Saya memandangi jarum jam yang berotasi membentuk busur lingkaran yang sempurna. Sebentar lagi 2009 khatam dan mau tidak mau kaki ini harus melangkah menapaki kalender baru.
Sudah menjadi fitrah, manusia ditakdirkan tidak pernah puas dengan apa yang telah diteguk. Namun, bukankah itu juga merupakan interpretasi dari sabda Nabi bahwa barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari pada hari kemarin, maka ia termasuk golongan yang merugi ?
Saya yakin tiap kita menginginkan bisa merengkuh pencapaian lebih baik dari waktu ke waktu. Yang masih studi, goalnya bisa lulus dengan predikat cumlaude syukur-syukur honorable mention. Yang uda lulus, penginnya cepet kerja sykur-syukur sesuai bingkai keinginan. Yang uda kerja, diusahakan bisa mencapai posisi yang strategis. Begitu seterusnya, ibarat menapaki bukit yang tidak nampak mana puncaknya.
Sudah menjadi fitrah, manusia ditakdirkan tidak pernah puas dengan apa yang telah diteguk. Namun, bukankah itu juga merupakan interpretasi dari sabda Nabi bahwa barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari pada hari kemarin, maka ia termasuk golongan yang merugi ?
Saya yakin tiap kita menginginkan bisa merengkuh pencapaian lebih baik dari waktu ke waktu. Yang masih studi, goalnya bisa lulus dengan predikat cumlaude syukur-syukur honorable mention. Yang uda lulus, penginnya cepet kerja sykur-syukur sesuai bingkai keinginan. Yang uda kerja, diusahakan bisa mencapai posisi yang strategis. Begitu seterusnya, ibarat menapaki bukit yang tidak nampak mana puncaknya.

Hidup adalah sebuah pilihan. Kalimat yang luar biasa populer.
Dan setiap pilihan mengandung elemen-elemen resiko. Ketika kita terjebak di persimpangan, bimbang dan galau dalam menentukan jalan. Disitulah hidup menuntut kita untuk pandai berhitung, mengkalkulasi peluang keberhasilan yang bakal diraih sekaligus meminimalisasi kegagalan yang mengiringi. Sebagian orang menyebutnya gambling, tapi saya lebih senang menyebutnya sebagai seni dalam hidup.
Yang terpenting adalah bukan tentang materi yang bakal kita dapat dari jalan yang nantinya kita putuskan, tapi bagaimana pilihan itu membuat kita tumbuh menjadi dewasa dalam berpikir.
Suatu ketika, ada teman yang mengatakan bahwa saya tipe orang yang lebih senang berada di zona nyaman, terlalu takut mengambil resiko, takut melakukan gambling. Beberapa hari saya coba mencerna perkataan itu hingga lumat dalam pikiran. Apa benar begitu ?
Mungkin iya saya selalu berkalkulasi tentang jalan yang akan saya tempuh. Bagaimana resikonya, hasil finalnya, pengaruhnya buat orang-orang terdekat, dsb.
Tapi saya pikir pilihan telah mengantarkan diri saya pada posisi 180 derajat dari zona nyaman sebelumnya. Menjadi seseorang yang benar-benar berbeda dalam banyak hal. Saya kira perubahan itu membutuhkan sebuah keberanian. Bukan bermaksud membela diri, tapi mungkin ukuran “berani” atau tidak berani, sukses atau tidak sukses itu berbeda di benak tiap orang. Dan Tuhan Tahu sejauh mana kapasitas ikhtiar hamba-hambaNya.
Dan setiap pilihan mengandung elemen-elemen resiko. Ketika kita terjebak di persimpangan, bimbang dan galau dalam menentukan jalan. Disitulah hidup menuntut kita untuk pandai berhitung, mengkalkulasi peluang keberhasilan yang bakal diraih sekaligus meminimalisasi kegagalan yang mengiringi. Sebagian orang menyebutnya gambling, tapi saya lebih senang menyebutnya sebagai seni dalam hidup.
Yang terpenting adalah bukan tentang materi yang bakal kita dapat dari jalan yang nantinya kita putuskan, tapi bagaimana pilihan itu membuat kita tumbuh menjadi dewasa dalam berpikir.
Suatu ketika, ada teman yang mengatakan bahwa saya tipe orang yang lebih senang berada di zona nyaman, terlalu takut mengambil resiko, takut melakukan gambling. Beberapa hari saya coba mencerna perkataan itu hingga lumat dalam pikiran. Apa benar begitu ?
Mungkin iya saya selalu berkalkulasi tentang jalan yang akan saya tempuh. Bagaimana resikonya, hasil finalnya, pengaruhnya buat orang-orang terdekat, dsb.
Tapi saya pikir pilihan telah mengantarkan diri saya pada posisi 180 derajat dari zona nyaman sebelumnya. Menjadi seseorang yang benar-benar berbeda dalam banyak hal. Saya kira perubahan itu membutuhkan sebuah keberanian. Bukan bermaksud membela diri, tapi mungkin ukuran “berani” atau tidak berani, sukses atau tidak sukses itu berbeda di benak tiap orang. Dan Tuhan Tahu sejauh mana kapasitas ikhtiar hamba-hambaNya.