Pengkaderan, aspek penting membangun usaha

Satu hal penting yang tidak boleh dilupakan dalam mengelola sebuah usaha adalah pengkaderan. Percayalah, saya baru saja belajar tentang ini.

Jika selama ini, usaha yang sedang anda jalani atau perusahaan yang sedang anda pimpin dapat berjalan mulus, lancar, dengan keuntungan yang melampaui break even point, yakinlah itu tidak pernah lepas dari faktor sumber daya manusia. Semakin bagus kualitas manusianya tentu semakin baik hasil kinerjanya. Maka jangan pernah meremehkan, bahkan menganggap mereka hanya “sekedar” properti perusahaan kita, sebab mereka punya loyality, akal dan hati. Kita nggak akan pernah tahu sampai tiba-tiba orang-orang yang sudah bekerja bersama kita, tiba-tiba harus resign atau vakum untuk waktu yang lama karena berbagai alasan.

Saya mengalami sendiri ketika usaha yang –dipercayakan kepada saya- tiba-tiba kehilangan beberapa pilar penyangga. Orang-orang senior yang berdiri di belakangnya sebagian cuti sementara karena hamil, melanjutkan study atau mengundurkan diri karena urusan keluarga. Usaha yang di tahun-tahun sebelumnya telah berjalan mulus, lancar, tiba-tiba sedikit goyang.

Ketika pengganti tidak disiapkan secara matang, tentu akan ada gap yang lebar, dan tentu butuh waktu buat penyesuaian visi, misi, karakter, dan penguasaan “medan”. Terlebih menghadapi konsumen yang sudah terlanjur mengkultuskan seseorang yang senior tadi dalam transaksi usaha. “kalo enggak sama si A, saya nggak mau.” Atau “Koq si B tidak seperti si A sih?”

Pasti akan ada proses membandingkan karakter dan kualitas. Dan mau tidak mau kondisi ini bakal mempengaruhi laju perusahaan. Ibarat bis yang rodanya kempis salah satu, tentu jalannya tidak akan maksimal.

Dari situ saya belajar pentingnya pengkaderan, dan fase inilah yang sedang saya jalani saat ini bersama kawan-kawan muda saya. Belajar, melihat, mendengar, mengobservasi, berinteraksi, lantas aksi. Melihat jiwa-jiwa muda itu seperti melihat ke dalam diri saya sendiri enam tahun lalu. Pagi menuntut ilmu di bangku kuliah, sore mengasah ilmu di bimbingan belajar, malam melayani privat ke rumah-rumah, dan tengah malam masih ngerjain job translate artikel. Benar-benar ngga ada kata lelah.

Ada semangat di mata-mata belia itu, ada keinginan untuk bisa, ada tantangan yang menggoda untuk ditaklukkan. Well, bukan berarti saya merasa sudah begitu tua dari mereka, hanya saja fase-fase seperti itu telah saya lalui beberapa tahun silam dan telah menempa saya sekarang.

Tiap orang itu unik. Untuk itu kita tidak bisa memaksa seseorang untuk menjadi seperti si A atau si B. Yang kita bisa hanyalah membantu melejitkan potensi yang mereka punya, mereduksi kekurangan yang mungkin mengganggu, dan kita akan melihat mereka melaju dengan akselerasi yang tidak pernah kita duga sebelumnya.

Memang hasil itu tidak bisa instan. Butuh kesabaran, ketelatenan, serta supervisi yang kontinue. Dan yang tidak boleh disepelekan adalah perlakuan kita terhadap orang-orang baru, terlebih jika mereka benar-benar “fresh from the oven”. Senioritas terkadang menjadi penyakit yang memabukkan , tapi alangkah bijaknya jika gap senior-junior itu dipangkas dengan sering-sering berbagi ilmu dan pengalaman jam terbang. Saya yakin tidak ada ilmu yang akan hilang jika kita bersedia berbagi.

Dan pada akhirnya, dari semua upaya pengkaderan itu, percayalah di momen yang tepat kita akan memanen hasilnya.

Pelajaran dari Sang Keledai

Suatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sumur. Hewan itu menangis dengan memilukan selama berjam-jam sementara si petani memikirkan apa yang harus dilakukannya. Akhirnya, Ia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan sumur juga perlu ditimbun (ditutup - karena berbahaya); jadi tidak berguna untuk menolong si keledai. Dan ia mengajak tetangga-tetangganya untuk datang membantunya. Mereka membawa sekop dan mulai menyekop tanah ke dalam sumur.

Pada mulanya, ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia menangis penuh kengerian. Tetapi kemudian, semua orang takjub, karena si keledai menjadi diam. Setelah beberapa sekop tanah lagi dituangkan ke dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang karena apa yang dilihatnya. Walaupun punggungnya terus ditimpa oleh bersekop-sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan. Ia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki tanah itu.

Sementara tetangga2 si petani terus menuangkan tanah kotor ke atas punggung hewan itu, si keledai terus juga menguncangkan badannya dan melangkah naik. Segera saja, semua orang terpesona ketika si keledai meloncati tepi sumur dan melarikan diri !

Kehidupan terus saja menuangkan tanah dan kotoran kepadamu, segala macam tanah dan kotoran. Cara untuk keluar dari 'sumur'(kesedihan, masalah, dsb) adalah dengan menguncangkan segala tanah dan kotoran dari diri kita (pikiran dan hati kita) dan melangkah naik dari 'sumur' dengan menggunakan hal-hal tersebut sebagai pijakan. Setiap masalah-masalah kita merupakan satu batu pijakan untuk melangkah. Kita dapat keluar dari 'sumur' yang terdalam dengan terus berjuang, jangan pernah menyerah !

Ingatlah aturan sederhana tentang Kebahagiaan :
1. Bebaskan dirimu dari kebencian
2. Bebaskanlah pikiranmu dari kecemasan
3. Hiduplah sederhana.
4. Berilah lebih banyak.
5. Tersenyumlah.
6. Miliki teman yang bisa membuat engkau tersenyum.

Seseorang telah mengirimkan hal ini untuk kupikirkan, maka aku meneruskannya kepadamu dengan maksud yang sama. "Apakah ini adalah waktu kita yang terbaik atau waktu kita yang terburuk, inilah satu-satunya waktu yang kita miliki saat ini !


Dikutip dari conectique.com

SUPERMAN

A song by : five for fighting


I can’t stand to fly
I’m not that naive
I’m just out to find
The better part of me

I’m more than a bird...i’m more than a plane
More than some pretty face beside a train
It’s not easy to be me

Wish that I could cry
Fall upon my knees
Find a way to lie
About a home I’ll never see

It may sound absurd...but don’t be naive
Even heroes have the right to bleed
I may be disturbed...but won’t you concede
Even heroes have the right to dream
It’s not easy to be me

Up, up and away...away from me
It’s all right...you can all sleep sound tonight
I’m not crazy...or anything...

I can’t stand to fly
I’m not that naive
Men weren’t meant to ride
With clouds between their knees

I’m only a man in a silly red sheet
Digging for kryptonite on this one way street
Only a man in a funny red sheet
Looking for special things inside of me

I’m only a man
In a funny red sheet
I’m only a man
Looking for a dream
And it’s not easy ...

...Its not easy to be me ...


Serenada senja

Senja telah menggulung siang, merumahkan matahari dalam istirahat singkatnya. Belum ada tanda-tanda angin berhenti menari. Sedari pagi tariannya memeluk bumi, angkuh, acuh akan sumpah serapah anak-anak adam yang sedang mencangkuli hari. Tariannya dingin seperti membawa pesan tentang kemarau yang kian mendekat.

Dingin. Memang dingin sekali senja ini, bahkan secangkir dua cangkir kopi panas pun tak kuasa mengusir aliran udara dalam pori-pori kulit.

Di hadapanku belasan ekor nila masih asyik berorkestra, seakan tak peduli pada hari. beranak- pinak pada sebuah kolam kecil di belakang rumah. Nyaman sekali tampaknya, kerjaannya hanya berputar-putar, melenggak-lenggok menunggu pakan. Sementara paku-pakuan sengaja kugantung di sekelilingnya, menjuntai-juntai, sebagian hijau, sebagian lagi menguning terbakar matahari. Ada juga mawar merah yang sedang puasa berbunga, hadiah pernikahan tujuh bulan yang lalu.

Tidakkah kau dengar juga suara burung-burung senja itu kawan? Seperti ikut bertakbir bersama suara adzan. Mengabarkan malam yang segera datang berkawan gemintang.

Dan langitpun mulai bertukar warna. Tapi aku masih betah disini, memandangi air, mengintip nila-nila yang tak lelah berputar, menghirup aroma senja yang berangin. Rasanya waktu seakan berhenti, tersekat dalam dimensi paralel yang kompleks. Membaca serenada senja dengan roman-nya sendiri.

Hey, kawan, lihatlah bulan baru saja muncul dari balik randu. Malu-malu mengeja senyum di langit timur. Diameternya hampir satu lingkaran penuh, memikat, dan penuh misteri. Tak ingin melewatkan romansa nila-nila yang sepertinya hendak beranak. Kian menawan saja pendar sinarnya, berbalut purnama yang belum sempurna. Biar saja dia menunaikan tugasnya malam ini bersama awan mengabarkan cuaca.

Angin kian kencang saja menari. Makin dingin menusuk tulang. Ibarat seringai tajam musim dingin Karakoram yang bersalju. Baiknya kukhatamkan dulu cerita ini, lusa aku kembali bersama pelangi.


gambar diambil dari sini

Fields

By : Maxi Priest


You'll remember me when the west wind moves
amoung the fields of the island
You'll can tell the sun in his jealous sky
when we walked in the fields of gold

So she took her love
For to gaze awhile
amoung the fields of the island
In his arms she fell as her fear came down
Among the fields of gold

Will you stay with me, will you be my love
Among the fields of the islands
You'll can tell the sun in his jealous sky
When we walk in the fields of gold
When we walk in the fields of gold

I never made promises lightly
And there's been some that I've broken
But I swear in the days still left
We'll walk in the fields of gold
We'll walk in the fields of gold

Many years have passed since those summer days
Among the fields of the islands
See the children run as the sun goes down
As we walk in the fields of gold
You'll remember me when the west wind moves
Upon the fields of the islands
You can tell the sun in his jealous sky
When we walked in the fields of gold

When we walked in the fields of gold

Have You Ever Really Loved A Woman ?

by : Bryan Adams


To really love a woman
To understand her , you gotta know it deep inside
Hear every thought , see every dream
And give her wings, when she wants to fly
Then when you find yourself lyin' helpless in her arms
You know you really love a woman

When you love a woman you tell her
that she's really wanted
When you love a woman you tell her that she's the one
she needs somebody to tell her
that it's gonna last forever
So tell me have you ever really loved a woman?

To really love a woman
Let her hold you,
til ya know how she needs to be touched
You've gotta breathe her, really taste her
Til you can feel her in your blood
And when you can see your unborn children in her eyes
You know you really love a woman

When you love a woman
you tell her that she's really wanted
When you love a woman you tell her that she's the one
she needs somebody to tell her
that you'll always be together
So tell me have you ever really ever loved a woman?

You got to give her some faith, hold her tight
A little tenderness, gotta treat her right
She will be there for you, takin' good care of you
Ya really gotta love your woman...



Bonjour les amis ...

Bonjour les amis... Selamat pagi kawan, apa kabar?

Semoga semangkuk bahagia dan secangkir kasih mewarnai lembaran langkah kita. Kemarin adalah sejarah, hari esok belum lagi terangkai. Di hari inilah kita siapkan kanvas dan kuas untuk mewarnai mozaik kita.

Selamat pagi langit ? Moga birumu menaungi kalbu kami yang kemarau. Keringkan galau di tiap jengkal langkah yang berjelaga. Sebarkan hangat dalam balutan awan yang menyimpan hujan tak mengenal musim.

Selamat pagi angin? Kuharap belaimu sejukkan jiwa-jiwa yang penat, bebaskan nafas cinta yang terpendam bersama Teracotta. Membangunkan kuncup mimpi yang tertidur, lantas menyemikan kembali harap yang tergadaikan oleh ego.Rata Penuh
Selamat pagi embun, rumput, dan daun-daun... dari selaksa sibuk yang kuteguk, membaui harum-mu kan selalu kurindu, membuai sukmaku dalam pagi yang syahdu. Mengisi rongga jiwa yang semula mengeras dengan butiran syukur tanpa batas.

Selamat pagi matahari, sapamu menggulung malam yang temaram, redakan badai di ujung hari. memandu anak-anak adam yang bersiap mencangkuli bumi.

Selamat pagi, hati, Kabar baikmu kutunggu hari ini...

Bonjour les amis, Que Dieu bénisse...

MENGHARGAI SEBUAH PROSES


Bumi terus merotasikan waktu. Siang, malam, merangkai lembar demi lembar sejarah anak adam dengan berjuta cerita. Ada yang singgah, ada pula yang pergi, ada yang berlalu begitu saja tanpa membekas di hati. Namun kenangan demi kenangan itulah yang mewarnai mozaik kita. Dan kita tidak akan pernah menjadi orang yang sama.


Terkadang kita ingin waktu berputar menjejak masa lalu. Kita ingin memperbaiki keadaan, mencegah hal yang seharusnya tak dilakukan, mengerjakan apa yang seharusnya sejak dulu dilakukan. Ya, sesal selalu datang di belakang...


Namun bukankah dari situ kita bisa belajar tentang hidup? Belajar menjadi bijak... belajar menjadi dewasa... belajar untuk lebih bersyukur. Karena mungkin saja tanpa sadar kita terlalu menuntut kepada Tuhan. Kita selalu mengeluh tentang apa-apa yang terjadi. Kita jarang memahami maknanya bagi jiwa, bagi hidup. Maka segala episode yang terlalui, sedih, kecewa, terluka, ataukah bahagia, semestinya bisa menjadi pelajaran buat hari esok yang menyimpan tanya.


Kemarin adalah sejarah, besok belum lagi terlewati, di sini... di detik kita bernafas, di saat inilah kita tinggal. Kita warnai Kanvas yang telah disiapkan. Menjadi merah, hijau, ungu atau kelabu kitalah pemegang kuasnya, kitalah sang Claude Monet. Hanya saja, memang setiap komposisi yang kita tuang mengandung konsekuensi. Setiap langkah dan pilihan mengandung hasil. “Setiap aksi, ada reaksi”, begitu rumusan hukum ke III Newton empat abad silam. Bahkan jauh seribu tahun sebelumnya, Quran telah mewahyukan bahwa Tuhan tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka berikhtiar mengubah keadaannya.



Namun tentu bukan otoritas kita menentukan bagaimana kelak design akhirnya. Tugas kita hanyalah bersungguh-sungguh dalam ikhtiar, kemudian memasrahkan hasilnya pada Sang Pembuat Design Kehidupan. Pasrah dan ridha. (mudah-mudahan kita mampu melakukannya, amin)


"Hidup dan nasib bisa tampak berantakan, misterius, fantastis dan sporadis. Namun tiap elemennya adalah subsistem keteraturan dari sebuah design holistik yang sempurna. Menerima kehidupan, berarti menerima kenyataan bahwa tak ada hal sekecil apapun terjadi karena kebetulan. Ini fakta penciptaan yang tak terbantahkan." {Andrea Hirata diinterpretasikan dari pemikiran Harun Yahya}

Menghargai sebuah proses. Saya kira begitulah intinya. Bagaimana kita mampu menghargai detik demi detik yang kita lewati, tiap helaian nafas yang kita hembuskan, setiap pertemuan yang mengajari kita tentang kehidupan, jua setiap tetes usaha yang kita jalankan.


Hidup ini ibarat ladang. Mau ditanami apapun terserah diri kita. Mau dibiarkan kering tak tergarap juga itu urusan masing-masing. Akan tetapi ketika kita menanam dan merawat ladang itu, lakukanlah dengan sepenuh hati, dengan semaksimal mungkin. Dengan benih yang terbaik, dengan pengairan yang cukup, dengan pupuk yang proporsional. Perkara nanti hasilnya berlimpah atau tidak, itu sudah di luar kewenangan kita. Ada Dzat yang lebih Kuasa menentukan perkara-Nya. Kita hanya mampu melakukan yang terbaik, ikhtiar yang maksimal, dan menikmati setiap proses itu. Kalaupun nanti hasilnya banyak ya syukur, kalaupun sedikit ya tak kecewa sebab kita telah menghargai tiap titik keringat demi merawat ladang tadi.


Sebab tujuan akhir kita bukanlah pada hasil semata. Gimana dengan anda ?



picture is taken from here



Episode Tentang Bunga



Facing the sky


Young rose



Bloomy rose



Water jasmine


White rose


Fresh red



The orchid


Grass flowers


Grass flowers (2)


Young rosela


Bloomy rosela



" KADANG SATU GAMBAR TELAH MEWAKILI SERIBU KATA...."

(Gambar diambil dengan Sony Ericsson K750)





Lebaran, lalu...


Ramadhan telah mengkhatamkan episodenya di tahun ini. Syawal yang berbalut hujan sudah menyapa satu pekan. Kesibukan mempersiapkan Idul Fitri terbayar dengan lunas. Sanak kerabat yang mudik kini bertolak ke kota masing-masing.


Terbesit tanya, lantas apa yang tersisa di lembar catatan hati ini ? Baju baru yang menggantung di lemari, yang sebenarnya telah sesak dengan isi? Atau bertoples-toples kue buat simbol gengsi ? Atau rasa capai dan letih setelah berdesak-desakan di mall ? Benarkah hanya itu yang tersisa…


Lalu dimana ritual keshalihan yang ditempa madrasah Ramadhan itu? Sebagai renungan buat diri sendiri, saya coba mengutip pandangan ulama yang mengatakan indikasi “lulus” tidaknya seorang hamba dari madrasah Ramadhan dapat dilihat dari dua hal, yakni tingkat keshalihan individu dan keshalihan sosial.


Keshalihan individu bisa kita rasakan dari konsisten tidaknya amalan fardlu maupun sunnah yang kita lakukan pasca Ramadhan. Sementara keshalihan sosial bisa tercermin dari peka tidaknya kita terhadap sesama, sebab puasa telah mengajari kita merasakan lapar dan dahaganya kaum tak berpunya. Maka kedermawanan itu mudah-mudahan tak akan menguap bersama perginya Ramadhan. Santunan terhadap anak-anak yatim semoga tak hanya ramai hingga takbir menggema.


Mudah-mudahan penantian panjang kita selama setahun menunggu Ramadhan tak hanya menyisakan letih dan baju baru semata.…


picture is taken from here


Quote of The Day

KEKUATAN PIKIRAN


Jika keyakinan kita mantap, semua variabel di alam semesta akan mendukung keyakinan tersebut. Hal-hal rasional seakan tidak berlaku lagi, hukum alam seakan "berhenti". Sebab kita telah bermain dalam dimensi lain.


(Tauhid Nur Azhar)

Manusia-manusia Cerobong Asap


“Assalamualaikum, bagaimana ya caranya mengingatkan orang yang merokok di dalam bis umum?”, begitulah kira-kira bunyi pesan pendek yang dikirim seorang sahabat. Saat mengirim sms itu ia memang sedang dalam perjalanan di atas bis dengan fasilitas plus-plus, yaitu full musik dangdut dan gratis mandi asap rokok sepuasnya. Serasa menikmati sauna dengan aroma terapi TAR, dipadu karbonmonoksida lantas disempurnakan dengan komposisi nikotin.

Saya yakin potret itu bisa saja terjadi pada setiap kita. Pada anda, saya, atau orang-orang yang merasa terdzalimi haknya karena ada orang yang merokok di tempat-tempat umum tanpa rasa bersalah sama sekali. Dalam kotak imajinasi saya, perokok-perokok ini ibarat manusia-manusia cerobong asap ;-p (maaf......hehe). Bukannya saya membenci perokok, toh merokok adalah prerogatif masing-masing. Akan tetapi ketika aktivitas merokok itu dilakukan di tempat-tempat publik , tidakkah terpikir asap yang dihasilkan akan mengganggu orang lain?

Hak hidup jelas diatur dalam hukum dasar manusia termasuk konvensi PBB, sedangkan untuk hidup manusia butuh bernapas. Jika dalam proses bernapas itu ada zat-zat membahayakan dari asap rokok yang disumbangkan para perokok di sekitar kita, apakah itu tidak melanggar hak hidup juga namanya ? Apalagi menurut sejumlah riset, perokok pasif menerima 75 % dampak dari asap rokok yang dihirup akibat berada dalam radius yang dekat dengan perokok aktif.


Gambar diambil dari sini


Perjalanan dengan naik bis umum atau KA ekonomi sebenarnya sangat menyenangkan , karena saya bisa mengamati perilaku orang-orang dengan rentang kasta yang berbeda-beda, mendengar dialek-dialek yang polos dan meriah seperti pasar malam, plus live music dari para pengamen jalanan. Dari itu semua alasan yang paling rasional tentu karena tarifnya yang cocok dengan kantong saya. Namun yang menjadi pantangan terbesar adalah mendapat tempat duduk di dekat perokok. Fiuhhh, dan beruntungnya saya sebab hampir setiap perjalanan selalu saja ada momen-momen menyiksa semacam ini.

Pernah suatu ketika dalam perjalanan melewati alas Baluran di perbatasan Situbondo-Banyuwangi. Supir bis mengurangi kecepatan untuk menciduk penumpang semaksimal mungkin walaupun kurva bobot angkutan sudah melebihi batas maksimum. Penumpang masih terus dijejalkan. Bis benar-benar penuh waktu itu, bahkan lorong antar kursi pun tak bisa dilewati. Orang-orang berseragam hijau memenuhi kendaraan, plus pedagang-pedagang yang juga ingin menyeberang ke Gilimanuk.


Di tengah bis yang padat massa, saya terjebak. Sebelah kiri, depan dan belakang saya dengan seenaknya orang-orang itu menyalakan rokok. Ya Tuhan, saya benar-benar terjebak, tak berkutik di tengah kepungan asap rokok. Panas, pengap, bau, seperti ikan yang terpanggang karbonmonoksida. Pembuluh darah saya terasa menyempit, dan saya pengin muntah. Alangkah senangnya kalo saja bisa muntah di depan mereka, hitung-hitung balas jasa atas asap rokok yang mereka sumbangkan pada paru-paru saya. Rasanya antara hidup dan mati. Sungguh manusia-manusia cerobong asap yang merokok di dalam bis, tidak berperi kemanusiaan. Pantas diadili di mahkamah internasional lalu dimasukkan di penjara Azkaban bersama para dementor seperti di cerita Harry Potter : D hihihihi.....


***


Yah, itu hanya satu penggal pengalaman, sahabat. Sebenarnya tiap daerah bisa saja memberlakukan Perda tentang kawasan bebas rokok. Jakarta dan Surabaya sudah memulainya meski implementasinya masih jauh dari harapan. Selain sosialisasi yang kurang maksimal, minimnya kesadaran individu juga menjadi faktor gagalnya realisasi peraturan tersebut. Saya rasa tanpa Perda sebenarnya kawasan bebas rokok (dalam hal ini tempat-tempat publik, termasuk transportasi umum) bisa ditegakkan. Asalkan ada kesadaran dan penghormatan akan hak orang lain.




Kesederhanaan itu bernama Don Hasman

Sekilas sosok itu terlihat biasa saja. 70 tahun usianya mengarungi juring kehidupan, sama sekali tak nampak dalam guratan senyumnya yang bersahaja. Tubuhnya masih tegap, siap menyapu halimun Everest. Kata-katanya sederhana sarat makna, mengalir dalam tiap kisah perjalanan hidupnya menjelajah benua.

Laki-laki itu bernama Don Hasman. Jujur saya tidak tahu banyak tentang Om Don selain dari literatur-literatur yang saya googling dari internet. Pengalaman hidupnya, perjalanannya menyinggahi berbagai sudut dunia, karya fotografinya selama berpuluh tahun , dedikasi dan pengabdian terhadap profesinya sebagai fotografer kelas dunia. Sampai seorang kawan mengenalkan saya dengan sosok sederhana itu dalam sebuah kesempatan beberapa waktu lalu. Saking takjubnya saya sampai spechless, ‘ndesoni’ barangkali. Kharisma lelaki yang seumuran dengan mbah saya itu lah membuat saya kehilangan jurus interogasi yang biasanya jadi gaya saya selama ini.

Don Hasman. Kalau menyimak penggalan episode perjalanannya di dunia fotografi sejak puluhan tahun lalu, saya kira semua akan sepakat Om Don sangat berbakat. Karya fotografinya selalu memberikan sudut pandang yang berbeda, unik, di luar mainstream, unpredictable. Lihat saja ‘kegilaannya’ mempelajari lalu mengabadikan kehidupan suku Asmat di Papua, Suku Tengger di Jawa Timur, kelompok orang Kubu di Sumatra, juga karya fotografinya mengabadikan jalur ziarah Santiago de Compostela dan Finisterrea Spanyol utara dengan berjalan kaki sejauh 1000 km dalam 35 hari, tiga tahun lalu. Dan jarak ini ditempuhnya dalam usia yang tak lagi muda.

Mengawali karir sebagai wartawan di sejumlah harian, ditemani kamera second kelas empat , Om Don berguru pada pengalaman secara otodidak dengan sempurna. Hingga kini masih menjadi Ketua Asosiasi Fotografer Indonesia. Pengalaman memang guru yang terbaik, kan? Saya kira yang membuat karya-karya seorang Don Hasman istimewa adalah karena ia melakukan semua itu dengan hati. Ada makna yang tersirat dalam tiap hasil bidikan gambarnya. Satu kalimat yang saya catat betul dari lelaki ini adalah tentang ketulusan untuk berbagi. Ketika kita bisa berada di satu tempat yang tak terjangkau bagi orang lain, bagilah itu! Abadikan momennya, biarkan orang lain turut menikmati apa yang kita juga nikmati. Sekalipun itu hanya dalam bentuk gambar photo. Maka tak heran ketika Don Hasman ditawari sekian ratus dollar setelah menjadi pemandu dalam sebuah perjalanan di luar negeri, ia menolak. “Sudah diberi kesempatan untuk membantu menjadi pemandu saja sudah syukur”, begitu katanya. Dari situ saya sadar, orang ini luar biasa. Maka tak heran Om Don sering menolak jika disiapkan hotel khusus untuk menginap selama mengisi berbagai undangan. Bahkan ia tak ragu membagi ilmunya secara Cuma-Cuma di seminar-seminar yang diadakan komunitas fotografi di seluruh Indonesia.

Menyerap pengalaman hidup sang fotografer yang sarat makna, menyimak berbagai ekspedisi dan pendakian yang dilakukannya sejauh ini, kadang menyiratkan pucuk-pucuk kerinduan akan kotak mimpi diri yang telah lama berkarat. Bertebaran di muka bumiNya, meneguk segala hikmah semesta, mencium aroma gletser kehidupan yang penuh tantangan, menggoda marabahaya di antartika, lalu menelan saripati makna yang tersimpan dalam tiap kepingan proton semesta.

Hmm, kisah Don Hasman sepertinya telah membangunkan kembali mimpi-mimpi seorang anak manusia di satu sudut bumi. Sedikit jejak impressive Don Hasman ini, mudah-mudahan memberikan inspirasi.


Don Hasman : Fotografi dan Kejujuran

(Indonesian Photo Magazine Online)


Don Hasman di depan karyanya saat berpameran di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. (TEMPO/M.Syaifullah)


Don hasman (kiri), saya (kanan), dalam seminar fotografi yang

diadakan Magetan Photography Community

SORE YANG VIOLET

Akhirnya bisa juga menulis dengan tenang. Setelah beberapa pekan terbelenggu dengan hal yang tak urgen tapi lumayan menguras perhatian.

Rindu sekali dengan suasana ini, duduk di balik jendela kayu sambil memandangi langit sore yang violet. Harum bau tanah basah yang menyegarkan, dan tembok berlumut yang eksotis. Bagi orang seperti saya itu sudah cukup merupakan kemewahan buat jiwa, tak akan setara meskipun ditukar dengan fasilitas di hall cafe beratapkan ukir-ukiran mahakarya Michelangelo, beralaskan porselen terbaik dari Dinasti Qin.

Menghirup sore yang beraroma vanila. Bercengkerama dengan angin musim kemarau yang mengintai dari balik tirai bulan Rajab. Suara gaduh suporter Indonesia Open yang mendukung Taufik Hidayat dari tabung ajaib bernama televisi di belakang saya seperti harmonisasi orkestra Hayden saja. Bisingnya knalpot sepeda motorsport yang digeber keras-keras di samping kantor kecamatan, yang biasanya memekakkan gendang telinga, sore ini layaknya alunan simponi Mozart yang riang. Nikmat, dan syahdu.

Jujur saya tidak tahu akan menulis apa. Saya juga tak tahu ke mana arah paragraf-paragraf ini. Yang saya tahu, saat ini saya kangen sekali menulis. Ya, kangen sekali.

Saya biarkan jari-jari ini menari di atas keyboard yang telah lama terindukan. Biarkan kran kerinduan mengalir membasahi sela-sela jiwa yang tertidur.

Mungkin saya hanya ingin menyapa anda, para sahabat tercinta. Mungkin juga saya hanya ingin menyapa tulisan saya sendiri yang beberapa waktu ini kehilangan tuannya.

“ Menulis sudah menjadi bagian integral dalam hidup. Maka jeda sedikit saja dari menulis, ibarat kehilangan satu bagian dari hidup”, begitu kata orang –orang pandai yang ada di koran.

Buat saya, menulis bagi diri sendiri adalah proses pelepasan sesuatu dari jiwa. Satu bentuk eksistensi bahwa kita bebas. Bebas dari aturan kebahasaan, bebas dari penentuan tema, bebas dari apa saja. Sebab kitalah yang menentukan segalanya. Kitalah tuannya.

Seperti juga sore ini, ketika saya membiarkan diri ini bebas terbawa ‘aliran’. Hanya menulis. Tanpa terikat tema, tanpa diperbudak aturan bahasa. Tanpa prediksi bagaimana saya harus mengakhiri paragrafnya. Tapi buat yang satu ini, saya sepakat dengan Jikustik untuk mengakhirinya dengan indah.

Selamat menikmati sore.

KALA


Hidup adalah sebuah pilihan. Tidak semua pilihan itu mudah. Kita harus menghitung, menimbang ke belakang, meraba masa depan yang masih tertutup kabut. Tapi bukankah itu yang diajarkan nasib ?


Tidak semua bisa memahami keputusan besar yang pada suatu ketika membelokkan peta rencana semula. Ada yang mencibir. Ada yang mengumpat. Ada yang coba membeli passion itu dengan iming-iming financial. Tapi otoritas untuk memilih ada pada pundak kita dengan segala konsekuensinya.


Kita bisa saja memilih untuk tetap berada di dalam tempurung yang sama, dengan jaminan financial cukup ‘stabil’ untuk ukuran orang udik yang tidak neko-neko. Akan tetapi hidup bukan semata masalah materi dan kepuasan raga. Ada kalanya sekam mimpi memantik dalam jiwa dan rindu untuk dinyalakan .


Ketika kita telah menghabiskan puluhan purnama bersama orang-orang terbaik yang mengajari kita banyak hal, tentu adalah hal berat memutuskan untuk pergi. Namun rindu akan dunia di luar sana terlalu lama terpendam dalam kotak mimpi yang telah berkarat. Maka perjalanan untuk mengembalikan mimpi-mimpi itu memang harus dibayar dengan pengorbanan, rasa kehilangan, serta ketidaktahuan akan apa yang akan dihadapi di depan sana.


Hidup bukanlah tentang hasil, akan tetapi tentang proses belajar. Belajar menemukan hal-hal baru yang akan membasuh kerinduan jiwa ini akan makna. Juga tentang pelajaran di setiap jengkal bumi yang dibentangkan-Nya.


Maka demi itulah sebuah keputusan harus ditetapkan. Bukan tentang untung rugi, atau semata-mata tentang materi. Akan tetapi hidup yang Cuma sesaat ini terlalu sia-sia jika tak ditempa dengan pengalaman. Terlalu gersang jika tak disirami dengan hikmah dalam tiap episodenya.