Belajar Mendengar (Sebuah De Javu Tulisan)

Kenapa judulnya De Javu Tulisan ? Sebenarnya saya pernah memposting tulisan ini tahun lalu, tapi ngga tahu kenapa pingin aja memposting ulang. yah mungkin untuk lecutan buat diri sendiri yang semakin ngga peka ini. 

Mencintai diri sindiri. Itulah fitrah kita sebagai manusia. Sadar ngga sih tiap kali kita berbicara dengan orang lain, berapa sering kita mengucapkan ‘aku’ daripada ‘kamu’. Ngga peduli apapun yang lagi dibicarakan, “Emm, Kalau aku sih….gini… gitu…”, “ Aku dulu pernah kayak gitu… anu…”, “ Kalau aku malah …..bla…bla…bla”.
Yah, bicara tentang diri sendiri emang hal yang paling menyenangkan ya ?

Saya pernah punya pengalaman curhat dengan seorang teman, karena saya pikir dia bakal kasih solusi buat saya, tapi coba tebak apa yang terjadi setelah saya cerita tentang masalah saya. …. Twwiiing…, dia malah balik menceritakan masalahnya yang menurutnya jauh lebih besar, lebih hebat, pokoknya lebih … bla..bla. benar-benar saat yang tidak tepat pikir saya. Dari situ saya kemudian lebih hati-hati kalo cari teman buat curhat, sangat sangat selektif bahkan. Coba anda bayangkan, ketika anda sedang dirundung masalah, punya suatu beban yang ingin anda keluarkan, anda ingin ada orang yang bisa memberikan masukan atau paling tidak sekedar mendengar lah. Lalu teman anda dengan tanpa berdosa malah gantian mencenceritakan perihal dirinya, perihal hidupnya… fiuuuh.

Dalam berinteraksi memang dibutuhkan suatu timbal balik. Ketika dua sahabat bertemu bisa saja saling berkisah tentang pengalaman masing-masing. Tapi ada masanya kita juga musti panda-pandai membaca situasi. Ketika ada seorang teman yang datang dengan masalah yang memberatkan punggungnya, disitulah kita ada untuk menampung keluh kesahnya, mengeringkan air matanya, give a shoulder to cry on. Menjadi tong sampah yang baik buat mereka. Disinilah kedewasaan kita dibutuhkan, dan keegoisan kita untuk sekedar mengatakan “Kalau aku … bla bla ” ditahan sebentar deh.

Sekarang coba jujur pada diri sendiri, pastinya kita bakal lebih betah ngobrol dengan orang yang antusias mendengar cerita-cerita kita, orang yang menyimak setiap detil kata yang kita ucapkan. Bahkan ketika kita mulai membual tentang kehebatan diri sendiri, dia masih tampak setia memperhatikan kita sampai tenggorokan kita kering. Bandingkan ketika berada dengan orang yang begitu banyak bicara.

Sahabat saya pernah menceritakan pengalamannya makan bareng temen-temen kerjanya. Diantara mereka ada seorang yang memang sangat ekstrovert. Selama 2 x 60 menit acara makan-makan, dan pembicaraan hanya didominasi oleh cerita-cerita si ekstrovert tentang dirinya, keluarganya, pengalamannya, apa-apa yang dia sukai, hobinya , binatang peliaraannya , bla…bla…bla… (kalo boleh saya ilustrasikan sih dari terbit matahari sampai maghrib, ngga bakal selesai … hehehe…). Dan saya bisa menebak bagaimana perasaan sahabat saya yang sangat introvert itu.
Mudah-mudahan ini bisa jadi pelajaran buat siapapun, terutama buat diri saya sendiri, buat menjadi pendengar yang baik.

“ Setiap pertemuan menjadi petualangan. Setiap orang menjadi pelajaran kehidupan. Yang kaya, yang miskin, yang berkuasa, dan yang kesepian, semuanya penuh impian dan keraguan sama seperti kita. Dan setiap orang memiliki kisah unik kalau saja kita bersedia mendengarkan. Betapa sering kita membiarkan kesempatan itu melewati kita. Seorang gadis yang menurut kita bisaa saja, penjual roti yang setiap hari lewat di depan rumah kita, orang orang itu memiliki cerita sama seperti kita. Dan sama seperti kita juga, mereka memimpikan akan ada orang yang mau mendengarnya.”(Chicken Soup For The Soul)

Terjebak Biro Jodoh Internasional


Membaca biografi Ennie Van Moorsel Arif membuka mata hati saya tentang dimensi lain yang ditawarkan oleh mimpi-mimpi anak manusia yang sebagian harus berakhir .... ah, bahkan saya tak sanggup membayangkannya.

Adalah biro jodoh internasional yang telah mengenalkan Ennie dengan seorang pria warga Belanda, Gez, begitulah namanya disebut. Saat itu tahun 1986, internet belum lagi singgah merangkul tanah air. Hubungan mereka berjalan via klub penpals (semacam klub korespondensi internasional). Lewat video, Ennie melihat sosok pria itu begitu simpatik, gagah, tinggi, kekar, atletis dan gentleman. Beberapa bulan mereka berkorespondensi, berkomunikasi via telepon, serta saling berkirim hadiah, hingga suatu ketika Gez melamar Ennie menjadi istrinya. Menikah dengan seorang pria Bule bisa jadi adalah mimpi bagi sebagian wanita, dan Ennie adalah satu diantaranya. Maka tanpa banyak pertimbangan, dengan modal menjual asset kekayaan hasil usaha yang telah dibangun bertahun-tahun, Ennie terbang ke Amsterdam membawa putra kecil semata wayangnya hasil pernikahan pertamanya yang telah gagal. Merajut mimpi demi melacak jejak surga kehidupan yang selama ini ia cari. Akan tetapi semuanya menguap tak bersisa hanya sedetik setelah Ennie mendapati sosok Gez yang nyatanya benar-benar jauh berbeda dari profil yang dikenal selama ini. Sosok gentleman itu ternyata adalah makhluk pemabuk paling kasar yang terjebak dalam tubuh manusia.

Tiba di Belanda Ennie dan putranya langsung dibawa ke sebuah apartemen, ditodong dengan pistol, putranya dikunci dalam toilet hingga kelaparan dan kedinginan, disekap selama berminggu-minggu, diberi makan sisa remah-remah roti, dihajar hingga babak belur, dipaksa melayani nafsu bejat si durjana dengan membabi buta –maaf- dengan alat-alat aneh scherp en vreemde voorwerpen. Di titik ini saya tidak sanggup lagi melanjutkan berbagai penyiksaan lain yang diterima Ennie dan putranya. Perut saya rasanya seperti diaduk – aduk membayangkan semua kebejatan Gez yang ternyata adalah seorang interniran militer, penipu, pemabuk dan psikopat kronis !! Mengapa profilnya di video yang direkomendasikan biro jodoh internasional itu awalnya tampak begitu simpatik, ganteng dan lembut ?

Walau pada akhirnya Tuhan menolong Ennie untuk bisa kabur dari Gez, trauma penyiksaan berminggu-minggu itu selamanya akan melekat dalam ingatan En dan putranya hingga dewasa.

Kita mungkin bisa belajar dari pengalaman hidup Ennie Van Moorsel Arif, adik kandung Pipiet Senja, salah satu penulis terbaik di tanah air. Kisahnya menjadi warning bagi sebagian dari kita yang selama ini telah dilenakan kemudahan transaksi dunia maya. Memang tidak salah kalau kita bisa menjalin komunikasi dengan banyak orang hingga ujung Tierra del Fuego. Bisa saja lewat myspace atau facebook kita menemukan jodoh yang selama ini dicari. Namun perkenalan lewat chatting, facebook, friendster, myspace, biro jodoh, atau apapun namanya jangan sampai membuat kita bermimpi di siang bolong lalu hilang kewarasan untuk berpikir logis. Sebab bagaimana pun juga, kita harus tetap terjaga dan berpijak pada realita.



Kenapa Flash Disk Rusak ?

Hari-hari terakhir ini saya harus kembali menelan kenyataan pahit ditinggalkan oleh flashdisk kesayangan. Bukan ditinggalkan sih, lebih tepatnya rusak, intinya uda ngga bisa digunakan lagi. Ini kali kedua saya mengalami hal serupa.
Kronologisnya, waktu itu lagi nyobain ngenet di warnet baru deket rumah. Lumayan kan ngga harus menggeber tunggangan kalo Cuma pengin posting atau cek email. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, Semarang ibukota Jawa Tengah (hehe yang terakhir ngaco…), habis masang socket flashdisk ke port USB, sama sekali ngga ada komentar yang muncul di layar. Saya coba intip di jendela explorer juga belum muncul juga. Beberapa menit kemudian, saya cabut flash disk dari port. Sempet kaget juga karena flashdisk tiba-tiba terasa panas dan bau seperti benda terbakar. Aneh, soalnya setelah dicek sama si empunya warnet pake flash disk laen ternyata bisa detect. Jadi bingung, ada apa dengan flash disk saya ?


Seingat saya sejauh ini saya selalu mematuhi dan mengamalkan undang-undang di dalam memperlakukan flashdisk secara baik dan benar, diantaranya :
1. Menjauhkan dari pengaruh medan magnet kuat kayak TV, handphone, dan benda- benda sejenis lainnya.
2. Menghindarkan dari air meski sudah diklaim oleh vendor sebagai waterproof
3. Selalu melakukan proses virus scan
4. Melakukan proses eject sebelum mencabut flash disk dari port USB
5. Menjauhkan dari sinar matahari langsung
6. Menghindarkan dari benturan keras
7. Selalu menutup socket flash disk pas lagi ngga dipakai
8. Dan meminimalisir proses hapus tulis langsung dari flashdisk

Paling tidak itulah rambu-rambu yang saya pegang selama ini. Menurut sebuah artikel usia flashdisk berbeda-beda tergantung kualitas dan merk, biasanya berkisar antara 10.000 – 100.000 kali proses hapus tulis. Sementara umur flashdisk saya sekitar 1, 5 tahun dengan frekuensi pemakaian sedang.
Sempat Tanya ke beberapa teman soal hal ini. Ada yang bilang ini kesalahan pasang socket USB pada CPU, ada juga pendapat kalo CPU ngga bisa support jenis flashdisk tertentu. Setelah saya Tanya ke mbah Google pun belum ada jawaban yang memuaskan. Intinya kalo flashdisk uda rusak ya tamatlah riwayat file-file yang tersimpan di dalamnya, that’s all.
Jadi ingat kali pertama saya kehilangan data-data penting gara-gara flash disk rusak di tempat KKN, padahal umurnya baru beberapa bulan. Kronologisnya benar-benar sama, para flashdisk ini harus mengakhiri hidupnya di komputer orang lain. Padahal waktu itu ada data skripsi, proyek penelitian, naskah-naskah soal yang sudah tertata, presentasi power point, foto-foto , semuanya hilang. Hiks…. Parahnya beberapa bulan kemudian data back up di hardisk juga hilang karena hardisk rusak. Hikz kuadrat ;-(
Oya jujur kedua flashdisk saya yang rusak merk Kingston semua. Saya ngga menyalahkan merk koq, entahlah tapi saya pikir pasti ada alasan lain yang seharusnya bisa menjelaskan kejadian ini, biar ke depannya ngga akan terulang lagi. Mungkin teman-teman ada yang tahu penyebab kenapa flash disk bisa rusak ?

Rendezvous

Ceritanya sore ini saya sempatkan untuk membawa tunggangan mengelilingi kota tercinta Madiun, sesuatu yang uda lama tidak saya lakukan. Ngga ke seluruh kota sih, cuma sebagian saja. Udara masih terasa hangat meski matahari sudah mulai condong ke barat, pertanda kemarau menjelang. Aspal jalanan juga masih menyimpan sisa-sisa panas yang terik sejak pagi hingga siang tadi. Tips : kalo lagi pengen jalan sore, jangan sampe ngga pake sandal atawa sepatu, bisa-bisa pulang dengan kaki melepuh minimal kapalan.

Saya arahkan motor butut kesayangan melewati tempat-tempat yang jadi sejarah hidup sewaktu muda (lagi ngerasa sok tua niy….). Bangunan sekolah di jalan kartini yang dari luar belum banyak berubah kelihatan dingin, anggun membisu, tapi menyimpan kenangan. Lagu Kisah klasik untuk masa depan-nya Sheila on 7 tiba-tiba terngiang -ngiang di kepala saya. Untung, saya bisa menahan diri untuk tidak berjoget ;-p. Di sebelah selatannya, gedung pengadilan negeri berdiri dengan wajah baru. Saya sampai pangling melihat bangunan yang dulu usang berpayung beringin itu kini terlihat cling. Lupa saya kapan terakhir kali lewat jalan ini.

Karangan bunga ucapan selamat untuk walikota baru juga masih terpajang di pintu masuk kantor Pemkot. Iya, sekedar info buat warga luar, Madiun baru saja mendapat pemimpin baru periode 2009-2014, dilantik di Gedung Graha tanggal 29 April di bawah pengamanan hampir 1000 personil keamanan. Banyak yang bilang, pengamanannya superketat, kayak suasana DOM (daerah operasi militer) di Aceh. Ada watercanon, sniper, untung ngga ada tenk tempur sekalian ya, Pak Kapolres…
(catatan : Bambang Irianto-Sugeng Rismiyanto menang dalam Pilkada kota Madiun 23 Oktober 2008 di bawah dugaan skandal money politik).


obral euy...


Pusat perbelanjaan berdiri menggoda di sepanjang jalur Pahlawan. Heran juga, di kota sekecil Madiun, dengan laju ekonomi yang biasa saja, dengan profil demografi penduduk usia produktif kebanyakan tak berpenghasilan, bisa saja berdiri 4 mall dalam kurun lima tahun terakhir. Mungkin Pemerintah Kota sadar benar kalo para warganya sangat tidak mudah menolak godaan obral tiap akhir bulan dan derasnya migrasi gaya hidup ala kota besar. Kemudian mata saya membaca tulisan besar-besar di bawah jembatan penyebrangan, tepat di depan salah satu mall “PUSAT REKREASI DAN BELANJA KELUARGA”. Qeqeqeqe, benar-benar provokatif …
(Sisi positifnya, beberapa tetangga saya diterima bekerja di pusat belanja yang baru berdiri di bekas lahan terminal lama. Utamakan anak lokal ya Pak manajer ?)


pusat belanja dan rekreasi keluarga weks...


Alun- alun belum banyak berubah, sepertinya sore ini sedang digelar liga sepakbola professional antara RT Baru Maju versus RT Mundur Kena. Rame juga yang nonton, dari penjual bakso sampai anak-anak, lumayan kan bisa nonton bola gratis dari tribun VVIP. Di sebelah timur, satu mall yang sudah eksis sejak saya belum lahir sekarang sudah beralih fungsi menjadi pusat jual-beli handphone, karena kalah saingan mungkin.

Sore jelang maghrib, populasi pedagang kaki lima di area stadion wilis semakin bertambah. Saya tidak ingat kapan tepatnya lokasi ini mulai menjadi pusat wisata kuliner malam hari. Yang pasti mulai dari penjual kacang rebus sampe es puter semua ada. Apalagi dengan migrasi pedagang PBM ke pasar penampungan di utara stadion. Bikin kehidupan malam di Madiun jadi tambah semarak, seperti pasar malam.

Konsentrasi PKL juga tersebar di sepanjang jalan Diponegoro dari timur ke arah barat. Roti bakar, ayam bakar, seafood bakar, sampe bakso bakar tersedia di tenda-tenda pinggir jalan. Tapi menu nasi kucing yang murah meriah sepertinya belum berhenti menjadi primadona.

Di sebelah barat, lapangan basket bosbow dengan background pohon beringin tua masih memamerkan sejarahnya. Hehe, dia saksi bisu betapa aduhainya shooting basket saya dulu, hemmm… ibarat pungguk merindukan keranjang basket. (saya punya usul gimana kalo keranjangnya dibuat agak rendah sedikit ? Ide yang bagus bukan ?... ).



the unforgotten bosbow


Mendekati maghrib, jalanan semakin ramai. Sebagian orang-orang bersepatu yang baru pulang kerja dan sebagian lain mungkin orang-orang yang ingin keluar melepas kepenatan hidup. Tapi saya harus pulang.



senja sore ini lagi bagus...

Karena Mereka Istimewa

Semua orang tua mengharapkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Tidak ada seorang pun yang menyangsikan. Semua orang tua menaruh rasa sayang sekaligus cinta kepada para buah hatinya. Tak ada yang meragukan. Tetapi pada kenyataannya rasa sayang dan cinta itu seringkali diterjemahkan dalam wujud yang tak dapat dipahami, paling tidak oleh nalar saya yang dangkal ini.
Saking sayangnya terkadang orangtualah yang menyetir ke mana anak-anaknya harus melangkah. “Kamu harus menjadi dokter”, atau “Bapak ingin kamu jadi sarjana teknik”, “Kuliah di IKJ kamu mau jadi apa?”, “Swasta itu hidupnya susah”, dll. Banyak orangtua yang meminta anaknya harus jadi anu atau kudu kuliah di jurusan itu, padahal si anaklah yang kelak akan menjalani hidupnya, bukan sang bapak atau ibu kan ?
Saya sadar sebenarnya saya tidak memiliki “wewenang ilmiah” tentang ini (karena saya belum berstatus orang tua), tapi saya coba berbicara dari sudut pandang orang luar yang sering bersentuhan langsung dengan masalah-masalah serupa. Maklum, profesi sebagai tutor mau tidak mau memaksa saya untuk masuk ke dalam area hubungan anak dan orang tua yang seringkali mengalami friksi hanya karena miskomunikasi.



“ Anakmu bukanlah milikmu. Mereka putra-putri Sang Hidup
yang rindu pada diri sendiri …..” (K. Gibran)



Dalam bukunya “Dig your well before you thirsty”, Harvey Mackay mengatakan, sebenarnya setiap orang memiliki aspek daya jual baik dalam aspek pengetahuan, kompetensi, ketrampilan, minat, sasaran, visi , misi, maupun pengalaman-. Intinya tiap kita adalah istimewa. Kita lahir dengan potensi, bakat, dan keinginan masing-masing. Untuk itulah guru SD kita selalu bertanya “Apa cita-citamu kelak?”, ketika sang anak telah meretas impiannya untuk menjadi novelis hebat karena terinspirasi kesuksesan JK Rowling misal, tapi kemudian di tengah jalan sang ibu menginginkan anaknya menjadi perwira, bukankah kedengarannya cukup tidak adil bagi si anak ? Terlebih jika si anak samasekali tidak mempunyai minat ataupun bakat menjadi perwira. Kondisi ini sepertinya juga dilematis bagi anak sendiri. Di satu sisi ia ingin mewujudkan mimpi dan cita-citanya, sementara di sisi lain tak ingin mengecewakan orangtua yang telah membesarkan dengan sepenuh jiwa.
Saya mempunyai seorang kawan yang sejak kecil suka sekali menggambar. Buku-buku pelajarannya dipenuhi coretan kartun, desaign baju, model bangunan, gambar-gambar dalam dimensi dunianya sendiri. Bahkan ketika guru menerangkan di depan kelas, tangannya tidak berhenti bergerak ibarat Claude Monet yang menggoreskan sketsa di atas kertas. Hasil coretannya pun bisa dibilang outstanding untuk ukuran seorang otodidak yang berguru pada bakat. Sayang sekali bakat luar biasanya ini tidak tersalurkan sebab sang ibu lebih merestuinya menjadi birokrat. – ini hanya satu contoh.
Alangkah bahagianya ketika orangtua yang kita cintai bisa mendukung, bukan mencibir setiap visi kita, mengingatkan bukan menyalahkan ketika jalan kita menyimpang, menasihati bukan menyetir apa yang kita citakan. Karena restu Sang Hidup berasal dari restu orangtua jua.

SHOPAHOLIC

Wanita dan belanja rasanya ibarat dua sisi keping mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Sulit untuk dipungkiri, sebab sekalipun saya mau membela diri untuk menolak generalisasi ini, secara de facto realitas telah berkata demikian. Mulai dari pasar tradisional ala Indonesia yang murah meriah hingga pusat perbelanjaan Primark di Oxford street ala London, lihat saja siapa komunitas yang mayoritas bertransaksi di sana? Kaum hawa, golongan saya.

Beberapa minggu lalu saya sendiri jatuh ke dalam endemic shopaholic. Entah bisikan dari mana yang tiba-tiba mendorong saya untuk memuaskan keinginan belanja ala “perempuan” yang sebelumnya tidak pernah saya lakukan. Pikiran ketika itu mengatakan toh sekali-kali ngga apa-apa, sebagai imbalan buat diri sendiri atas kerja keras tiap hari dari subuh ampe malam. Akhirnya demi menuruti bisikan itu, lembar demi lembar rupiah mengalir untuk membeli keperluan yang bisa dibilang bukan “kebutuhan”. Sepatu, baju, kaos, sandal, jajan, dan jajan lagi. Sesaat terpikir, oke setelah saya mendapatkan baju ini atau sepatu itu saya bakal mendapatkan kepuasan batin. Tapi nyatanya tidak, kawan. Semakin menuruti hasrat berbelanja yang tidak lagi sejalan dengan teori kebutuhan itu, semakin saya berjalan menjauhi rel definisi kepuasan hati. Ibarat meminum air laut, semakin banyak diminum, justru semakin membuat haus.

Tenggorokan saya rasanya tercekat, melihat di pinggir-pinggir jalan pedagang koran masih berdiri di siang bolong hanya untuk menawarkan Jawa Pos yang bahkan tinggal separuh harga. Benar-benar malu jika berkaca pada mereka yang menghargai sekeping rupiah untuk bertahan hidup sementara saya menghamburkan uang hanya demi menuruti keinginan sesaat.

Saya tidak mengerti apa yang ada dalam benak mereka yang rela menghabiskan waktu seharian bahkan hanya untuk keluar masuk mall dengan tas di pundak atas, tangan kanan dan kiri menjinjing berbagai barang bermerk untuk memenuhi kepuasan yang fatamorgana itu. Saya teringat seorang teman pernah bertanya retorik, “Apa salahnya belanja barang bermerk kalo emang punya uang ?”. Sama sekali tidak salah, logikanya saya balik begini, kalo ada barang lain yang sudah cukup memenuhi asas kemanfaatan meski pun tidak bermerk, buat apa beli yang mahal ? Toh uangnya bisa buat hal lain dari sekedar membeli prestise brand terkenal.

Tapi itu semua kembali pada pribadi masing-masing. Saya tidak menganggap ini pendapat yang benar, sama sekali tidak. Sangat relatif, sangat subjektif. Namun di atas itu semua ada indikator paling sensitif yang bisa menilai yaitu kata hati.

Dilema Masa Skripsi

Kalo masa kuliah diibaratkan dengan sebuah kurva parabola terbuka ke bawah, maka titik pucaknya yang terdiri dari absis sumbu simetri dan ordinat maksimum adalah masa-masa tugas akhir yang rawan dan penuh godaan. Jika titik kulminasi ini berhasil dilewati dengan baik, maka grafik selanjutnya bakal turun dengan mulus membentuk kurva parabola yang sempurna. Itu analogi hidup dari menjadi mahasiswa tingkat akhir yang ngga akan bisa lari kejaran tugas akhir alias skripsi. Diburu waktu, dan pikiran setelah lulus nanti mau kerja dimana semakin melengkapi penderitaan karena pasca wisuda biasanya status demografi yang melekat adalah pengangguran paling intelek di kampung asal.
Belakangan banyak sahabat yang mengaku berada pada titik jenuh, pusing hingga tablet aspirin pun ngga sanggup meredakan, stagnate, dan putus asa karena terjebak pada pilihan judul TA-nya sendiri. Belum lagi pressure dari dosen yang luar bisaa intens. Tiap pengajuan ditolak dengan alasan kurang inilah, kurang itulah, secara teori benar tapi secara statistic pembuktian keliru, dsb. Atau ketika uda lolos sensor pertama, lalu gagal pada sensor dosen pembimbing II. Fiuh.., itu belum termasuk wira-wiri plus begadang sampai ubanan menunggu sang dosen pembimbing tercinta yang sering pura-pura lupa kalo sudah bikin janji. Apalagi kalo dosen sama sekali tidak kooperatif dengan mahasiswanya.
Saya jadi teringat pengalaman pribadi waktu mengerjakan skripsi dua tahun lalu. Saya memang nekat mengajukan judul penelitian tindakan kelas (PTK) yang masih menjadi kontroversi diantara para pendidik. Alasannya PTK hanya boleh dilakukan oleh seorang guru terhadap murid-muridnya, mahasiswa yang belum berpengalaman mengajar tidak berhak menggunakan metode ini. Saya membela diri karena saat itu saya juga sedang menjalani program guru magang di salah satu SMP, jadi saya punya murid sebagai subyek observasi.
Ujian kesabaran itu datang dari dosen pembimbing II yang memang terkenal angker, otoriter, paling ditakuti se-fakultas, bahkan se-kampus karena beliau ketua yayasan, dan yang paling mengerikan adalah beliau termasuk golongan yang kontra terhadap skripsi PTK. Itu belum seberapa, perlu saya beri tahu juga beliau adalah penganut mahzab klasik yang sering tidak bersedia menerima ide-ide pembaharuan dalam dunia pendidikan. Friksi itu pun terjadi, beliau menampik pendapat saya dan puncaknya skripsi saya sempat dilempar di atas meja dan saya digadang-gadang akan dianugerahi maksimal label C minus. Hiks, saya benar-benar membeku seketika itu, frozen. Tidak menyangka dan speechless.
Setelah kejadian itu saya dilanda frustasi. Kehilangan semangat. Kampus bagi saya ibarat ladang pembantaian, yang keluar dengan selamat akan berakhir di RS Jiwa Menur berkumpul bersama para caleg gagal. Benar-benar menakutkan.
Berminggu-minggu saya mengacuhkan skripsi dan penelitian saya hingga berlumut. Saya melarikan diri dengan kesibukan lain mengajar privat anak-anak SMA yang akan menghadapi UAN.
Di tengah kesibukan itu entah bisikan dari mana yang tiba-tiba secara ajaib menegur saya, “Well, sampai kapan mau terus begini ? hampir empat tahun kamu lewati, dan tinggal satu satuan lagi langkahmu tiba”. Magis. Kata-kata singkat itu membius saya dan menjadi pelecut semangat untuk kembali ke jalur penelitian. Waktu itu saya hanya berharap sang dosen terkena amnesia sebagian sehingga lupa telah melempar skripsi saya.
Untung dosen pembimbing I selalu memberikan support dan mengapresiasi apa yang saya kerjakan. Saya cukup termotivasi. Alhasil kekhawatiran tentang nilai C itu tidak terbukti dan poin 3 koma sudah cukup mengantar saya untuk lulus.
Saya yakin hampir semua mahasiswa tingkat akhir di luar sana mengalami dilemma yang sama dengan konfliknya masing-masing. Karena itulah saya berani mengeneralisasi ini sebagai suatu hal yang wajar. Tinggal bagaimana kita bisa menjaga niat, konsistensi, dan tujuan hingga batu ujian seberat apapun tidak akan membuat kita berhenti. Em, berhenti sebentar boleh sih tapi jangan lama-lama sampe karatan. Setelah mampu melewati semua itu, saya taruhan anda akan setuju dengan pendapat saya kalo skripsi adalah intisari kehidupan mahasiswa. So, goodluck and wish all the best !!!

Presented to : 'uteng' dan semua mahasiswa tingkat akhir yang lagi dilanda frustasi. Keep on spirit !!

DO MORE TALK LESS : SAVE THE WATER!!



Did you ever think that the number of water in this world is decrease day after day ?
Okay, maybe you’ll say that more than 70% earth contains of water, but this is kind of salty water. We can’t drink or wash something with it.
I’m talking about the fresh water, the water that comes from the rivers and the depth under the ground, saved by the trees.
The population increase every second, and this condition isn’t balance with the water supply. The experts estimated that If we’re not save the water right now, millions people will lack of water in the next ten years. The world commemorate March 22nd  every year as Water Day. So this is the right time to make any reflection, “ Have we really care with the water existence ?”
Now, look at our rivers! We’re faced in serious conditions. The rivers are full with garbage and industrial cesspool. The rivers are polluted. We have to be honest, our people still don’t have any attention with their environment. People just blame the nature when disasters come. Floods and landslides are happen every years because of us, and the solutions is back to ourselves, could we change our bad habbits?
Actually there’re so many ways that we can do to save the water. For a simple example, don’t forget to turn off the water faucet after we use it. Use the water wisely, don’t waste it in useless ways. The most important, don’t ever through the garbage in to the rivers, I’m begging you please ! 
The other way, we can plant some trees in front of our house. The roots will save the water that comes from the rain and keep it in the ground to prevent floods and landslides.
The answer now, Why do we have to care ? Because we are part of the ecosystem and the keeper of the nature. We live in here and depend on another creatures. So, we should give respect to the nature which has give us all we need.
There’s no other way, DO MORE TALK LESS. SAVE THE WATER !

Start from a simple thing
Start from ourself
Start right now !!!


Trafficjam in the morning




















Mengurangi Kantong Plastik = Save the earth



Kawan, pernah terbayang ngga berapa ton sampah kantong plastik yang terkumpul di muka bumi ini tiap harinya ? setiap kali kita belanja, entah itu belanja sayur, garam, buku ampe sepatu, di mall atau di pasar loak, kantong plastik menjadi sarana buat mempermudah bawaan kita. Simple, ringan, ngga memakan tempat, usai pake langsung buang, praktis dan ekonomis. Tetapi sekedar mengingatkan, plastik sebagai ikon kepraktisan ini harus dibayar mahal dengan mengorbankan eksistensi lingkungan. Kantong plastik atau lebih familiar dengan sebutan “tas kresek” adalah sejenis polimer sintetik, yaitu jenis plastik yang sulit terurai. Menurut riset, bumi membutuhkan waktu sedikitnya 500 tahun untuk bisa mengurai plastik jenis ini.
Berdasarkan data dari S.F. Department of the Environment, Worldwatch Institute, setiap tahun ada 4-5 trilyun kantong plastik yang beredar, sementara untuk bikin 100juta kantong plastik yang non-degradable saja jumlah minyak bumi yang diperlukan adalah 430.000 gallon, kebayang kan borosnya.
Membakar sampahnya pun bukan solusi bijak. Karena jika dibakar dibawah 800 derajat celcius, justru akan menghasilkan senyawa dioksin yang berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan hidup.
Karena sifatnya yang sulit terurai, sampah plastik bisa menghambat proses penyerapan air oleh bumi. Ditambah dengan perilaku masyarakat kita yang masih suka membuang sampah (termasuk plastik) secara sembarangan hingga menutup saluran air, alhasil bencana banjir pun tak bisa dielakkan.
Karena ketidakramahan polimer yang satu ini, maka sejak tahun 2008, gabungan pengusaha Indonesia sudah memulai kampanye mengurangi penggunaan kantong plastik. Di beberapa belahan dunia lain bahkan penggunaan kantong plastik sudah digantikan dengan kantong belanja dari kain atau kertas (menurut saya kantong kertas pun sebenarnya juga ngga beda jauh, karena untuk memproduksi 1 ton kantong kertas dibutuhkan 13-14 pohon untuk ditebang). Negara tetangga Singapura sudah menerapkan denda 3 sen bagi warga yang tidak membawa tas sendiri saat berbelanja … amazing ya, bandingkan dengan orang Indonesia yang malah “gremeng” kalo belanja ngga dikasi tas plastik sama si empunya toko.
Sudah saatnya kita hidup berharmoni dengan alam. Kurangi penggunaan kantong plastik = sumbangan besar buat kelestarian ekosistem.
(source : gagasawards.blogspot.com)

Single Happy

Mereka bilang aku pemilih dan kesepian, terlalu keras menjalani hidup
Beribu petuah yang diberikan, berharap aku bahagia
Mereka bilang sudah saatnya karena usia,
Untuk mencari sang kekasih hati
Tapi kuyakin akan datang pasangan jiwaku pada waktu dan cara yang indah…

Saya tersenyum sendiri mendengar penggalan lagu Oppie Andaresta yang satu ini. “Single Happy”, judul dan liriknya benar-benar melegitimasi status jomblo yang entah kenapa seringkali didiskreditkan. Ketika usia uda mencapai kepala dua, dan undangan pernikahan dari kawan sebaya terus berdatangan, maka orang-orang di sekitar yang mengaku peduli sama kita bakal berkomentar, “Kamu kapan ?” Dan Ringgo Agus Rahman menjawab, “Mei… meibe yes, meibe no” Hehehe… what a great answer !
Menurut saya menjadi jomblo adalah pilihan. Sebuah jalan yang memang kita pilih karena kita nyaman dengan status ini, bukan lantaran karena ngga laku (kayaknya ada yang ngga terima sama tuduhan ini hehehe…hayo ngaku !!).
Selama kita (para high quality jomblo_red) merasa hepi-hepi aja berjuang menghadapi hidup sendirian (cie bahasanya gubrak kuadrat ;-p), menjalani hari tanpa harus terbebani sama “kewajiban” terhadap pasangan yang notabene sebuah konsensus tanpa keabsahan, then we don’t have to be worry being a single.
Seorang sahabat pernah bilang pada saya, pasangan hidup itu bakal tiba pada saat dan waktu yang tepat. And I agree with that. Kalo pun sekarang belum ada pasangan hidup, berarti memang belum waktunya buat kita, dan bisa jadi karena sebenarnya diri kita belum siap untuk itu. Akan ada satu momen dimana Tuhan menganggap kita uda pantes lahir dan batin untuk memulai sebuah komitmen dalam ikatan suci pernikahan.
Sekarang ketika kita masih diberi waktu menjadi para lajang bahagia, ini kesempatan buat kita untuk mengejar mimpi, berbakti membahagiakan ortu, traveling qeqeqeqeqe, pokoknya just enjoy your life…

Aku baik-baik saja,
Menikmati hidup yang aku punya
Hidupku sangat sempurna
Mengejar mimpi-mimpi indah
Bebas lakukan yang aku suka
Berteman dengan siapa saja
I’m single and very happy

Ketapang - Gilimanuk


Saya mencintai perjalanan, berada dari satu tempat ke tempat lain membentuk prespektif tersendiri bagi saya dalam memandang kehidupan. Kita bisa melihat beragam budaya, bahasa, adat dan kebiasaaan manusia, serta karakter suatu daerah. Buat saya itu menyenangkan, memperkaya diri, mengembangkan pola pikir, dan membunuh rutinitas yang menjemukan. Terkadang saya bermimpi untuk bisa mendapatkan pekerjaan yang memungkinkan untuk melakukan travelling dari daerah satu ke daerah lain seperti Riyanni Djangkaru mungkin…(hehe ngayal !!!). Lalu seorang teman merekomendasikan sebuah profesi yang bisa mengakomodir keinginan saya itu. Terus berkelana dari satu kota ke kota lain, bahkan memiliki otoritas penuh atas sejumlah nasib manusia. Ya, teman saya merekomendasikan saya untuk menjadi kondektur bis.
Perjalanan Madiun-Singaraja yang seharusnya bisa ditempuh dalam kurun kurang lebih 12 jam ternyata jauh melebihi prediksi. Ini karena bis dari Probolinggo menuju Banyuwangi yang mengangkut saya berjalan lambat merayap laksana pawai ta’aruf 1 Muharam, penderitaan terjebak bersama para manusia cerobong asap juga memaksa saya harus meluangkan waktu lebih untuk mengembalikan kewarasan di terminal Ketapang. 
Pukul 10.30 pagi, dengan naik kendaraan omprengan sejenis oplet saya menuju pelabuhan Ketapang. Jaraknya terminal-pelabuhan sebenarnya tidak terlalu jauh, sekitar 2 km, tapi saya harus rela menunggu satu jam lamanya hingga oplet melebihi kurva maksimum bobot angkutan, fiuh molor lagi. 
Saya mengencangkan tali sepatu kets, membenahi ransel butut 10 kg yang bertengger di punggung, sembari menarik nafas dalam-dalam mengkerucutkan mental sebelum naik ke dek kapal. Maklum cuaca Selat Bali bulan ketujuh hingga kesembilan bisa dipastikan tidak begitu bersahabat. Saya naik ke dek atas karena di dalam telah penuh sesak manusia. Bule-bule dari Jerman acuh berfoto ria tak peduli dengan angin yang bertiup cukup kencang. Saya berpegangan erat pada besi tepian kapal dan berdoa agar tidak terlempar ke lautan. Asap hitam karbondioksida dari cerobong kapal berputar-putar menyengat hidung, tidak berapa lama ombak mulai tenang. Saya bahkan mulai bisa melihat makhluk-makhluk anggota filum coelenterata dan porifera melambai-lambai dari bawah air. Berbagai jenis nekton bahari dan ikan-ikan kecil berkejaran di sela-sela antozhoa, indah sekali. 
Di tengah keasyikan saya bercengkerama dengan para penghuni lautan, tiba-tiba seorang pemuda menegur saya, 
“Ombak uda lumayan tenang mbak …” 
“Iya”, pendek saya menjawab.
“Suka Arsenal ya ?” tanyanya melihat kalung handphone saya yang berlogo Arsenal.
“Iya.” Lagi-lagi saya menjawab pendek.
“Sayang musim kemarin kalah lagi sama MU, ada Christiano Ronaldo sih.” Katanya mencoba akrab.
“Oya ?” komentar saya pendek lagi. 
“Napa suka Arsenal ?” Tanya pemuda yang kental dengan logat Bali itu.
“Percaya pada the young gun”. Kilahku. 
Dan percakapan berikutnya masih berkutat pada Liga Inggris dan tujuan perjalanan kami. Tapi anehnya kami samasekali tidak menanyakan nama masing-masing. Sekian titik tanpa koma.

30 menit terombang-ambing di laut, 11.45 siang kapal merapat di Gilimanuk. Akhirnya, Bali, I’m coming!!! Tetapi perjalanan ini belum berakhir, saya bergegas menuju terminal di seberang pelabuhan mencari bis jurusan Singaraja. (to be continued)


Fotografi


























Ini beberapa hasil jeprat-jepret dengan obyek makhluk-makhluk berklorofil di halaman rumah saya yang sempit. Ada spider plant yang menjuntai-juntai, melati belanda yang ternyata mudah dikembangkan di tempat panas, boston ferns alias paku-pakuan favorit saya, mawar yang saya kirain uda tamat umurnya tapi masih mau berbunga, kamboja jepang yang setia menemani 16 tahun dan mekar tanpa mengenal musim, rosela yang juga hidup lagi setelah mati suri, juga anggrek purple titipan tetangga hehehe. Saya ambil dengan kamera SE K750 2.0 Megapixel.

Jejak Perjalanan Menuju Kota Singaraja



Senja telah jauh tergulung langit malam ketika saya melaju di atas bis jurusan Surabaya. Malam hari sengaja saya pilih untuk perjalanan kali ini demi memangkas waktu tempuh. Maklum siang berpeluang besar macet.
Destinasi saya adalah Sririt, Kota Singaraja. Kalo kita membuka peta Pulau Bali maka letak Singaraja ada di ujung utara, ditandai bulatan warna merah dengan noktah hitam di tengahnya, sebagai simbol bahwa ia adalah ibukota kabupaten Buleleng.
3 setengah jam perjalanan Madiun-Surabaya saya sempat terlelap, untungnya suara kondektur bis yang seperti kaleng pecah membangunkan tidur saya yang telah memasuki fase REM (Rapid Eye Movement). Bis tiba di Bungurasih tepat saat adzan subuh berkumandang. Saya turun untuk menunaikan dua rakaat di masjid di seberang terminal.
Sebenarnya ada beberapa alternatif yang bisa dipilih untuk bertolak ke Banyuwangi dari Surabaya. Pilihan pertama, pergi ke stasiun terdekat lalu naik kereta api jurusan Ketapang, tapi saat itu tepat tengah malam, lagipula jadwal KA susah diprediksi. Alternatif kedua, naik bis malam jurusan Singaraja. Sejauh pengetahuan saya hanya ada dua PO yang punya otoritas mengangkut penumpang menyeberangi Selat Bali menuju Singaraja, PO Manggala dan Puspasari. Kelebihan naik bis malam jelas nyaman dan aman sampai tujuan, dan sesuai hukum alam kenyamanan itu tidak bisa dibeli dengan harga murah. Sekitar 120 ribu tarif bis malam Surabaya-Singaraja, dan saya harus realistis karena anggaran financial saya cukup terbatas untuk perjalanan ini, jadi pilihan kedua cukuplah sebatas wacana. Alternatif ketiga naik bis jurusan Muncar langsung nyampe terminal Ketapang, dan terakhir adalah naik bis jurusan Probolinggo. Alternatif terakhir inilah yang saya ambil karena lebih banyak pilihan bis.
Bungurasih dini hari tak ubahnya seperti siang yang redup, ibarat penonton Piala Dunia yang telah meneguk 7 cangkir kopi agar mata tetap terjaga, setengah dipaksakan. Diantara deretan koran dan tabloid yang bertengger di etalase kios tak berkaca, mata saya melirik berita kepindahan Samir Nasri dari Olimpic Marseille ke Arsenal di jendela transfer musim pertama, hehe sayang untuk dilewatkan, maklum saya memang penggemar The Gunners.
Lepas dari Surabaya, bis menembus fajar di Pasuruan. Saya tidak menyangka beberapa bulan setelahnya, nama Pasuruan akan terkenal karena tragedi zakat yang mengenaskan di daerah pinggiran ini.
Memasuki Probolinggo aroma pantai mulai tercium, karena Probolinggo berbatasan langsung dengan Laut Jawa di sebelah utara. Lalu saat matahari telah naik mengembangkan layar episode anak manusia di hari itu, saya harus estafet ke bis jurusan Banyuwangi. Jalanan masih sepi seperti kota yang baru saja membuka mata. Kemudian bis memasuki kabupaten Situbondo. Bagi saya Situbondo ibarat mutiara yang terbungkus lumpur, menunggu investor yang bisa mengeksplorasi kecantikannya yang tersembunyi. Ingat Situbondo, jadi ingat Pasir Putih. Dulu bermacam species kuda laut dan batu karang cantik banyak ditemui disana, ngga tau bagaimana eksistensi mereka sekarang, apakah masih bisa bertahan di tengah habitat yang mulai kronis akibat pencemaran.
Dan ujian sebenarnya dalam perjalanan ini adalah ketika bis memasuki alas Baluran di perbatasan Situbondo-Banyuwangi. Supir mengurangi kecepatan untuk menciduk penumpang semaksimal mungkin walaupun kurva bobot angkutan sudah melebihi batas maksimum. Penumpang masih terus dijejalkan. Bis benar-benar penuh, bahkan lorong antar kursi pun ngga bisa dilewati. Orang-orang berseragam hijau berpangkat kopral memenuhi kendaraan, plus pedagang-pedagang yang juga ingin menyeberang ke Gilimanuk. Di tengah bis yang padat massa, saya terjebak. Sebelah kiri, depan dan belakang saya dengan seenaknya orang-orang itu menyalakan rokok. Ya Tuhan, saya benar-benar terjebak, tak berkutik di tengah kepungan asap rokok. Panas, pengap, bau, seperti ikan yang terpanggang karbonmonoksida. Pembuluh darah saya terasa menyempit, dan saya pengin muntah. Alangkah senangnya kalo saja bisa muntah di depan mereka, hitung-hitung balas jasa atas asap rokok yang mereka sumbangkan pada paru-paru saya. Rasanya antara hidup dan mati. Sungguh manusia-manusia cerobong asap yang merokok di dalam bis, tidak berperi kemanusiaan. Pantas diadili di mahkamah internasional lalu dimasukkan di penjara Azkaban bersama para dementor di buku Harry Potter.
Penyiksaan itu berakhir di terminal Ketapang. Saya turun dan beristirahat sejenak untuk mengembalikan kewarasan saya setelah beberapa jam terjebak oleh kepungan manusia-manusia cerobong asap. Mengisi perut saya yang mulai protes meminta jatah sarapan.
Syukurlah saya bisa bertemu nasi pecel di sana… hehe. Dasar lidah Madiun, ke manapun yang dicari ya nasi pecel walaupun lidah saya telah mati rasa bercampur mual kebanyakan suplai TAR, CO, dan nikotin.
Ya, perjalanan menuju Singaraja masih di seberang mata dan saya harus bersiap mental menghadapi apa lagi yang ada di depan sana. Sampai jumpa di perjalanan berikutnya.

Fenomena Ponari dan Batu Bertuah

Ponari dan Batu bertuah, mengingatkan saya pada buku Harry Potter jilid 1 "Harry Potter and The Sorcerers Stone" hehe... melihat ramainya pemberitaan di media soal Ponari dan batu ajaibnya, benar-benar menggelitik logika saya. Simpul-simpul neuron otak saya seperti kena kejut, terheran-heran, lantas terbengong-bengong. bukan karena kehebatan sang batu yang dibilang orang bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit, tetapi shock menelan pil realita bahwa masyarakat kita masih tunduk pada hal-hal yang menyerempetkan iman pada jurang kesesatan nomor 1 yaitu kesyirikan.
memang masalahnya lebih kompleks dari itu, lemahnya kualitas pelayanan kesehatan bagi rakyat kecil, biaya obat dan dokter yang makin mahal, terbatasnya tenaga medis di pelosok diindikasi menjadi beberapa penyebab mengapa puluhan ribu orang rela mengantre demi mendapat "berkah kesembuhan" batu Ponari.
secara ilmiah jelas belum ada postulat yang membenarkan kesahihan sang batu. tetapi ketika sakit telah bersarang pada diri, berbagai obat telah diminum, puluhan dokter telah di datangi, tetapi penyakit ngga kunjung sembuh, maka kekerdilan imanlah yang pada akhirnya mengantarkan kita pada hal-hal unlogic semacam ini.padahal jelas bahwa sakit adalah ujian, ujian untuk mendekatkan kita pada Sang Pemilik Jiwa kita. Ketika mampu dihadapi dengan sabar, maka imbalannya adalah gugurnya dosa-dosa. maka apakah pantas jika manusia yang kerdil dan lemah menyandarkan hidupnya hanya pada sebutir batu ? Andrea Hirata menyebutnya : Obsesif Kompulsif terhadap batu Ponari. Menggelikan sekaligus mengenaskan.

Catatan Perjalanan


Kali ini bis Sumber Kencono membawa saya ke Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Saya perkirakan perjalanan ini akan memakan waktu kurang lebih 3 jam, hanya selisih sedikit dari jarak tempuh Madiun-Solo. Tapi ternyata kalkulasi saya salah besar, nilai galat perhitungan waktu saya meleset jauh dari kenyataan. 
Melewati RS Muwardi, saya berhenti di Tirtomoyo untuk berganti bis kecil jurusan Bulu-Kelir. Wahyu Putro, nama bis itu, membawa saya dengan laju tak lebih dari 30 km/jam lambat merayap laksana pawai 17 Agustus, melalui sudut-sudut kota Solo di siang hari yang padat pemukiman. Tak jauh berbeda dengan Madiun, sepanjang jalan dipenuhi gambar-gambar anak manusia yang ingin duduk di kursi wakil rakyat, apalagi saat itu bersamaan dengan Mukernas PDI-P yang bertempat di The Sunan Hotel. Aroma pemilu makin terasa tajam siang itu.
Tujuan saya adalah desa Gentan, Kecamatan Bulu, kediaman sahabat saya, sekaligus untuk berziarah ke makam ibunya yang meninggal beberapa waktu lalu. 
Lepas dari kota Solo memasuki kabupaten Sukoharjo, sawah-sawah hijau muda dengan ujung keemasan terbentang, mengingatkan saya bahwa masyarakat sekitar masih menyandarkan hidupnya pada pertanian. Bis mulai meningkatkan kecepatan, mungkin karena sadar tidak ada penumpang yang bisa diangkut di jalur itu. Suara Koes Plus bersaudara masih setia mengalun dari tape recorder karatan yang terletak di dekat sang supir bis. Saya sempat khawatir karena di depan saya melihat tulisan besar tertera “Selamat Datang di Kabupaten Wonogiri”. Apakah saya sudah terlewat ? Maklum ini kali pertama saya ke sana hanya berbekal petunjuk alamat dari sms. Ternyata jalur bis untuk menuju Kecamatan Bulu memang harus melewati Wonogiri terlebih dahulu, lalu memutar ke barat ke arah Kelir.
Turun dari bis, hawa sejuk perbukitan berhembus menjemput wajah saya. Tepat 5 jam perjalanan di atas bis dari Madiun hingga Bulu Sukoharjo, persis jarak tempuh Madiun-Jogja. Dengan berjalan kaki saya melewati rumah-rumah peduduk yang sangat sederhana di kelilingi hutan jati. Jalanan sangat sepi meski jam menunjukkan angka 11.16 siang. Saya bahkan bisa mendengar desis suara serangga dari pohon-pohon jati di sekeliling saya. Kurang lebih 1 kilometer saya berjalan hingga bertemu sahabat saya tepat di depan pemakaman. Tanah pekuburan masih basah karena hujan semalam, dan bunga mawar yang ditaburkan di atasnya belum lagi kering. Untuk sejenak saya memunajatkan doa untuk sang penghuni kubur, ibunda dari sahabat saya tercinta.
Dia masih sama seperti dahulu, masih mahasiswa UNS semester 10 yang pending skripsi gara-gara proposal ditolak DP II. Hanya bapaknya yang tampak lebih tua dan lelah, maklumlah terakhir kali bertemu beliau 6 tahun yang lalu. Kesedihan telah kehilangan istri tercinta terlihat dari sorot mata dan bias wajah beliau yang sederhana. Saya menyesal tidak bersilaturrahim lebih awal sebelum musibah ini terjadi. Tapi apa mau dikata, semua sudah terlambat. 
Jadwal mengajar kelas malam  tidak memungkinkan saya untuk berlama-lama. 14.30 saya pamit pulang. Bis “Wahyu Putro” yang kembali mengangkut saya melaju lebih cepat daripada perjalanan berangkat tadi. Dan untuk kedua kalinya hari ini, kecelakaan sepeda motor kembali terjadi di depan mata saya. Darah berceceran, membuat perut saya langsung mual pingin muntah. Memang ada phobia tersendiri dengan cairan berwarna merah itu. Pelajaran moral no 17. Buat semuanya saja, hati-hati benar kalo naik sepeda motor, ini peringatan!
Hujan deras kembali mewarnai perjalanan kali ini. Saya mengambil headset dan menemukan frekuensi radio anak Solo yang bahasanya sudah “loe-gue”… benar-benar ngga mau kalah sama ibukota. 
Menjauhi kota Solo, hujan semakin deras membuat pemandangan luar dari jendela bis tampak kabur tetapi tidak menyurutkan semangat pengamen bisu yang mencoba bernyanyi atau lebih tepatnya berteriak terbata-bata di depan saya. Tuhan, lidah saya kelu melihatnya. Potret lain dari jahatnya kemiskinan. 
“Dear God” yang dinyanyikan Avanged sevenfold mengalun pelan, membawa ingatan saya pada kepingan-kepingan hikmah yang harusnya mampu saya tangkap dari perjalanan ini. Hidup, nasib, dan kematian semua ada yang berkuasa mengaturnya, dan kita hanya bisa pasrah.  



Serenada Kereta Senja


Jam digital di Sony Ericsson saya menunjukkan angka 15.46. Kereta Pasundan itu datang tepat waktu, bisa dibilang sesuatu yang jarang terjadi pada jadwal kereta kelas ekonomi. Rencana awalnya, dari stasiun Lempuyangan, saya dan sahabat saya akan naik Pramex turun di Solo Balapan, lalu menggunakan bis untuk menuju Madiun. Tapi beruntung ada kereta Pasundan jurusan Madiun yang jadwalnya hampir bersamaan dengan Pramex. Dan untungnya lagi, baru beberapa menit di atas kereta yang penuh anak manusia, hujan turun dengan deras. Paling tidak kami ngga harus kehujanan di halte bis seperti rencana kami awalnya.
Dari stasiun satu ke stasiun berikutnya, penumpang turun dan naik silih berganti. Sampai akhirnya kami mendapatkan tempat duduk yang cukup nyaman tepat di samping jendela yang bingkainya uda berkarat dengan kaca yang tak lagi utuh. Sahabat saya tampak asyik bercakap-cakap dengan ibu paruh baya yang duduk di sebelahnya, tipikal wanita yang sanggup menghabiskan waktu seharian hanya untuk shopping …(hehe.. habis kelihatan dari 4 tas belanjaan berisi kain dan sandal yang diburunya dari Beringharjo ).  
Saya memilih mengeluarkan Maryamah Karpov dari ransel butut di pangkuan saya. Menekuni lembar demi lembar perjalanan Ikal sambil sesekali melihat ke arah luar jendela. Gradasi langit tak begitu kontras senja ini, hanya warna putih pucat yang menyisakan gerimis yang tidak mempedulikan tubuh-tubuh basah kedinginan para pengadu nasib. 
Sementara itu pedagang-pedagang asongan terus berseliweran ngga kenal lelah, melompat dari gerbong satu ke gerbong berikutnya seperti arus kendaraan  saat mudik lebaran, rame. Menawarkan dagangan dengan semangat 45, seperti penjual aqua yang masih juga kekeh menawari saya minuman itu untuk kali ke-11 sejak saya duduk di kereta meskipun saya telah mengatakan tidak juga untuk ke-11 kalinya.
Kadang kemiskinan membuat orang menjadi sangat kreatif. Seperti halnya profesi-profesi yang berkantor di atas kereta ini. Mulai dari pedagang minuman sampai pedagang alat pijat, pengamen yang lebih mirip preman sedang memalak korbannya, lalu ada juga profesi penjaja jasa sapu gerbong yang memang sudah dipenuhi bungkus sampah makanan sampai-sampai kereta ekonomi ini menciptakan ekosistem tersendiri bagi semut, lalat, kocoa, dan makhluk bersayap lainnya (thank God saya belum pernah ketemu tikus selama pengalaman naik kereta). Kemudian ada juga orang yang tiba –tiba menyemprotkan cairan dari botol bertuliskan Bayfresh ke muka kita lalu menodongkan tangan minta bayaran. Kereta Ekonomi jurusan Surabaya-Madiun jauh lebih "angker", kalo ada pengamen yang genjrang-genjreng lalu kita pura-pura tidur, jangan harap mereka bakal berlalu begitu saja. Frekuensi nada suara mereka yang minor-tenor justru bakal makin ditinggikan. Sebuah intervensi terhadap kenyamanan penumpang yang teramat santun. Benar-benar orang-orang ini jeli melihat peluang sekecil apapun untuk mendapatkan sekeping receh demi bertahan hidup. Sementara di sudut lain yang hangat, bapak-bapak berdasi yang memanggul amanah besar nasib rakyat tertidur nyenyak di atas kasur busa hotel bintang lima setelah kekenyangan menikmati jamuan dinner dengan orang-orang yang ingin memuluskan proyek illegal mereka. 
   



Mencintai Trigonometri


Saya masih ingat betul bagaimana saya begitu membenci materi pelajaran yang satu ini di kelas 2 SMA dulu. Trigonometri yang dipenuhi pengembangan rumus-rumus, dalil pembuktian, dan aplikasinya dalam teorema limit maupun kalkulus integral benar-benar bikin kepala saya rasanya berpindah dari tempat yang semestinya. Di mata kuliah trigonometri semester 1 pun saya belum juga menemukan intisari trigonometri, dan dengan lapang dada saya menerima predikat nilai c yang dihadiahkan dosen saya tercinta.
Kemudian ujian sebenarnya itupun dimulai. Saya harus membimbing siswa kelas 2 SMA yang kebetulan menanyakan tugas sekolah tentang trigonometri. Satu jam saya tidak berkutik. Bisa membayangkan apa yang saya rasakan saat itu ? Rasanya ada mercon 46, 7 kg yang meletus di kaki saya yang bisa bikin tubuh saya terlempar jutaan tahun cahaya dari bumi…..weks!!!
Yang jadi keprihatinan disini siswa yang saya ajar tadi notabene adalah adik kelas saya satu almamater, guru matematika yang mengajarnya secara kebetulan yang aneh adalah guru saya juga, dan soal trigonometri yang dibawanya adalah soal yang sama pernah diberikan kepada saya waktu sekolah dulu, dan saya masih belum juga mampu menaklukkan soal itu hingga jelang beberapa tahun berikutnya. Memalukan memang … hiks!!!
Sejak detik itu ekspedisi saya menjelajahi dunia trigonometri dimulai. Menyelami ilmu yang dikembangkan oleh Hiparcus dari Alexandria 2200 tahun lalu ini ternyata begitu mempesona. Ternyata ribuan tahun lalu bangsa Yunani telah mengenal aplikasi perhitungan trigonometri untuk menghitung panjang lintasan orbit yang dilewati bintang-bintang. Lalu kemudian ilmu yang menawan ini terus berkembang secara luar biasa. Adalah Abul Wafa Muhammad Ibn Muhammad Ibn Yahya Ibn Ismail al-Buzjani (940 M), seorang ilmuwan Muslim yang meletakkan dasar-dasar teori relatif segitiga parabola dan mengembangkan hubungan sinus dan formula 2 sin2 (a/2) = 1 - cos a dan juga sin a = 2 sin (a/2) cos (a/2) yang akhirnya menghasilkan berbagai penjabaran sudut ganda, penjumlahan dan pengurangan dua sudut dalam perbandingan sisi-sisi segitiga, aturan perkalian sinus kosinus dan tangen. Intisari lain dalam trigonometri adalah konsep kuadran yang secara misterius membagi lingkaran 360 derajat ke dalam empat daerah dengan sudut siku-siku  yang kongruen tetapi memiliki nilai positif negatif perbandingan segitiga yang berbeda.
Kalo saya boleh sedikit membagi sedikit kunci menguasai Trigonometri SMA buat adik-adik di sekolah, yaitu dengan memahami konsep kuadran dengan menggunakan diagram. Memahami dimana letak negatif/positif sinus, cosinus, dan juga tangen dalam kuadran tersebut. Lalu menguasai rumus sudut ganda untuk sin dan cos karena kedua jenis rumus ini bakal sering dipake untuk penyelesaian limit trigonometri. Selain itu beberapa rumus penjumlahan/pengurangan sinus maupun kosinus karena rumus ini akan bermanfaat dalam penyelesaian soal-soal integral dan diferensial trigonometri. 
Sekarang, melihat murid-murid saya menderita mengerjakan soal-soal trigonometri, rasanya pengin tersenyum penuh kemenangan, menikmati indahnya pembalasan dendam….(jahat ya ? hehe..).


Kultus Seragam

Di saat krisis global memberi efek negatif terhadap pergerakan sektor ekonomi dan menyebabkan PHK jutaan karyawan di skala domestik maupun internasional, dunia pendidikan tetap menyediakan lapangan kerja yang abadi. Khususnya sektor pendidikan nonformal. Sayang sekali kebanyakan dari kita lebih memburu sesuatu yang “kasat mata”, atau terus terang saya menyebutnya “SK dan seragam”. Maklum, kultur masyarakat kita masih terjebak pada pola kuno bahwa pegawai instansi dengan seragam yang menempel di anggota badan memberi kesan prestise lebih, paling tidak di depan mereka yang bukan pegawai kantoran.
Sebagai contoh nyata adalah teman saya sendiri yang notabene produk kampus dan saya anggap punya pemikiran lebih maju satu digit dibanding yang lain. Seringkali dia menyindir saya untuk segera mencari pekerjaan. “Maaf ??....” Tentu saja saya bingung dengan maksud kata-katanya mencari pekerjaan. Dalam definisi saya, bekerja adalah ketika kita mampu menghasilkan materi dalam hal ini uang, dengan kemampuan, keahlian, kecakapan yang kita punya di suatu bidang, entah itu berupa produk barang atau jasa (dengan usaha-usaha yang halal tentunya). Dan seingat saya, sudah sejak lima tahun lalu saya melakukannya (yaitu sejak saya masih kuliah di semester 3), dengan menjadi tutor matematika anak-anak sekolah, baik sebagai tutor lepas maupun di bimbingan belajar.
Ternyata dalam bingkai pemikiran teman saya tadi, yang dia anggap bekerja adalah ketika seseorang sudah bernaung di satu instansi resmi, memakai seragam (lebih bagus lagi kalo seragam PNS), dan punya SK. Ngga peduli walaupun harus menempuh jarak puluhan kilo setiap hari dengan honor yang kadangkala hanya sebanding dengan 1 liter bensin dikali 10 tiap bulannya, yang penting uda pake seragam dan namanya tercantum dalam database pemerintah, selanjutnya tinggal nunggu pengangkatan. Itu baru namanya kerja versi teman saya. Hhmmm, Paradoks. (catatan : tentu yang saya maksud disini bukanlah beliau-beliau yang memang secara tulus mengabdikan diri untuk pendidikan di pelosok lho…)
Saya lalu membandingkan dengan kawan-kawan blogger yang hanya dengan duduk di depan computer, kadang berkantor hanya di warnet, tanpa pake atribut kebesaran bernama “seragam”, dan tidak bernaung pada instansi manapun, tetapi mampu menghasilkan ratusan dollar per bulannya. Paradoks jilid dua.
Lagi-lagi kita dihadapkan dengan stigma yang telah menjelma menjadi kultur. Sebuah pandangan kuno ala masyarakat tradisional yang mengkultuskan seragam sebagai simbol prestise keagungan.
Padahal kalo kita mau membuka paradigma kita lebih luas, lihat saja bagaimana Purdi E. Chandra mengembangkan Primagama hingga menjadi bisnis multi frenchise di lebih dari 106 kota yang menghasilkan 70 milyar per tahun. Juga Ir. Ciputra, sang begawan properti yang rela meninggalkan zona nyamannya untuk membangun bisnis real estate yang sangat berpengaruh di Indonesia. Mereka memulai dari nol, dan tanpa seragam.
Saya tidak bisa menyalahkan sepenuhnya mereka yang beranggapan bahwa kerja kantoran adalah kerja yang paling ideal bagi seorang yang bergelar sajana. Itu adalah produk berpikir yang telah mendarah daging ditanamkan keluarga, masyarakat, dan televisi.
Saya kira intinya adalah sekali lagi mengubah paradigma terhadap definisi bekerja itu sendiri. Berapa banyak para sarjana kita yang berpredikat cumlaude menganggur bertahun-tahun menunggu tes CPNS yang ngga jelas proses rekrutmennya, dan malu untuk memulai berwiraswasta. Bukankah seharusnya kaum intelektual mampu menciptakan lapangan kerja? Bukannya mencari kerja?
Sebenarnya kalo kita jeli, banyak peluang usaha yang mampu menghasilkan rupiah. Kuncinya adalah peka terhadap sekitar, kalkulasikan antara kemampuan dengan usaha yang akan dijalani, senantiasa belajar, tidak malu untuk memulai dan menghilangkan kultus terhadap seragam.

Lelaki Subuh

Mungkin inilah hikmahnya dapat jadwal siaran pagi hari. Berangkat subuh-subuh dengan kondisi udara sekitar 15 derajat celcius, di bawah bayang-bayang halimun yang masih menyelimuti jalanan. Tapi di situlah nilai lebihnya, saya bisa melihat kehidupan lain yang tidak akan dapat saya temui ketika matahari beranjak tinggi. Suasana yang masih lengang justru menarik saya untuk mengamati gerak-gerik manusia yang saya temui di sepanjang jalan. Pedagang sayur, merekalah pihak-pihak yang menguasai jalanan di pagi buta. Dan mereka selalu diburu waktu, itulah kesan yang saya tangkap tiap kali berpapasan dengan profesi itu.
Lalu saya selalu berpapasan dengan laki-laki ini, seorang pria paruh baya yang saya perkirakan usianya seumuran dengan proklamasi kemerdekaan RI pertama kali. Rapi dan bersahaja, begitulah impression yang melekat pada tubuh ringkih itu. Dengan sehelai baju batik lengan panjang, celana kain dan sandal jepit, potongan rambut warna keputihan yang tersisir rapi ke belakang, serta tas bahu di lengan kanan. Laki-laki itu selalu berjalan kaki ke barat, satu arah mata angin dengan saya. Saya menyebutnya lelaki subuh.
Saya tidak pernah tahu sudah berapa kilo dia berjalan kaki dari rumahnya dan kemana tempat yang ia tuju. Setiap pagi tiap kali saya berpapasan dengan lelaki subuh, otak saya selalu sibuk merangkaikan kemungkinan-kemungkinan tentang pekerjaan apa yang dilakukan bapak paruh baya ini. Dimana dia tinggal ? Apakah dia memiliki anak? Apa mungkin anaknya seumuran dengan saya ? mengapa dia selalu berjalan tertunduk? Apakah dia seorang kuli di pasar besar Madiun ? Rasanya peluangnya kecil karena pakaiannya cukup rapi untuk ukuran seorang kuli pasar. Tidak mungkin juga dia pedagang sayur karena dia tak membawa barang dagangan apapun selain tas kecil di bahunya. Di sepanjang perjalanan saya mencoba mengkalkulasi berbagai probabilitas profesi yang mungkin dilakukannya.
Beberapa minggu terakhir ini saya tak melihatnya. Sudah pekan kelima, dan itu artinya satu bulan lebih saya tidak berpapasan dengan lelaki subuh itu. Entah apa yang terjadi. Saya pernah sekali melihatnya mengayuh sepeda jengki tua warna biru. Apa mungkin sekarang dia berangkat dengan naik sepeda ? saya berusaha berangkat lebih awal, tapi saya tidak juga menjumpainya. Saya coba mengurangi kecepatan dan berusaha tidak melewatkan setiap pejalan kaki yang saya lewati, tetapi nihil, dia tidak ada. Lelaki subuh seperti hilang tertelan kabut.
Siapapun dia, lelaki subuh itu telah menjadi salah satu cerita yang membingkai perjalanan pagi saya antara rumah dan studio. Dia menjadi potret tentang hidup. Potret prjuangan lelaki tua yang mengajarkan saya tentang berharganya masa muda. Dirinya ibarat cermin pribadi tangguh yang tak mau dikalahkan oleh senja. Lelaki subuh telah memberi saya pelajaran hidup meski saya tak pernah mengenalnya.