang, mengingatkan saya bahwa masyarakat sekitar masih menyandarkan hidupnya pada pertanian. Bis mulai meningkatkan kecepatan, mungkin karena sadar tidak ada penumpang yang bisa diangkut di jalur itu. Suara Koes Plus bersaudara masih setia mengalun dari tape recorder karatan yang terletak di dekat sang supir bis. Saya sempat khawatir karena di depan saya melihat tulisan besar tertera “Selamat Datang di Kabupaten Wonogiri”. Apakah saya sudah terlewat ? Maklum ini kali pertama saya ke sana hanya berbekal petunjuk alamat dari sms. Ternyata jalur bis untuk menuju Kecamatan Bulu memang harus melewati Wonogiri terlebih dahulu, lalu memutar ke barat ke arah Kelir.
Turun dari bis, hawa sejuk perbukitan berhembus menjemput wajah saya. Tepat 5 jam perjalanan di atas bis dari Madiun hingga Bulu Sukoharjo, persis jarak tempuh Madiun-Jogja. Dengan berjalan kaki saya melewati rumah-rumah peduduk yang sangat sederhana di kelilingi hutan jati. Jalanan sangat sepi meski jam menunjukkan angka 11.16 siang. Saya bahkan bisa mendengar desis suara serangga dari pohon-pohon jati di sekeliling saya. Kurang lebih 1 kilometer saya berjalan hingga bertemu sahabat saya tepat di depan pemakaman. Tanah pekuburan masih basah karena hujan semalam, dan bunga mawar yang ditaburkan di atasnya belum lagi kering. Untuk sejenak saya memunajatkan doa untuk sang penghuni kubur, ibunda dari sahabat saya tercinta.
Dia masih sama seperti dahulu, masih mahasiswa UNS semester 10 yang pending skripsi gara-gara proposal ditolak DP II. Hanya bapaknya yang tampak lebih tua dan lelah, maklumlah terakhir kali bertemu beliau 6 tahun yang lalu. Kesedihan telah kehilangan istri tercinta terlihat dari sorot mata dan bias wajah beliau yang sederhana. Saya menyesal tidak bersilaturrahim lebih awal sebelum musibah ini terjadi. Tapi apa mau dikata, semua sudah terlambat. 
Jadwal mengajar kelas malam  tidak memungkinkan saya untuk berlama-lama. 14.30 saya pamit pulang. Bis “Wahyu Putro” yang kembali mengangkut saya melaju lebih cepat daripada perjalanan berangkat tadi. Dan untuk kedua kalinya hari ini, kecelakaan sepeda motor kembali terjadi di depan mata saya. Darah berceceran, membuat perut saya langsung mual pingin muntah. Memang ada phobia tersendiri dengan cairan berwarna merah itu. Pelajaran moral no 17. Buat semuanya saja, hati-hati benar kalo naik sepeda motor, ini peringatan!
Hujan deras kembali mewarnai perjalanan kali ini. Saya mengambil headset dan menemukan frekuensi radio anak Solo yang bahasanya sudah “loe-gue”… benar-benar ngga mau kalah sama ibukota. 
Menjauhi kota Solo, hujan semakin deras membuat pemandangan luar dari jendela bis tampak kabur tetapi tidak menyurutkan semangat pengamen bisu yang mencoba bernyanyi atau lebih tepatnya berteriak terbata-bata di depan saya. Tuhan, lidah saya kelu melihatnya. Potret lain dari jahatnya kemiskinan. 
“Dear God” yang dinyanyikan Avanged sevenfold mengalun pelan, membawa ingatan saya pada kepingan-kepingan hikmah yang harusnya mampu saya tangkap dari perjalanan ini. Hidup, nasib, dan kematian semua ada yang berkuasa mengaturnya, dan kita hanya bisa pasrah.  



Serenada Kereta Senja


Jam digital di Sony Ericsson saya menunjukkan angka 15.46. Kereta Pasundan itu datang tepat waktu, bisa dibilang sesuatu yang jarang terjadi pada jadwal kereta kelas ekonomi. Rencana awalnya, dari stasiun Lempuyangan, saya dan sahabat saya akan naik Pramex turun di Solo Balapan, lalu menggunakan bis untuk menuju Madiun. Tapi beruntung ada kereta Pasundan jurusan Madiun yang jadwalnya hampir bersamaan dengan Pramex. Dan untungnya lagi, baru beberapa menit di atas kereta yang penuh anak manusia, hujan turun dengan deras. Paling tidak kami ngga harus kehujanan di halte bis seperti rencana kami awalnya.
Dari stasiun satu ke stasiun berikutnya, penumpang turun dan naik silih berganti. Sampai akhirnya kami mendapatkan tempat duduk yang cukup nyaman tepat di samping jendela yang bingkainya uda berkarat dengan kaca yang tak lagi utuh. Sahabat saya tampak asyik bercakap-cakap dengan ibu paruh baya yang duduk di sebelahnya, tipikal wanita yang sanggup menghabiskan waktu seharian hanya untuk shopping …(hehe.. habis kelihatan dari 4 tas belanjaan berisi kain dan sandal yang diburunya dari Beringharjo ).  
Saya memilih mengeluarkan Maryamah Karpov dari ransel butut di pangkuan saya. Menekuni lembar demi lembar perjalanan Ikal sambil sesekali melihat ke arah luar jendela. Gradasi langit tak begitu kontras senja ini, hanya warna putih pucat yang menyisakan gerimis yang tidak mempedulikan tubuh-tubuh basah kedinginan para pengadu nasib. 
Sementara itu pedagang-pedagang asongan terus berseliweran ngga kenal lelah, melompat dari gerbong satu ke gerbong berikutnya seperti arus kendaraan  saat mudik lebaran, rame. Menawarkan dagangan dengan semangat 45, seperti penjual aqua yang masih juga kekeh menawari saya minuman itu untuk kali ke-11 sejak saya duduk di kereta meskipun saya telah mengatakan tidak juga untuk ke-11 kalinya.
Kadang kemiskinan membuat orang menjadi sangat kreatif. Seperti halnya profesi-profesi yang berkantor di atas kereta ini. Mulai dari pedagang minuman sampai pedagang alat pijat, pengamen yang lebih mirip preman sedang memalak korbannya, lalu ada juga profesi penjaja jasa sapu gerbong yang memang sudah dipenuhi bungkus sampah makanan sampai-sampai kereta ekonomi ini menciptakan ekosistem tersendiri bagi semut, lalat, kocoa, dan makhluk bersayap lainnya (thank God saya belum pernah ketemu tikus selama pengalaman naik kereta). Kemudian ada juga orang yang tiba –tiba menyemprotkan cairan dari botol bertuliskan Bayfresh ke muka kita lalu menodongkan tangan minta bayaran. Kereta Ekonomi jurusan Surabaya-Madiun jauh lebih "angker", kalo ada pengamen yang genjrang-genjreng lalu kita pura-pura tidur, jangan harap mereka bakal berlalu begitu saja. Frekuensi nada suara mereka yang minor-tenor justru bakal makin ditinggikan. Sebuah intervensi terhadap kenyamanan penumpang yang teramat santun. Benar-benar orang-orang ini jeli melihat peluang sekecil apapun untuk mendapatkan sekeping receh demi bertahan hidup. Sementara di sudut lain yang hangat, bapak-bapak berdasi yang memanggul amanah besar nasib rakyat tertidur nyenyak di atas kasur busa hotel bintang lima setelah kekenyangan menikmati jamuan dinner dengan orang-orang yang ingin memuluskan proyek illegal mereka. 
   



Mencintai Trigonometri


Saya masih ingat betul bagaimana saya begitu membenci materi pelajaran yang satu ini di kelas 2 SMA dulu. Trigonometri yang dipenuhi pengembangan rumus-rumus, dalil pembuktian, dan aplikasinya dalam teorema limit maupun kalkulus integral benar-benar bikin kepala saya rasanya berpindah dari tempat yang semestinya. Di mata kuliah trigonometri semester 1 pun saya belum juga menemukan intisari trigonometri, dan dengan lapang dada saya menerima predikat nilai c yang dihadiahkan dosen saya tercinta.
Kemudian ujian sebenarnya itupun dimulai. Saya harus membimbing siswa kelas 2 SMA yang kebetulan menanyakan tugas sekolah tentang trigonometri. Satu jam saya tidak berkutik. Bisa membayangkan apa yang saya rasakan saat itu ? Rasanya ada mercon 46, 7 kg yang meletus di kaki saya yang bisa bikin tubuh saya terlempar jutaan tahun cahaya dari bumi…..weks!!!
Yang jadi keprihatinan disini siswa yang saya ajar tadi notabene adalah adik kelas saya satu almamater, guru matematika yang mengajarnya secara kebetulan yang aneh adalah guru saya juga, dan soal trigonometri yang dibawanya adalah soal yang sama pernah diberikan kepada saya waktu sekolah dulu, dan saya masih belum juga mampu menaklukkan soal itu hingga jelang beberapa tahun berikutnya. Memalukan memang … hiks!!!
Sejak detik itu ekspedisi saya menjelajahi dunia trigonometri dimulai. Menyelami ilmu yang dikembangkan oleh Hiparcus dari Alexandria 2200 tahun lalu ini ternyata begitu mempesona. Ternyata ribuan tahun lalu bangsa Yunani telah mengenal aplikasi perhitungan trigonometri untuk menghitung panjang lintasan orbit yang dilewati bintang-bintang. Lalu kemudian ilmu yang menawan ini terus berkembang secara luar biasa. Adalah Abul Wafa Muhammad Ibn Muhammad Ibn Yahya Ibn Ismail al-Buzjani (940 M), seorang ilmuwan Muslim yang meletakkan dasar-dasar teori relatif segitiga parabola dan mengembangkan hubungan sinus dan formula 2 sin2 (a/2) = 1 - cos a dan juga sin a = 2 sin (a/2) cos (a/2) yang akhirnya menghasilkan berbagai penjabaran sudut ganda, penjumlahan dan pengurangan dua sudut dalam perbandingan sisi-sisi segitiga, aturan perkalian sinus kosinus dan tangen. Intisari lain dalam trigonometri adalah konsep kuadran yang secara misterius membagi lingkaran 360 derajat ke dalam empat daerah dengan sudut siku-siku  yang kongruen tetapi memiliki nilai positif negatif perbandingan segitiga yang berbeda.
Kalo saya boleh sedikit membagi sedikit kunci menguasai Trigonometri SMA buat adik-adik di sekolah, yaitu dengan memahami konsep kuadran dengan menggunakan diagram. Memahami dimana letak negatif/positif sinus, cosinus, dan juga tangen dalam kuadran tersebut. Lalu menguasai rumus sudut ganda untuk sin dan cos karena kedua jenis rumus ini bakal sering dipake untuk penyelesaian limit trigonometri. Selain itu beberapa rumus penjumlahan/pengurangan sinus maupun kosinus karena rumus ini akan bermanfaat dalam penyelesaian soal-soal integral dan diferensial trigonometri. 
Sekarang, melihat murid-murid saya menderita mengerjakan soal-soal trigonometri, rasanya pengin tersenyum penuh kemenangan, menikmati indahnya pembalasan dendam….(jahat ya ? hehe..).


Kultus Seragam

Di saat krisis global memberi efek negatif terhadap pergerakan sektor ekonomi dan menyebabkan PHK jutaan karyawan di skala domestik maupun internasional, dunia pendidikan tetap menyediakan lapangan kerja yang abadi. Khususnya sektor pendidikan nonformal. Sayang sekali kebanyakan dari kita lebih memburu sesuatu yang “kasat mata”, atau terus terang saya menyebutnya “SK dan seragam”. Maklum, kultur masyarakat kita masih terjebak pada pola kuno bahwa pegawai instansi dengan seragam yang menempel di anggota badan memberi kesan prestise lebih, paling tidak di depan mereka yang bukan pegawai kantoran.
Sebagai contoh nyata adalah teman saya sendiri yang notabene produk kampus dan saya anggap punya pemikiran lebih maju satu digit dibanding yang lain. Seringkali dia menyindir saya untuk segera mencari pekerjaan. “Maaf ??....” Tentu saja saya bingung dengan maksud kata-katanya mencari pekerjaan. Dalam definisi saya, bekerja adalah ketika kita mampu menghasilkan materi dalam hal ini uang, dengan kemampuan, keahlian, kecakapan yang kita punya di suatu bidang, entah itu berupa produk barang atau jasa (dengan usaha-usaha yang halal tentunya). Dan seingat saya, sudah sejak lima tahun lalu saya melakukannya (yaitu sejak saya masih kuliah di semester 3), dengan menjadi tutor matematika anak-anak sekolah, baik sebagai tutor lepas maupun di bimbingan belajar.
Ternyata dalam bingkai pemikiran teman saya tadi, yang dia anggap bekerja adalah ketika seseorang sudah bernaung di satu instansi resmi, memakai seragam (lebih bagus lagi kalo seragam PNS), dan punya SK. Ngga peduli walaupun harus menempuh jarak puluhan kilo setiap hari dengan honor yang kadangkala hanya sebanding dengan 1 liter bensin dikali 10 tiap bulannya, yang penting uda pake seragam dan namanya tercantum dalam database pemerintah, selanjutnya tinggal nunggu pengangkatan. Itu baru namanya kerja versi teman saya. Hhmmm, Paradoks. (catatan : tentu yang saya maksud disini bukanlah beliau-beliau yang memang secara tulus mengabdikan diri untuk pendidikan di pelosok lho…)
Saya lalu membandingkan dengan kawan-kawan blogger yang hanya dengan duduk di depan computer, kadang berkantor hanya di warnet, tanpa pake atribut kebesaran bernama “seragam”, dan tidak bernaung pada instansi manapun, tetapi mampu menghasilkan ratusan dollar per bulannya. Paradoks jilid dua.
Lagi-lagi kita dihadapkan dengan stigma yang telah menjelma menjadi kultur. Sebuah pandangan kuno ala masyarakat tradisional yang mengkultuskan seragam sebagai simbol prestise keagungan.
Padahal kalo kita mau membuka paradigma kita lebih luas, lihat saja bagaimana Purdi E. Chandra mengembangkan Primagama hingga menjadi bisnis multi frenchise di lebih dari 106 kota yang menghasilkan 70 milyar per tahun. Juga Ir. Ciputra, sang begawan properti yang rela meninggalkan zona nyamannya untuk membangun bisnis real estate yang sangat berpengaruh di Indonesia. Mereka memulai dari nol, dan tanpa seragam.
Saya tidak bisa menyalahkan sepenuhnya mereka yang beranggapan bahwa kerja kantoran adalah kerja yang paling ideal bagi seorang yang bergelar sajana. Itu adalah produk berpikir yang telah mendarah daging ditanamkan keluarga, masyarakat, dan televisi.
Saya kira intinya adalah sekali lagi mengubah paradigma terhadap definisi bekerja itu sendiri. Berapa banyak para sarjana kita yang berpredikat cumlaude menganggur bertahun-tahun menunggu tes CPNS yang ngga jelas proses rekrutmennya, dan malu untuk memulai berwiraswasta. Bukankah seharusnya kaum intelektual mampu menciptakan lapangan kerja? Bukannya mencari kerja?
Sebenarnya kalo kita jeli, banyak peluang usaha yang mampu menghasilkan rupiah. Kuncinya adalah peka terhadap sekitar, kalkulasikan antara kemampuan dengan usaha yang akan dijalani, senantiasa belajar, tidak malu untuk memulai dan menghilangkan kultus terhadap seragam.

Lelaki Subuh

Mungkin inilah hikmahnya dapat jadwal siaran pagi hari. Berangkat subuh-subuh dengan kondisi udara sekitar 15 derajat celcius, di bawah bayang-bayang halimun yang masih menyelimuti jalanan. Tapi di situlah nilai lebihnya, saya bisa melihat kehidupan lain yang tidak akan dapat saya temui ketika matahari beranjak tinggi. Suasana yang masih lengang justru menarik saya untuk mengamati gerak-gerik manusia yang saya temui di sepanjang jalan. Pedagang sayur, merekalah pihak-pihak yang menguasai jalanan di pagi buta. Dan mereka selalu diburu waktu, itulah kesan yang saya tangkap tiap kali berpapasan dengan profesi itu.
Lalu saya selalu berpapasan dengan laki-laki ini, seorang pria paruh baya yang saya perkirakan usianya seumuran dengan proklamasi kemerdekaan RI pertama kali. Rapi dan bersahaja, begitulah impression yang melekat pada tubuh ringkih itu. Dengan sehelai baju batik lengan panjang, celana kain dan sandal jepit, potongan rambut warna keputihan yang tersisir rapi ke belakang, serta tas bahu di lengan kanan. Laki-laki itu selalu berjalan kaki ke barat, satu arah mata angin dengan saya. Saya menyebutnya lelaki subuh.
Saya tidak pernah tahu sudah berapa kilo dia berjalan kaki dari rumahnya dan kemana tempat yang ia tuju. Setiap pagi tiap kali saya berpapasan dengan lelaki subuh, otak saya selalu sibuk merangkaikan kemungkinan-kemungkinan tentang pekerjaan apa yang dilakukan bapak paruh baya ini. Dimana dia tinggal ? Apakah dia memiliki anak? Apa mungkin anaknya seumuran dengan saya ? mengapa dia selalu berjalan tertunduk? Apakah dia seorang kuli di pasar besar Madiun ? Rasanya peluangnya kecil karena pakaiannya cukup rapi untuk ukuran seorang kuli pasar. Tidak mungkin juga dia pedagang sayur karena dia tak membawa barang dagangan apapun selain tas kecil di bahunya. Di sepanjang perjalanan saya mencoba mengkalkulasi berbagai probabilitas profesi yang mungkin dilakukannya.
Beberapa minggu terakhir ini saya tak melihatnya. Sudah pekan kelima, dan itu artinya satu bulan lebih saya tidak berpapasan dengan lelaki subuh itu. Entah apa yang terjadi. Saya pernah sekali melihatnya mengayuh sepeda jengki tua warna biru. Apa mungkin sekarang dia berangkat dengan naik sepeda ? saya berusaha berangkat lebih awal, tapi saya tidak juga menjumpainya. Saya coba mengurangi kecepatan dan berusaha tidak melewatkan setiap pejalan kaki yang saya lewati, tetapi nihil, dia tidak ada. Lelaki subuh seperti hilang tertelan kabut.
Siapapun dia, lelaki subuh itu telah menjadi salah satu cerita yang membingkai perjalanan pagi saya antara rumah dan studio. Dia menjadi potret tentang hidup. Potret prjuangan lelaki tua yang mengajarkan saya tentang berharganya masa muda. Dirinya ibarat cermin pribadi tangguh yang tak mau dikalahkan oleh senja. Lelaki subuh telah memberi saya pelajaran hidup meski saya tak pernah mengenalnya.

Penelitian Tindakan Kelas

Sejak para guru berlomba-lomba mendapatkan sertifikasi sebagai bentuk bukti profesionalitas mengajar, PENELITIAN TINDAKAN KELAS atau yang lebih dikenal dengan PTK jadi makin popular aja. Sebab untuk mendapatkan kredit poin untuk sertifikasi, para guru diharuskan bikin penelitian, dan model penelitian yang dianggap paling sesuai dengan proses belajar mengajar adalah PTK ini.
Berhubung skripsi saya tahun lalu menggunakan metode PTK, dan kebetulan banyak sekali kenalan yang bertanya tentang metode ini, maka mudah-mudahan sedikit tulisan ini bisa membantu.
Classroom Action Research atau PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK) adalah bentuk penelitian reflektif yang dilakukan oleh pendidik terhadap kurikulum, pengembangan sekolah, peningkatan prestasi belajar, dan sebagainya (Mcniff seperti dikutip oleh Supardi 2006:102). Lebih jauh dirumuskan bahwa PTK adalah suatu pendekatan untuk meningkatkan pendidikan dengan melakukan perubahan ke arah perbaikan terhadap hasil pendidikan dan pembelajaran.
PTK umumnya dilakukan dalam beberapa siklus. Beberapa ahli mengemukakan pendapat yang sedikit berbeda tetapi secara garis besar ada 4 tahapan yang lazim dilalui dalam satu siklus yaitu : (1) Perencanaan (2) Pelaksanaan (3) Pengamatan dan (4) Refleksi.
Pada tahap perencanaan, peneliti melakukan identifikasi masalah. Setiap hari mengajar siswa, peneliti dalam hal ini guru tentu banyak menemui kasus di dalam kelas yang membutuhkan penanganan lebih lanjut. Pemahaman konsep siswa yang lemah, cara belajar yang cenderung menghafal bukan memahami, tingkat konsentrasi yang lemah, beberapa hal ini bias diangkat menjadi variable penelitian. Selain itu pada tahapan perencanaan, peneliti juga merancang model pembelajaran apa yang akan digunakan untuk menguji variable. Saat ini banyak sekali model pembelajaran yang bisa dipilih, misal model Ketrampilan Proses, Pembelajaran Kontekstual, Pembelajaran dengan Tutor Sebaya, Mind Mapping, dan lain-lain. Tentu disiapkan pula skenario pembelajaran yang akan dilakukan beserta perangkat yang mungkin dibutuhkan untuk mendukung model pembelajaran. Instrument penelitian yang akan dipakai seperti RPP, checklist, angket untuk siswa, kamera/video dan postes hendaknya dipersiapkan sebaik mungkin.
Tahap kedua adalah pelaksanaan tindakan. Setelah merumuskan masalah dan menentukan model pembelajaran beserta skenarionya, peneliti dapat memulai pelaksanaan pengajaran sesuai skenario yang telah dibuat.
Tahap ketiga, Pengamatan. Alangkah baiknya apabila pada saat pelaksanaan tindakan berlangsung (pada tahap kedua), peneliti dibantu pihak lain (guru lain) yang bertindak sebagai pengamat. Pengamat bertugas mengamati variable-variabel yang diidentifikasi dalam perumusan masalah. Untuk itu peneliti perlu membuat instrument berupa checklist yang bias diisi oleh pengamat. Hasil checklist inilah yang nantinya akan dianalisis untuk mendapatkan gambaran selama pelaksanaan tindakan berlangsung. Pengamat juga bias mendokumentasikan jalannya proses pembelajaran dengan menggunakan kamera/ video.
Tahap keempat Refleksi. Setelah kita mendapatkan hasil dari pengamatan pelaksanaan tindakan, kita akan mengolah data-data tersebut dari data kualitatif menjadi kuantitatif. Dari hasil checklist misalnya, apakah siswa antusias dengan model pembelajaran yang kita laksanakan ? berapa orang yang tampak memperhatikan dengan serius, berapa yang antusias bertanya, berapa orang yang membuat gaduh dan sebagainya. Kemudian hasil postes, dari beberapa soal yang kita teskan, berapa siswa yang tuntas, berapa yang tidak tuntas ? Semua itu dapat kita ukur dalam bentuk prosentase. Dari hasil pengolahan data, kita lakukan refleksi, apa saja yang perlu dibenahi untuk pelaksanaan PTK silklus II. Dengan model pembelajaran yang sama tetapi dengan perbaikan sana-sini, tentunya diharapkan hasilnya akan mengalami progress yang positive dibandingkan siklus I.
PTK biasanya dilaksanakan dalam beberapa siklus. Semakin banyak siklus semakin baik, karena tiap siklusnya harus ada perbaikan kualitas pembelajaran sehingga hasil yang diharapkan pun akan semakin meningkat prosentasenya baik dalam segi nilai siswa, tingkat keaktifan, pemahaman terhadap konsep, dll sesuai variable yang diteliti. Jangan lupa untuk mengukur hasil pengamatan tiap siklus dengan prosentase, jadi kita nantinya bisa mengetahui efektivitas model pembelajaran yang kita terapkan dalam penelitian lewat perkembangan prosentase hasil pengamatan dari tiap siklus.
Demikian, mudah-mudahan bermanfaat.


Puisi Anak Ibu

Ibu, aku tidak tahu bagaimana harus kuungkapkan cintaku
Karena kau tahu anakmu ini sama sekali ngga romantis
Gurat-gurat usia pada wajahmu,
Memancarkan keletihan meski kau tak pernah mengatakannya
Kau bukanlah Hillary Rodham Clinton yang ahli politik,
Kau juga bukan Professor Suharsimi Arikunto yang ahli pendidikan
Tubuhmu juga tidak jenjang seperti Cathrine Wilson,
Tapi bagiku kau adalah samudra ilmu
Tempatku berguru tentang kesabaran
Tentang kesederhanaan
Tentang kesetiaan
Cintamu hangat, sehangat sinar mentari di musim dingin
Tawamu elok, seelok Keukenhoff di bulan Maret
Suaramu merdu, semerdu untaian doa yang kaulantunkan untukku di penghujung malam
Ibu,
Harta aku tak punya
Cintaku pun hanya ala kadarnya
Tapi aku pengin bilang : you’re the best I ever had

Selamat Hari Ibu buat para Ibu di seluruh dunia
Kalian adalah yang terhebat !!!

The Way I aM


It’s been 23 years … He gives me chance to breath...What a long journey. It’s not a quite short time to do something in this life. I realize, I’m just an ordinary person who keep on trying to be someone.
The times goes by, and we never could coming back to the past even sometimes we really want to, just for fix everything. Unfortunetly this is so impossible. All that we can do just face the future and learning from the past experiences. Sadness and happiness are part of our life. And no one said that life is easy. Too many frictions, too many choices and every choice has concequency, I know that.
And the choice had brought me here. Being “someone” who I wanted to be. Even sometimes I’m afraid, afraid that people cannot accept me the way I am. But I cannot escape forever right ? I see if I wear a mask maybe I can fool the world, but I cannot fool my heart. I realize that running isn’t the solution and I don’ t want to be a loser anymore. I must be strong, I must be brave, coz there’s nothing wrong here. This is me, my Mom and Dad’s daughter.
I beg for apologize to all my brothers and sisters who felt that I have disappoint them because I’ve choose my own way. And you don’t have to question me about my faith because only Allah SWT, The One who knows what is deep down my heart.

(presented to my beloved sisters : SGM without JunioR, Diciprati, and DiVi my big “uteng”)

Geo corner : TEMPAT PALING SELATAN DI DUNIA


Anda mungkin pernah bertanya-tanya di manakah tempat paling selatan di bumi ini ? Tierra del fuego adalah salah satu tempat paling indah sekaligus paling terpencil di bumi. Hutan yang hampir punah ini terbentang di ujung Amerika Selatan, tepatnya di perbatasan Chile dan Argentina ( Diego Maradonna pasti sering maen ke sana hehe …!!). Yuuup, Disinilah terdapat hutan paling tua dan paling selatan di dunia.
Tierra del Fuego tertutup hutan belantara seluas 1000 mil persegi atau sekitar 2600 km persegi. Meski rata – rata pepohonannya berumur sekitar 200 tahun, tapi tinggi pohon - pohon ini ngga lebih tinggi dari 60 kaki (18 meter). Yah karena keganasan iklim gitu. 10 tahun lalu masa depan kawasan tersebut masih dipertanyakan ketika banyak perusahaan manufactur ingin membuat proyek penebangan berskala besar untuk mengeruk hasil hutannya. Namun rencana tersebut tidak berhasil terlaksana dan hak atas tanahnya diambil alih oleh Goldman Sachs, bank investasi di New York dan Wildlife Conservation Society. Kedua perusahaan ini memutuskan untuk melestarikan Tierra del Fuego demi generasi mendatang. Mulia banget ya…!!! Go Green ….
(sumber : Jawapos)

KOMPETISI BLOG 2008...?


Barusan saya baca pesen dari Bayu Mukti kalo ada kompetisi blog. Telkom yang ngadain. asyik banget nih kayaknya, cuman karena saya pemula pastilah masih "nggratul-nggratul" (apa coba?...) dalam melangkah. tapi anyway by the way busaway napa ngga dicoba aja. buat kamu-kamu yg pngin nyoba juga mampir aja deh ke http://www.kompetisiblog.com key, goodluck buat saya sendiri hihihihi

THE PURSUIT OF A DREAM


I believe that everyone has a dream. You and me and all of us. But as the time goes by, many dreams are becoming true and some of them are fail, just like the leaves that fell in the autumn.
However I’m kind a person that truly believe in a dream. I also believe that every dream are supposed to be real if we fighting for it. There’s nothing impossible in this world. The Newton’s postulat said, “… to every action, there’s always an equal and opposite or contrary reaction…” . So, if we try with all the best we could, and never give up on it, I’m sure the result will be equal with all that we’ve done.
The popular law of attraction which is explained by Rhonda Byrne in her book “The Secret” said, every little things that comes in to our life are attracted by our own self. And all that things are attracted to us because of our imagination we keep in our mind. By what we think. Then Rhonda said no matter who you are, or where ever you stand, the law of attraction structure our life experience, and this law work by our mind. Mind power, the power to see positive side for everything that happen, and the principle will lead us to our dream. Napoleon said that our brain is surrouded by a kind of magnets with a complex system, and the magnets will attract all of power, people, and condition that harmonious with our mind.
The point is about positive thinking. Believe that everything will be done just like we think. This positive thinking will spread positive energy that give us more power to face the difficult ways outside there, and finally guide us to our dream.
I realize that sometimes anything happen out of our expectations. But once again we have to keep positive thinking. We never know what is His plan for us. He never sleeps, He know, He heard, He watches all the things we’ve done. Sometimes He gave us hard rain and storm just to show us the beauty of rainbow. So, for every dreamer out of there, believe that you can be the way you want. Keep on fighting and spirit !!!

When you want it the most there’s no easy way out
When you ready to go and your heart left in doubt
Don’t give up on your faith
Love comes to those who believe it
And that’s the way it is
- Celine Dion –

KEKUATAN MENULIS

Saya begitu terinspirasi oleh buku QUANTUM WRITING. Ibarat quantum, energi yang diberikan penulisnya lewat kata-kata dalam buku ini begitu powerfull seperti pancaran cahaya yang amat dahsyat.
“Menulis adalah salah satu cara melakukan perjalanan batin”. Ya, mungkin itulah salah satu alasan saya membuat blog ini.
Saya ingat akan kisah seorang gadis kecil dan diarinya. Setiap hari sepulang sekolah tak lupa ia menulis dalam buku diari birunya, membiarkan tangan mungilnya terus bergerak meninggalkan jejak-jejak coretan. Laksana Claude Monet, dengan lihai ia menarikan kuasnya di atas kanvas diari. Menuangkan cerita-cerita tentang sekolah, tentang mimpi, harapan, tangis, tentang cinta. Lalu ketika sang gadis sudah beranjak dewasa, saat “waktu adalah uang” sudah menjadi slogan hidup, tak ada lagi cerita untuk dibaca, dan buku diari itu hanya menjadi penghuni box kayu di bawah tempat tidur. Tak tersentuh lagi.

Mungkin gadis kecil itu adalah saya, mungkin juga anda. Lihatlah betapa sering kita menertawakan kegiatan menulis diari sebagai ritual anak ingusan yang ngga punya kerjaan. Padahal lewat catatan harian, pengalaman itu distrukturkan, dikristalkan dan diberi karakter diri. Luar biasa.
Tanpa tulisan-tulisan dalam memoarnya, kita ngga akan pernah tahu kalo di hari kematian Hasan Al Banna, menyusul penembakan misterius dengan luka yang masih bias diobati, pihak rumah sakit membiarkan tokoh kharismatik ini terkapar tanpa pertolongan.
Lewat buku harian pula, Anne Frank, gadis 13 tahun keturunan Yahudi berkewarganegaraan Jerman mengisahkan pelarian bersama keluarganya dari kejaran tentara Nazi. Sampai akhirnya Nazi berhasil membawa mereka ke kamp konsentrasi hingga Anne meninggal dunia. Kemudian pada tahun 1947 buku harian Anne diterbitkan dan menjadi salah satu buku yang paling banyak dicetak dan diterjemahkan.
Anda mungkin salah satu penggemar Soe Hok Gie. Seorang aktivis muda sekaligus pendaki gunung tangguh yang tumbuh di tengah keluarga Tiong Hoa yang sederhana. Pemikirannya yang kritis, tulisan-tulisannya yang menggigit , tajam dan seringkali sinis. Cerita tentang akhir hidupnya yang berakhir tragis di Puncak Semeru 1969 bisa anda selami dalam Catatan Harian Seorang Demonstran.

Kisah-kisah besar seringkali berawal dari yang kecil dan sederhana. Siapa tahu suatu saat kita bakal jadi orang terkenal, lumayan kan kalo biografi kita bias dijual…
Rosi Atmaja, The Biography ..hihihi…misal lho…ngayal ga papa kan ;-p ?

Fatima Mernisi, seorang penulis wanita kelahiran Maroko menyatakan, bahwa menulis jauh lebih baik daripada operasi pengencangan kulit wajah. Ini didukung oleh sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa menulis meningkatkan aktivitas sel, sehingga dengan menulis setiap hari akan membuat kulit kita menjadi segar kembali. Apalagi kalo kita bias melepaskan perasaan emosional kita lewat tulisan, itu bakal memberikan kepuasaan dan perasaan lega. Menghasilkan suasana hati yang lebih baik, pandangan yang lebih positif dan tentu saja ini bakal berimbas pada kesehatan fisik kita. Mengeksplorasi pikiran dan perasaan terdalam lewat tulisan memang sih bukan obat yang bias mengobati segalanya, tapi paling engga menulis akan menolong kita untuk memberikan sedikit jarak dan perspektif dalam kehidupan. Ciiee, bahasanya koq makin filosofis gini… belajar dari Pluto, eh, Plato ;-)

Maka dari sini saya mengajak anda, juga diri saya sendiri donks, untuk memasyarakatkan kegiatan tulis menulis… (wah kalo ini kayak himbauannya menteri olahraga heee…). Ngga perlu takut buat memulai, ngga usah jengah dengan berbagai aturan yang ada. Just Write !!! anggap saja kita hidup sendirian di muka bumi. Bayangkan kita bebas dari semua postulat dan kaidah tulis menulis yang dulu cuma bikin nilai Bahasa Indonesia saya pas SMA ngga pernah beranjak dari 7 koma nol. Alirkan semua titik-titik cahaya yang menggumpal dalam neuron saraf, perasaan, dan sudut-sudut tersembunyi di diri kita ke dalam rangkaian huruf yang menjelma menjadi kata-kata, lalu bersimbiosis membentuk paragraf, dan tanpa anda sadari anda terus menulis menulis dan menulis seolah anda barada di dalam aliran…(jangan khawatir ngga bakal tenggelam koq).
Mengutip pendapat seorang Psikolog Mihaly Csikszentmihalyi, “Ketika orang berada dalam suatu kondisi sangat focus, sangat waspada, merasa senang dan kehilangan jejak waktu, saat itulah mereka berada dalam aliran”.
Maka ngga heran kalo penulis-penulis besar bias menghabiskan waktu berhari-hari hanya untuk menulis tanpa merasa lapar dan lelah. Dan saat itulah mereka di titik sangat produktif.

So, are you ready to start ???
Warna akan pudar, kuil akan ambruk, kerajaan akan runtuh, namun kata-kata bijaksana tetap abadi - Edward Thorndike

MIND MAPPING, SENI MENCATAT KREATIF & MENYENANGKAN



Bayangkan kita seorang pelajar/mahasiswa : selama 3 jam kita duduk di kelas mendengarkan perkuliahan dari guru/dosen tentang suatu materi. Selama itu pula kita terus membuat catatan-catatan dan berusaha menulis poin-poin penting yang diajarkan oleh guru/dosen. kemudian setelah perkuliahan berakhir, yang ada di hadapan kita adalah setumpuk kertas penuh coretan yang kadang justru membikin kita bingung sendiri memahami isinya. Jujur, pernah ngga sih ngalamin hal seperti itu ?
Selain ngga efektif and ngga efisien, kebayang ngga cara kayak di atas hanya bakal membuat gundukan sampah di muka bumi kita makin bertambah ?...kalo volume sampah berambah, maka tempat-tempat bersih di bumi makin berkurang. Jadilah kita hidup dikelilingi berton-ton sampah, nggak enak banget kan..? idih masa sampe segitunya ? Ya iyalah, c’mmon gals, sapa lagi yang bakal ngejaga bumi ini kalo bukan kita sendiri para penghuninya … Save our planet, key!!! Eittts, koq jadi keterusan ngomongin sampah sih. Kali ni kita ngga akan bahas soal global warming yang lagi hot-hotnya koq, this time kita bakal mengkaji gimana caranya mengorganisasi informasi yang uda kita dapet secara efektif dan efisien plus ngga boros kertas.
Alasan utama seseorang untuk mencatat adalah untuk mengingat informasi. Karena tak jarang manusia seringkali lupa dengan hal-hal yang biasanya tidak memiliki kaitan emosianal dengan dirinya. Taruhan, kamu pasti bakal lebih inget sama peristiwa dihukum guru gara-gara ngga ngerjain pe-er matematika pas SD dulu ketimbang sama materi biologi yang baru diajarkan guru kemaren…hayo ngaku !! ;-p
Peristiwa dihukum sama guru gara-gara ngga ngerjain pe-er matematika lebih kita ingat meskipun uda bertahun-tahun lalu karena kejadian itu memiliki ikatan emosional dengan diri kita. Rasa malu, pengin nangis, marah…perasaan emosional itulah yang bikin kita ngga bakal lupa sama tuh peristiwa. Juga ketika kamu ditembak sama seorang cowok…duhhh, pake bunga lagi…he…he…tuh kan ketawa sendiri kalo lagi ngingetnya…tanggal, jam, suasananya, kata-kata maniez yang doi bilang…perasaan flying so high yang ngga bakal kamu lupain the whole of your life…ceileee… Nah, tau kan kenapa peristiwa itu juga slalu kamu ingat ? That’s because momen itu melibatkan ngga hanya mata n pendengaran tapi juga seluruh emosi dan perasaan kamu.
Trus gimana caranya supaya sgala informasi penting yang kita dapat such as materi pelajaran buat kamu yang masih sekolah, atawa materi-materi hasil meeting di kantor bisa ‘nyanthol’ sekuat ingatan akan peristiwa-peristiwa yang berkesan di atas? Jawabnya ya make it emotional, gals ! And then how ?
Nah, kamu pasti uda pernah dengar dong strategi Quantum Learning yang dipopulerkan oleh Bobbi De Porter atau barangkali malah baru dengar kali ini? Well, salah satu yang dikembangkan Mrs. Porter dalam Quantum Learningnya adalah metode mencatat inovatif bernama “MIND MAPPING”.
Actually, awalnya mind mapping sudah pernah dikenalkan oleh Tony Buzan sekitar tahun 70-an. Mind mapping (peta pikiran) bekerja sebagaimana cara otak kita bekerja. Sebelumnya, para ahli menyangka bahwa otak memproses dan menyimpan informasi secara linear, yaitu dalam format yang teratur dan rapi seperti sebuah daftar. Kini, didapatkan fakta bahwa otak mengambil informasi campuran antara gambar, bunyi, aroma, pikiran, dan perasaan, kemudian memisahkannya dalam bentuk linear. Otak akan lebih mengingat infomasi yang mengandung unsur emosional atau bentuk-bentuk visual seperti warna, simbol, bunyi, dan perasaan. (Damasio, 1994 dalam De Porter 2001).
Mind mapping bekerja dengan menggunakan pengingat-pengingat visual dan sensorik dalam suatu pola yang mengandung ide-ide yang saling berkaitan. Cara ini akan mudah membangkitkan ingatan karena memasukkan unsur visual dan emosional. Selain itu strategi ini menyenangkan sekaligus dapat melatih kreativitas, ini bisa melatih keseimbangan otak lho. Karena mind mapping mengaktifkan kedua belahan otak kita, makanya disebut juga dengan istilah “pendekatan keseluruhan otak” (De Porter, 2001). Cara ini juga lebih mudah dibandingkan metode mencatat tradisional model outline kuno yang membosankan dan menghabiskan banyak kertas. Next, how to do it ?
Sekarang, bayangkan kamu sedang berada di dalam kelas. Di depan, guru sejarah sedang menerangkan bab tentang Pangeran Diponegoro. siapkan selembar kertas yang cukup lebar. Tulis judul di tengah-tengah halaman : PANGERAN DIPONEGORO. Tulis dengan bolpoint warna, dengan font yang cukup besar. Kemudian dari judul tadi tariklah beberapa garis cabang yang agak tebal, misal isinya Biografi, Kehidupan Politik, Peperangan yang dijalani. Tulis dengan warna yang berbeda yach ! Nah, dari masing-masing cabang tadi, sebagai contoh pada cabang Biografi, kamu bikin garis cabang lagi tapi lebih tipis, lalu tuliskan tanggal lahir Diponegoro, tempat tinggalnya, kapan beliau wafat, siapa nama kedua orangtua beliau, etc. Attention : beri simbol-simbol yang bersifat personal dan tentu saja yang bisa membangkitkan imajinasi and daya ingat kamu pas kamu melihatnya. Misal untuk poin tanggal lahir kamu bisa buat gambar kue ulang tahun di sampingnya. Untuk tempat tinggal, kamu bisa buat gambar rumah yang unik. Untuk poin peperangan-peperangan yang dijalani, kamu bisa buat gambar pistol kecil. Dan lain-lain deh…pokoknya kembangkan kreativitasmu sendiri, gals ??!!
Buat kamu-kamu yang pengin nyoba metode mind mapping, berikut ada beberapa steps yang bisa kamu jadikan panduan
  1. Tulis gagasan utama di tengah-tengah kertas dan lingkupi dengan lingkaran, persegi atau bentuk lainnya.
  2. Buat cabang-cabang untuk setiap poin yang berasal dari gagasan utama Jumlah cabang bervariasi tergantung dari jumlah sub gagasan dan format penulisan dibuat secara horizontal.
  3. Tuliskan kata kunci atau frase pada tiap cabang yang dikembangkan untuk detail. Kata kunci adalah kata-kata yang menyampaikan inti sebuah gagasan yang dapat memicu ingatan.
  4. Tambahkan ilustrasi atau simbol simbol sebagai pemicu ingatan.
  5. Be creative ! (De Porter & Hernacki, 2001 :156)
Nah, sobat, tertarik bikin catatan ala Quantum Learning ? Coba aja ! ngga susah koq, asyik malah. Selain buat acara catat mencatat jadi ngga boring, metode mind mapping bikin kita jadi makin kreatif and imajinatif. Pastinya, belajar jadi tambah menyenangkan, isn’t right??!!!

BREAKAWAY

A Song by Kelly Clarkson

Grew up in a small town
And when the rain would fall down
I'd just stare out my window
Dreaming of what could be
And if I'd end up happy
I would pray
Trying hard to reach out
But when I tried to speak out
Felt like no one could hear me
Wanted to belong here
But something felt so wrong here
So I'd pray
I could break away
I'll spread my wings and I'll learn how to fly.
I'll do what it takes till I touch the sky.
Make a wish, take a chance,
Make a change, and break away.
Out of the darkness and into the sun.
But I won't forget all the ones that I love.
I'll take a risk, take a chance,
Make a change, and break away
Wanna feel the warm breeze
Sleep under a palm tree
Feel the rush of the ocean
Get onboard a fast train
Travel on a jetplane
Far away
And break away
I'll spread my wings and I'll learn how to fly.
I'll do what it takes till I touch the sky.
Make a wish, take a chance,
Make a change, and break away.
Out of the darkness and into the sun.
But I won't forget all the ones that I love.
I'll take a risk, take a chance,
Make a change, and break away
Buildings with a hundred floors
Swinging with revolving doors
Maybe I don’t know where they’ll take me
Gotta keep movin on movin on
Fly away
Break away
I'll spread my wings and I'll learn how to fly.
Though it’s not easy to tell you goodbye
Take a risk, take a chance,
Make a change, and break away.
Out of the darkness and into the sun.
But I won't forget the place I come from
I gotta take a risk, take a chance,
Make a change, and break away
Breakaway

The CoLouR Of LiFe

Begitu banyak peristiwa yang terjadi di sekitar kita. Tiap episode hidup kita jalani seiring roda jaman yang terus berputar. Kadang di atas kadang di bawah. Potret-potret jamak tiap manusia di sekitar kita tentulah banyak memberikan pelajaran kalau saja kita mau merenung. Tak jarang kita temui hal-hal yang kadang di luar nalar dan logika tetapi nyata dalam realita.
Saya mempunyai seorang saudara sepupu, usianya terpaut 2 tahun dengan saya, dia masih muda, cantik, pandai, dari keluarga berada pula. Pernah jadi anggota Paskibraka di Istana Merdeka, bahkan produser pun jeli meliriknya jadi model iklan produk kecantikan. Secara logika, banyak orang yang akan berpendapat betapa lengkaplah kehidupan sepupu saya tadi, gimana engga she has everything, she gets anything she wants. Tapi kabar yang saya terima beberapa waktu belakangan ini sungguh membuat saya heran. Dia keluar dari kerjaannya di salah satu hotel ternama di dekat Kute, jadi sering keluyuran ngga jelas tujuan, berhari-hari ngga pulang ke rumah, orang tuanya pun kayaknya uda kehabisan akal buat mengontrol anak yang dulu jadi kebanggaan keluarga ini.
Saya benar-benar ngga habis pikir, sebenarnya apa yang dia cari di luar sana, fasilitas, keluarga, uang, semua dia punya. Tetapi ternyata dia masih belum puas dan lebih memilih jalan lain…...

Lain lagi dengan seorang teman saya yang sudah sejak 5 tahun lalu belum juga menuntaskan kuliahnya. Awal mendaftar SPMB dia diterima di D3 Teknisi Perpustakaan, namun dua tahun kemudian hasrat membawanya masuk di fakultas hukum…. Saya ngga tahu tahun depan dia mau masuk jurusan apalagi… Ketika tiap kali saya menyapanya dengan sebutan ‘bu pengacara’, dia menjawab , “Masih saja kau doakan aku untuk jadi pengacara…”. Kemudian saya berfikir lalu untuk apa dia mengambil jurusan hukum , kalau tidak ada keinginan kesana ? Lalu dia mengatakan bahwa kuliah tu ngga Cuma buat cari kerja, tapi buat cari ilmu… biar bisa mendidik anak-anak kita kelak jadi orang yang berilmu … kata-katanya telah membuka mata hati saya.

Saya ingat tentang teman kuliah saya yang meninggal empat tahun lalu. Dia orang yang sangat supel, pembawaannya ceria, dan tentu saja banyak yang suka padanya. Beberapa bulan sebelum wisuda dia menikah dengan pria tambatan hatinya. Namun Sang kuasa berkehendak lain. Suatu pagi yang mendung saya mendapat kabar bahwa dia mengalami kecelakaan hebat dan meninggal dunia seketika. Itu terjadi tepat seminggu jelang ujian skripsi. Banyak yang terpukul atas musibah itu. Saya masih ingat dia sering menceritakan rencana-rencananya, baju yang disiapkan untuk wisuda, salon untuk rias, taksi yang disiapkan untuk kedua orangtuanya, acara syukuran kelulusan, dsb. Rasanya seperti baru kemarin kami bercanda bersama dan menertawakan tentang diri masing-masing, dan tiba-tiba saja di sudah ngga ada.
Pelajaran hidup no. 7. Manusia berencana, Tuhan yang Berkehendak.

Beberapa hari ini kota tempat saya tinggal disibukkan oleh hiruk pikuk pilkada, pemilihan walikota. Seperti pilkada yang sudah-sudah, sampai hari ini pun yang namanya money politik rasanya ibarat karat di rantai sepeda saya yang susah buat diilangin. Dua hari jelang coblosan, rumah di datangi oleh orang dari salah satu calon pasangan. Ngga tanggung-tanggung Rp 100.000 dibagikan, “ Besok pas hari-H jangan lupa coblos ini ya…” begitu katanya pada ibu yang waktu itu ada di rumah. Lalu keesokan harinya rumah kembali didatangi seorang kader dari calon yang lain tentu saja. Sambil mengucap salam dia membagikan sebuah amplop yang isinya apa coba ?... brosur visi dan misi. Dalam hati saya tersenyum. Ternyata masih ada orang jujur di dunia ini Ya Allah ternyata selama ini penilaian saya tidak salah.. Meskipun pada akhirnya si calon yang membagikan brosur tadi Cuma menduduki juru kunci total perolehan suara, sedangkan si pembagi uang 100 ribu tadi memenangkan pilkada.
Pelajaran hidup no. 3, jujur bukan berarti hancur.
Trus kalo saya bertanya pada anda kira –kira anda bakal pilih calon pemimpin yang membagikan uang tadi atau yang Cuma membagikan brosur ? hehe

Sungguh banyak lagi hal lain di sekeliling kita, makna yang tersembunyi di dalam warna-warni kotak kayu mahoni kehidupan. Kalau saja kita mau bercermin. Kalau saja kita mau belajar.

TENTANG LASKAR PELANGI

Laskar Pelangi memang luar biasa. Betapa kita musti bersyukur memiliki pribadi seperti Andrea Hirata yang telah menyentuh hati kita tentang makna hidup dari kesederhanaan anak-anak Belitong yang luar biasa.

Membaca kisah Laskar Pelangi membawa ingatanku ke masa beberapa tahun lalu. Masa-masa berat translasi dari mimpi dan cita-cita ke dunia realita. Suatu masa dimana aku masih bertarung dengan egoisme, kesombongan, dan kekecewaan terhadap Tuhan…

Masa itu, masa dimana aku dipertemukan dengan pribadi-pribadi sederhana, yang tanpa kusadari dari kesederhanaan mereka tumbuh ilmu dan pengalaman hidup yang begitu menyentuh. Mereka bukan siapa-siapa.

Mereka bukan anak Bupati atau anak dokter. Mereka segolongan anak-anak desa yang menganggap bahwa pendidikan diploma di kota kecil ini adalah sebuah kemewahan. Mungkin terlalu naïf jika aku harus membandingkan mereka dengan kawan-kawan lain yang punya segudang jalan dan sejuta fasilitas untuk mewujudkan mimpi mendapatkan predikat sebagai “anak UI” atau “arek Unair” .

Kesederhanaan orang-orang ini, ketegaran mereka, pengalaman hidup yang mereka punya telah mengajarkan aku untuk berdamai dengan dunia kala itu.Aku malu, malu pada diriku, malu pada Tuhanku. Diri ini mungkin ngga ada apa-apanya jika harus dibandingkan dengan kepolosan sosok Watik yang harus kerja banting tulang, sementara kedua orangtuanya entah ada dimana…
Atau Dian, gadis dari keluarga sederhana yang dikaruniai kecerdasan luar biasa, kontras dengan sosok adiknya yang mengalami keterbelakangan mental. Dia ibarat eidelweiss yang mekar di puncak Semeru.
Juga Dodhi, yang begitu bersahaja dengan kreativitas dan kemampuan leadershipnya yang mungkin bisa saja mengantarnya menjadi presiden BEM di PTN terkenal.
Terkadang kita terlalu dibutakan oleh dunia, oleh mimpi-mimpi semu yang kadang membuat kita berfikir kerdil. Setiap insan pasti memiliki impiannya masing-masing. Bersyukurlah buat mereka yang diberi jalan untuk bias mewujudkan mimpinya. Namun bagi mereka yang belum bias mendapatkan impiannya, selalu ada rencana B kan ?
Kalaupun nasi telah berubah menjadi bubur karena kebanyakan air, buburnya jangan dibuang. Beli aja beberapa ons daging ayam, sedikit taburan bumbu, ditambah sentuhan citarasa bawang goreng, plus adukan ketawakalan. Jadilah bubur ayam special.
Kita ngga pernah tahu hikmah apa yang ada dibalik kehendakNya.
Kadangkala Dia menghilangkan matahari dalam sejenak, bahkan Dia menurunkan awan hitam, guntur dan petir. Puas hati kita mencari matahari, ternyata Allah menghadiahkan pelangi untuk kita. Allah give us what we need, not we want. Terlalu banyak nikmat yang harus disyukuri daripada derita yang disesali. Setujuuuu ngga ?