Menjelajahi satu demi satu blog di dunia maya membawa saya pada ruang-ruang prespektif lain. Menyusuri labirin-labirin pemikiran anak manusia yang terkadang di luar batas jangkauan logika. Menyinggahi kotak-kotak Pandora jiwa yang tidak melulu mejikuhibiniu.
Ini ibarat perjalanan backpacking tanpa ransel, nir peta dan kompas. Seperti berkeliling dunia tanpa pesawat, tanpa jetlag dan tanpa money changer. Lalu secara beruntung bertemu dengan dengan pribadi-pribadi yang ternyata mempunyai spektrum rasa yang sama, meski secara materi, tubuh belum pernah bersua. Oh, God saya harus berterimakasih pada siapapun yang telah menemukan teknologi internet pertama kali.
Seperti analogi kotak Pandora tadi, tiap blog memiliki bingkai keunikannya masing-masing. Penuh warna-warni, kaya teka-teki. Sering saya menebak-nebak kira-kira apa lagi yang akan saya temukan dalam blogwalking saya hari ini. Mungkinkah pulau harta karun ? Yah, mungkin saja. Harta karun ilmu tentunya.

Dalam perjalanan backpacking, ups maaf, blogwalking, saya mungkin saja menemukan kisah-kisah inspiratif yang membirukan rasa, menyungaikan air mata. Di lain waktu, wajah ini hanya bisa berekspresi takjub menyelami puisi-puisi jiwa bertabur metafora di ranah maya. Banyak ungkapan-ungkapan patah hati berbalut emosi, luapan kepenatan memandangi lelakon para wayang orang di atas pentas perpolitikan, sampai potret diari diri yang ringan mengalir seperti sapaan Bengawan Solo ketika tenang. Unik, asyik, menyegarkan. Beberapa blog bahkan idenya saling berseberangan secara diametral, namun malah memperkaya dimensi pikir dalam kosmos demokrasi. Diantara semua itu ada juga blog yang dipenuhi iklan blink-blink sehingga sedikit banyak mengolahragakan mata saat memandangnya hehe, maaf jujur.
Hmm, saya yakin tiap kita memiliki motif berbeda ketika membuat blog pertama kali. Dan itu memang prerogatif masing-masing. Kalau suka boleh dibaca, enggak suka ya lewati saja. Simple. Rene Descrates pernah memahatkan sebuah ungkapan, “Aku berpikir, maka aku ada”. Bolehlah saya ganti sedikit, “Aku ngeblog, maka aku ADA”.