Oke, harus saya akui kalo dunia kecil saya saat ini ngga bisa lepas dari mesin ajaib bernama komputer. Yah gara-gara motherboard rusak, stabilitas beberapa agenda jadi terganggu. Termasuk tugas-tugas dari Bayu Mukti yang biasanya saya lembur malam hari akhirnya harus canceled (sorry Bay, cuti dulu ampe guncangan finansial mereda). Tapi kali ini saya ngga bakal membahas motherboard yang lagi rusak, saya cuma ingin menanyakan, kalo seandainya teman-teman diminta memilih antara buku dengan layar lebar, kira -kira mana yang bakal lebih disuka?
Maksud saya, fokus pembicaraan ini adalah antara buku-buku best seller dengan versi movie-nya yang telah menginspirasi sutradara.
Sejauh ini uda ratusan judul film diangkat dari karya best seller. Tapi tentu saja keduanya menyuguhkan daya tarik berbeda meski memiliki alur cerita yang kurang lebih sama. J.K Rowling sudah membuktikan bahwa 7 seri novel fiksi Harry Potternya telah membius jutaan pembaca hingga rela bermalam di depan bookstores hanya karena takut kehabisan. Sementara itu film-filmnya juga telah membius jutaan pasang mata, dan membuat Daniel Radcliff menjadi salah satu anak terkaya di Britania. Tapi jujur, saya lebih cinta dengan filmnya dari pada harus membaca novel versi Indonesia yang tebalnya 800 halaman lebih. Bukan karena apa-apa, mungkin karena saya tidak begitu nyaman dengan penerjemahan bahasanya yang cenderung kaku, atau visual cortex otak saya yang rada lemot hehe....
Salah satu film yang mempesona saya adalah The Da Vinci Code, yah mungkin karena permainan watak Tom Hanks yang begitu memikat, atau visualisasi karya-karya Da Vinci yang disuguhkan dalam versi layar lebar cukup memuaskan imajinasi saya.
Untuk chicklit ringan seperti Cintapuccino atau Confession of a Shopaholic, saya lebih terpikat pada novel aslinya yang mengijinkan kotak imaji saya berpendar dalam spektrum yang lebih luas. Sementara versi movie terkesan dipaksakan karena ada beberapa segmen cerita yang dipotong.
Maksud saya, fokus pembicaraan ini adalah antara buku-buku best seller dengan versi movie-nya yang telah menginspirasi sutradara.
Sejauh ini uda ratusan judul film diangkat dari karya best seller. Tapi tentu saja keduanya menyuguhkan daya tarik berbeda meski memiliki alur cerita yang kurang lebih sama. J.K Rowling sudah membuktikan bahwa 7 seri novel fiksi Harry Potternya telah membius jutaan pembaca hingga rela bermalam di depan bookstores hanya karena takut kehabisan. Sementara itu film-filmnya juga telah membius jutaan pasang mata, dan membuat Daniel Radcliff menjadi salah satu anak terkaya di Britania. Tapi jujur, saya lebih cinta dengan filmnya dari pada harus membaca novel versi Indonesia yang tebalnya 800 halaman lebih. Bukan karena apa-apa, mungkin karena saya tidak begitu nyaman dengan penerjemahan bahasanya yang cenderung kaku, atau visual cortex otak saya yang rada lemot hehe....
Salah satu film yang mempesona saya adalah The Da Vinci Code, yah mungkin karena permainan watak Tom Hanks yang begitu memikat, atau visualisasi karya-karya Da Vinci yang disuguhkan dalam versi layar lebar cukup memuaskan imajinasi saya.
Untuk chicklit ringan seperti Cintapuccino atau Confession of a Shopaholic, saya lebih terpikat pada novel aslinya yang mengijinkan kotak imaji saya berpendar dalam spektrum yang lebih luas. Sementara versi movie terkesan dipaksakan karena ada beberapa segmen cerita yang dipotong.
Juga Laskar Pelangi yang fenomenal, jujur mata ini lebih betah memelototi tulisan Andrea Hirata selama berjam-jam ketimbang menonton filmnya yang berdurasi 2 jam. Maaf mas Riri Riza, bukannya filmya tidak bagus. Sama sekali bukan, tapi mungkin imajinasi saya sudah terlanjur membayangkan yang lebih hehehehe.
Pun sama halnya dengan Ayat-Ayat Cinta, saya lebih jatuh hati pada tulisannya Habiburrahman Elzirazy. Saya rasa ini karena faktor aktor/aktris yang profilnya uda terlanjur dikenal publik sebagai VJ atau anak band jadi hmmm …., tapi bukan berarti saya ngga suka latar syutingnya yang eksotis. Untuk KCB, saya masih belum nonton filmnya tapi mudah-mudahan bakal seindah novelnya ( versi saya hehehe...).
Film yang sedang saya tunggu saat ini adalah Sang Pemimpi, iya kawan, ini sekuelnya Laskar Pelangi. Masih diproduseri Riri Riza dan sebagian lokasi pengambilan gambarnya juga di Belitung. Let's wait n see apakah bakal seheboh film pertama.
Ada lagi satu buku best seller Three Cups of Tea (makasih mba Dea uda mau minjemin). Ini salah satu buku terindah yang pernah saya baca. Based on true story by Greg Mortenson yang menyuguhkan potret dunia Islam di Asia Tengah versus Amerika dalam cara pandang yang sama sekali berbeda, dengan latar lembah Pakistan indah menggetarkan. Terimakasih buat penerjemahnya yang bikin buku ini jadi benar-benar membuat saya seakan bisa memandang warna langit di puncak K2 Himalaya. Tapi saya belum tahu apa sudah difilmkan ya ?
Sekarang saatnya bertanya, seandainya kawan-kawan diminta memilih antara buku dan layar lebar, lebih pilih yang mana ?
Film yang sedang saya tunggu saat ini adalah Sang Pemimpi, iya kawan, ini sekuelnya Laskar Pelangi. Masih diproduseri Riri Riza dan sebagian lokasi pengambilan gambarnya juga di Belitung. Let's wait n see apakah bakal seheboh film pertama.
Ada lagi satu buku best seller Three Cups of Tea (makasih mba Dea uda mau minjemin). Ini salah satu buku terindah yang pernah saya baca. Based on true story by Greg Mortenson yang menyuguhkan potret dunia Islam di Asia Tengah versus Amerika dalam cara pandang yang sama sekali berbeda, dengan latar lembah Pakistan indah menggetarkan. Terimakasih buat penerjemahnya yang bikin buku ini jadi benar-benar membuat saya seakan bisa memandang warna langit di puncak K2 Himalaya. Tapi saya belum tahu apa sudah difilmkan ya ?
Sekarang saatnya bertanya, seandainya kawan-kawan diminta memilih antara buku dan layar lebar, lebih pilih yang mana ?