Dua Sisi


“Koq tulisannya beda ya? Tumben ngga seperti sebelumnya…, mana tulisan-tulisanmu yang kayak biasanya ?” , kurang lebih begitulah beberapa komen serupa yang masuk ke kotak komentar saya beberapa waktu ini. Komen dari sahabat blogger yang perhatian betul sampai hafal, bahkan saat saya menghadirkan postingan dengan karakter penulisan yang agak beda dari biasanya. Padahal saya sendiri malah ngga sadar, masa iya beda ? hehe …


Buat blogger kacangan macam saya, memiliki gaya penulisan yang tepat merupakan proses belajar yang masih saya cari akhir muaranya. Ketika menulis, jari-jari ini hanya patuh mengikuti rangkaian huruf demi huruf yang melesat-lesat memenuhi labirin otak, lalu menerjemahkannya dalam tarian keyboard. Just write...that’s all !!!


Ada kalanya saya sangat menikmati menulis hal-hal ringan yang “gue banget”, tanpa harus ribet memikirkan taburan metafora apa yang tepat untuk disisipkan. Di lain waktu, virus melankolis merasuki pikiran dan memaksa tangan ini menuliskan tema-tema yang agak “dalem” untuk ukuran anak udik seperti saya.


Sebagian orang menyebut ini inkonsistensi, tapi saya lebih senang menyebutnya dua sisi. Dua sisi untuk mengasah kepekaan jiwa terhadap berbagai sudut kehidupan yang tidak melulu monokromatik. Seperti pesan sponsornya jeng Agnes Monica, “Life is never flat” ;-p…




Ngga dipungkiri gaya menulis ini kadang dipengaruhi oleh bacaan yang sedang saya baca. “Serenada Kereta Senja”, adalah salah satu tulisan saya yang terkontaminasi Edensor-nya Om Andrea Hirata. “Secangkir kasih buat Jiwa-jiwa Hangat” mungkin dipengaruhi analogi fisika Dr Tauhid Nur Azhar, ilmuwan dari UI yang cerdas itu. Sementara “Bukit Tanpa Puncak” , mungkin hasil dari persemedian saya di atas puncak Argopuro hehehe… ngayal banget!


Buat mba Newsoul, sang komentator yang setia dan bang Auliawi Ahmad yang sajak-sajaknya T.O.P B.G.T mudah-mudahan tulisan ini bisa jadi jawaban atas komentarnya di postingan saya yang lalu. Thanks buat kunjungan selama ini, ditunggu komen-komen selanjutnya!!!