Episode Tentang Bunga



Facing the sky


Young rose



Bloomy rose



Water jasmine


White rose


Fresh red



The orchid


Grass flowers


Grass flowers (2)


Young rosela


Bloomy rosela



" KADANG SATU GAMBAR TELAH MEWAKILI SERIBU KATA...."

(Gambar diambil dengan Sony Ericsson K750)





Lebaran, lalu...


Ramadhan telah mengkhatamkan episodenya di tahun ini. Syawal yang berbalut hujan sudah menyapa satu pekan. Kesibukan mempersiapkan Idul Fitri terbayar dengan lunas. Sanak kerabat yang mudik kini bertolak ke kota masing-masing.


Terbesit tanya, lantas apa yang tersisa di lembar catatan hati ini ? Baju baru yang menggantung di lemari, yang sebenarnya telah sesak dengan isi? Atau bertoples-toples kue buat simbol gengsi ? Atau rasa capai dan letih setelah berdesak-desakan di mall ? Benarkah hanya itu yang tersisa…


Lalu dimana ritual keshalihan yang ditempa madrasah Ramadhan itu? Sebagai renungan buat diri sendiri, saya coba mengutip pandangan ulama yang mengatakan indikasi “lulus” tidaknya seorang hamba dari madrasah Ramadhan dapat dilihat dari dua hal, yakni tingkat keshalihan individu dan keshalihan sosial.


Keshalihan individu bisa kita rasakan dari konsisten tidaknya amalan fardlu maupun sunnah yang kita lakukan pasca Ramadhan. Sementara keshalihan sosial bisa tercermin dari peka tidaknya kita terhadap sesama, sebab puasa telah mengajari kita merasakan lapar dan dahaganya kaum tak berpunya. Maka kedermawanan itu mudah-mudahan tak akan menguap bersama perginya Ramadhan. Santunan terhadap anak-anak yatim semoga tak hanya ramai hingga takbir menggema.


Mudah-mudahan penantian panjang kita selama setahun menunggu Ramadhan tak hanya menyisakan letih dan baju baru semata.…


picture is taken from here


Quote of The Day

KEKUATAN PIKIRAN


Jika keyakinan kita mantap, semua variabel di alam semesta akan mendukung keyakinan tersebut. Hal-hal rasional seakan tidak berlaku lagi, hukum alam seakan "berhenti". Sebab kita telah bermain dalam dimensi lain.


(Tauhid Nur Azhar)

Manusia-manusia Cerobong Asap


“Assalamualaikum, bagaimana ya caranya mengingatkan orang yang merokok di dalam bis umum?”, begitulah kira-kira bunyi pesan pendek yang dikirim seorang sahabat. Saat mengirim sms itu ia memang sedang dalam perjalanan di atas bis dengan fasilitas plus-plus, yaitu full musik dangdut dan gratis mandi asap rokok sepuasnya. Serasa menikmati sauna dengan aroma terapi TAR, dipadu karbonmonoksida lantas disempurnakan dengan komposisi nikotin.

Saya yakin potret itu bisa saja terjadi pada setiap kita. Pada anda, saya, atau orang-orang yang merasa terdzalimi haknya karena ada orang yang merokok di tempat-tempat umum tanpa rasa bersalah sama sekali. Dalam kotak imajinasi saya, perokok-perokok ini ibarat manusia-manusia cerobong asap ;-p (maaf......hehe). Bukannya saya membenci perokok, toh merokok adalah prerogatif masing-masing. Akan tetapi ketika aktivitas merokok itu dilakukan di tempat-tempat publik , tidakkah terpikir asap yang dihasilkan akan mengganggu orang lain?

Hak hidup jelas diatur dalam hukum dasar manusia termasuk konvensi PBB, sedangkan untuk hidup manusia butuh bernapas. Jika dalam proses bernapas itu ada zat-zat membahayakan dari asap rokok yang disumbangkan para perokok di sekitar kita, apakah itu tidak melanggar hak hidup juga namanya ? Apalagi menurut sejumlah riset, perokok pasif menerima 75 % dampak dari asap rokok yang dihirup akibat berada dalam radius yang dekat dengan perokok aktif.


Gambar diambil dari sini


Perjalanan dengan naik bis umum atau KA ekonomi sebenarnya sangat menyenangkan , karena saya bisa mengamati perilaku orang-orang dengan rentang kasta yang berbeda-beda, mendengar dialek-dialek yang polos dan meriah seperti pasar malam, plus live music dari para pengamen jalanan. Dari itu semua alasan yang paling rasional tentu karena tarifnya yang cocok dengan kantong saya. Namun yang menjadi pantangan terbesar adalah mendapat tempat duduk di dekat perokok. Fiuhhh, dan beruntungnya saya sebab hampir setiap perjalanan selalu saja ada momen-momen menyiksa semacam ini.

Pernah suatu ketika dalam perjalanan melewati alas Baluran di perbatasan Situbondo-Banyuwangi. Supir bis mengurangi kecepatan untuk menciduk penumpang semaksimal mungkin walaupun kurva bobot angkutan sudah melebihi batas maksimum. Penumpang masih terus dijejalkan. Bis benar-benar penuh waktu itu, bahkan lorong antar kursi pun tak bisa dilewati. Orang-orang berseragam hijau memenuhi kendaraan, plus pedagang-pedagang yang juga ingin menyeberang ke Gilimanuk.


Di tengah bis yang padat massa, saya terjebak. Sebelah kiri, depan dan belakang saya dengan seenaknya orang-orang itu menyalakan rokok. Ya Tuhan, saya benar-benar terjebak, tak berkutik di tengah kepungan asap rokok. Panas, pengap, bau, seperti ikan yang terpanggang karbonmonoksida. Pembuluh darah saya terasa menyempit, dan saya pengin muntah. Alangkah senangnya kalo saja bisa muntah di depan mereka, hitung-hitung balas jasa atas asap rokok yang mereka sumbangkan pada paru-paru saya. Rasanya antara hidup dan mati. Sungguh manusia-manusia cerobong asap yang merokok di dalam bis, tidak berperi kemanusiaan. Pantas diadili di mahkamah internasional lalu dimasukkan di penjara Azkaban bersama para dementor seperti di cerita Harry Potter : D hihihihi.....


***


Yah, itu hanya satu penggal pengalaman, sahabat. Sebenarnya tiap daerah bisa saja memberlakukan Perda tentang kawasan bebas rokok. Jakarta dan Surabaya sudah memulainya meski implementasinya masih jauh dari harapan. Selain sosialisasi yang kurang maksimal, minimnya kesadaran individu juga menjadi faktor gagalnya realisasi peraturan tersebut. Saya rasa tanpa Perda sebenarnya kawasan bebas rokok (dalam hal ini tempat-tempat publik, termasuk transportasi umum) bisa ditegakkan. Asalkan ada kesadaran dan penghormatan akan hak orang lain.




Kesederhanaan itu bernama Don Hasman

Sekilas sosok itu terlihat biasa saja. 70 tahun usianya mengarungi juring kehidupan, sama sekali tak nampak dalam guratan senyumnya yang bersahaja. Tubuhnya masih tegap, siap menyapu halimun Everest. Kata-katanya sederhana sarat makna, mengalir dalam tiap kisah perjalanan hidupnya menjelajah benua.

Laki-laki itu bernama Don Hasman. Jujur saya tidak tahu banyak tentang Om Don selain dari literatur-literatur yang saya googling dari internet. Pengalaman hidupnya, perjalanannya menyinggahi berbagai sudut dunia, karya fotografinya selama berpuluh tahun , dedikasi dan pengabdian terhadap profesinya sebagai fotografer kelas dunia. Sampai seorang kawan mengenalkan saya dengan sosok sederhana itu dalam sebuah kesempatan beberapa waktu lalu. Saking takjubnya saya sampai spechless, ‘ndesoni’ barangkali. Kharisma lelaki yang seumuran dengan mbah saya itu lah membuat saya kehilangan jurus interogasi yang biasanya jadi gaya saya selama ini.

Don Hasman. Kalau menyimak penggalan episode perjalanannya di dunia fotografi sejak puluhan tahun lalu, saya kira semua akan sepakat Om Don sangat berbakat. Karya fotografinya selalu memberikan sudut pandang yang berbeda, unik, di luar mainstream, unpredictable. Lihat saja ‘kegilaannya’ mempelajari lalu mengabadikan kehidupan suku Asmat di Papua, Suku Tengger di Jawa Timur, kelompok orang Kubu di Sumatra, juga karya fotografinya mengabadikan jalur ziarah Santiago de Compostela dan Finisterrea Spanyol utara dengan berjalan kaki sejauh 1000 km dalam 35 hari, tiga tahun lalu. Dan jarak ini ditempuhnya dalam usia yang tak lagi muda.

Mengawali karir sebagai wartawan di sejumlah harian, ditemani kamera second kelas empat , Om Don berguru pada pengalaman secara otodidak dengan sempurna. Hingga kini masih menjadi Ketua Asosiasi Fotografer Indonesia. Pengalaman memang guru yang terbaik, kan? Saya kira yang membuat karya-karya seorang Don Hasman istimewa adalah karena ia melakukan semua itu dengan hati. Ada makna yang tersirat dalam tiap hasil bidikan gambarnya. Satu kalimat yang saya catat betul dari lelaki ini adalah tentang ketulusan untuk berbagi. Ketika kita bisa berada di satu tempat yang tak terjangkau bagi orang lain, bagilah itu! Abadikan momennya, biarkan orang lain turut menikmati apa yang kita juga nikmati. Sekalipun itu hanya dalam bentuk gambar photo. Maka tak heran ketika Don Hasman ditawari sekian ratus dollar setelah menjadi pemandu dalam sebuah perjalanan di luar negeri, ia menolak. “Sudah diberi kesempatan untuk membantu menjadi pemandu saja sudah syukur”, begitu katanya. Dari situ saya sadar, orang ini luar biasa. Maka tak heran Om Don sering menolak jika disiapkan hotel khusus untuk menginap selama mengisi berbagai undangan. Bahkan ia tak ragu membagi ilmunya secara Cuma-Cuma di seminar-seminar yang diadakan komunitas fotografi di seluruh Indonesia.

Menyerap pengalaman hidup sang fotografer yang sarat makna, menyimak berbagai ekspedisi dan pendakian yang dilakukannya sejauh ini, kadang menyiratkan pucuk-pucuk kerinduan akan kotak mimpi diri yang telah lama berkarat. Bertebaran di muka bumiNya, meneguk segala hikmah semesta, mencium aroma gletser kehidupan yang penuh tantangan, menggoda marabahaya di antartika, lalu menelan saripati makna yang tersimpan dalam tiap kepingan proton semesta.

Hmm, kisah Don Hasman sepertinya telah membangunkan kembali mimpi-mimpi seorang anak manusia di satu sudut bumi. Sedikit jejak impressive Don Hasman ini, mudah-mudahan memberikan inspirasi.


Don Hasman : Fotografi dan Kejujuran

(Indonesian Photo Magazine Online)


Don Hasman di depan karyanya saat berpameran di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. (TEMPO/M.Syaifullah)


Don hasman (kiri), saya (kanan), dalam seminar fotografi yang

diadakan Magetan Photography Community

SORE YANG VIOLET

Akhirnya bisa juga menulis dengan tenang. Setelah beberapa pekan terbelenggu dengan hal yang tak urgen tapi lumayan menguras perhatian.

Rindu sekali dengan suasana ini, duduk di balik jendela kayu sambil memandangi langit sore yang violet. Harum bau tanah basah yang menyegarkan, dan tembok berlumut yang eksotis. Bagi orang seperti saya itu sudah cukup merupakan kemewahan buat jiwa, tak akan setara meskipun ditukar dengan fasilitas di hall cafe beratapkan ukir-ukiran mahakarya Michelangelo, beralaskan porselen terbaik dari Dinasti Qin.

Menghirup sore yang beraroma vanila. Bercengkerama dengan angin musim kemarau yang mengintai dari balik tirai bulan Rajab. Suara gaduh suporter Indonesia Open yang mendukung Taufik Hidayat dari tabung ajaib bernama televisi di belakang saya seperti harmonisasi orkestra Hayden saja. Bisingnya knalpot sepeda motorsport yang digeber keras-keras di samping kantor kecamatan, yang biasanya memekakkan gendang telinga, sore ini layaknya alunan simponi Mozart yang riang. Nikmat, dan syahdu.

Jujur saya tidak tahu akan menulis apa. Saya juga tak tahu ke mana arah paragraf-paragraf ini. Yang saya tahu, saat ini saya kangen sekali menulis. Ya, kangen sekali.

Saya biarkan jari-jari ini menari di atas keyboard yang telah lama terindukan. Biarkan kran kerinduan mengalir membasahi sela-sela jiwa yang tertidur.

Mungkin saya hanya ingin menyapa anda, para sahabat tercinta. Mungkin juga saya hanya ingin menyapa tulisan saya sendiri yang beberapa waktu ini kehilangan tuannya.

“ Menulis sudah menjadi bagian integral dalam hidup. Maka jeda sedikit saja dari menulis, ibarat kehilangan satu bagian dari hidup”, begitu kata orang –orang pandai yang ada di koran.

Buat saya, menulis bagi diri sendiri adalah proses pelepasan sesuatu dari jiwa. Satu bentuk eksistensi bahwa kita bebas. Bebas dari aturan kebahasaan, bebas dari penentuan tema, bebas dari apa saja. Sebab kitalah yang menentukan segalanya. Kitalah tuannya.

Seperti juga sore ini, ketika saya membiarkan diri ini bebas terbawa ‘aliran’. Hanya menulis. Tanpa terikat tema, tanpa diperbudak aturan bahasa. Tanpa prediksi bagaimana saya harus mengakhiri paragrafnya. Tapi buat yang satu ini, saya sepakat dengan Jikustik untuk mengakhirinya dengan indah.

Selamat menikmati sore.

KALA


Hidup adalah sebuah pilihan. Tidak semua pilihan itu mudah. Kita harus menghitung, menimbang ke belakang, meraba masa depan yang masih tertutup kabut. Tapi bukankah itu yang diajarkan nasib ?


Tidak semua bisa memahami keputusan besar yang pada suatu ketika membelokkan peta rencana semula. Ada yang mencibir. Ada yang mengumpat. Ada yang coba membeli passion itu dengan iming-iming financial. Tapi otoritas untuk memilih ada pada pundak kita dengan segala konsekuensinya.


Kita bisa saja memilih untuk tetap berada di dalam tempurung yang sama, dengan jaminan financial cukup ‘stabil’ untuk ukuran orang udik yang tidak neko-neko. Akan tetapi hidup bukan semata masalah materi dan kepuasan raga. Ada kalanya sekam mimpi memantik dalam jiwa dan rindu untuk dinyalakan .


Ketika kita telah menghabiskan puluhan purnama bersama orang-orang terbaik yang mengajari kita banyak hal, tentu adalah hal berat memutuskan untuk pergi. Namun rindu akan dunia di luar sana terlalu lama terpendam dalam kotak mimpi yang telah berkarat. Maka perjalanan untuk mengembalikan mimpi-mimpi itu memang harus dibayar dengan pengorbanan, rasa kehilangan, serta ketidaktahuan akan apa yang akan dihadapi di depan sana.


Hidup bukanlah tentang hasil, akan tetapi tentang proses belajar. Belajar menemukan hal-hal baru yang akan membasuh kerinduan jiwa ini akan makna. Juga tentang pelajaran di setiap jengkal bumi yang dibentangkan-Nya.


Maka demi itulah sebuah keputusan harus ditetapkan. Bukan tentang untung rugi, atau semata-mata tentang materi. Akan tetapi hidup yang Cuma sesaat ini terlalu sia-sia jika tak ditempa dengan pengalaman. Terlalu gersang jika tak disirami dengan hikmah dalam tiap episodenya.



Fairytopia


Embun masih mendekap bumi manakala jarum hari membuka pagi

Gelap pekat, tapi aku terus berlari

Beradu dengan bayang-bayangku sendiri

H2O yang mengembun mencekat tenggorokan, tapi aku tak peduli

Napasku tersengal, tulang kakiku meronta manja

Tapi aku tak sudi berhenti, ragaku terus berlari

Petak-petak rumah berjajar berselimut lampu pijar

Seperti kunang-kunang yang diam tenang

Dalam imajiku hukum gravitasi berhenti

Gaya tarik bumi kehilangan supremasi

Tubuhku tiba-tiba saja terasa ringan tak bermassa

Aku melayang

Sweater lusuhku menjelma menjadi sayap Tinker Bell

Melaju menyusuri ruang-ruang hampa dalam negeri Fairytopia

Tanpa beban, tanpa duka mendera

Mencandai angin, menggoda rerumputan

Paru-paruku disesaki O2, tak direcoki karbondioksida

Nyaman, lega tak terkatakan, aku dilena orkestra alam Maha Sempurna

Tiba-tiba... Gawat... aku kehilangan keseimbangan

Bumi dan langit berkonspirasi menjeratku kembali dengan gravitasi

Aku tersedot dalam intensitas tekanan tinggi menukik tajam...

Braaakkkkkk…..

Aku terjatuh

Sakit

Une Femme Honorable


Takdir telah mencatatkan duka mendalam pada lembar sejarah Polandia manakala presidennya beserta sang ibu negara wafat dalam sebuah kecelakaan pesawat di langit Rusia beberapa waktu lalu. Catatan tragis ini lalu menggelitik rasa penasaran saya untuk mengenal Polandia lebih dekat.

Sejujurnya memang tidak banyak yang saya tahu tentang negeri di sebelah timur Belarusia ini. Hanya benderanya saja saya hafal yang sejak SD, persis dengan warna bendera NKRI tapi terbalik. That’s all.

Perjalanan di antara labirin-labirin rasa penasaran itu lantas menautkan saya pada sebuah memoar bertajuk “Une Femme Honorable”. Rekam jejak wanita kelahiran Polandia, 7 November 1867 bernama Marie Curie. Spontan ingatan saya melaju pada matrikulasi kelas 1 SMA sepuluh tahun yang lalu, bab Kimia Unsur. Terimakasih Tuhan telah memberikan guru kimia yang sangat brilian hingga saya masih bisa mengingat istilah "kimia unsur" yang terdengar begitu terpelajar dan sangat...buku.

Sebelum pembicaraan ini menyimpang terlampau jauh, saya ingatkan bahwa wanita yang kita bicarakan ini memang sosok yang luar biasa cerdas, tekun dan setia. Peraih nobel fisika tahun 1903 bersama sang suami, Pierre Curie, praksis Marie dan Piere mengabdikan hidupnya secara total pada penelitian tentang radium. Bahkan akibat intensitas pekerjaan keduanya di lab, baik Marie mapupun Pierre tidak sadar telah terimbas efek radiasi yang mematikan. Jari-jari Marie melepuh seperti terbakar, tubuh wanita ini pun menjadi lemah dan sering sakit-sakitan. Mereka tanpa sadar telah menjadi korban dari penemuan mereka sendiri. Sungguh ironis...

Tahun 1906, Pierre Curie meninggal dunia. Marie dilanda duka luar biasa. Duka inilah yang lantas mengilhaminya untuk menuliskan segala kesedihan itu pada lembar-lembar diari yang pada akhirnya diangkat menjadi biografi populer berjudul “Une Femme Honorable”(Wanita yang Mulia).


Going the extra miles... mungkin itulah kata-kata ajaib yang melecutkan bara semangat buat para pejuang hidup termasuk Marie Curie. sambil menyeka duka, ia terus menekuni penelitiannya tentang radium yang kelak akan sangat mempengaruhi kosmos politik dunia.

Tahun 1911, kedua kalinya Marie mendapatkan Nobel untuk keberhasilannya mengisolasi radium kali ini di bidang Kimia, tanpa Pierre...


Mudah-mudahan setangkup kecil biografi ini mampu menginspirasi kita ...





Bizarre Love Triangle- Frente












Every time I think of you
I get a shot right through
Into a bolt of blue
It's no problem of mine
But it's a problem I find
Living the life that I can't leave behind

There's no sense in telling me
The wisdom of a fool won't set you free
But that's the way that it goes
And it's what nobody knows
And every day my confusion grows

Every time I see you falling
I get down on my knees and pray
I'm waiting for the final moment
You say the words that I can't say

I feel fine and I feel good
I feel like I never should
Whenever I get this way
I just don't know what to say
Why can't we be ourselves like we were yesterday

I'm not sure what this could mean
I don't think you're what you seem
I do admit to myself
That if I hurt someone else
Then I'll never see just what we're meant to be

Every time I see you falling
I get down on my knees and pray
I'm waiting for the final moment
You'll say the words that I can't say




picture was taken from here

Hobi Fotografi


Seperti menulis, menekuni hobi fotografi ternyata menyenangkan. Bagi saya, ini cara lain menuai bulir-bulir makna dan rasa, karena setiap materi di jagat raya menyimpan hikmah jika kita mau menggali lebih dekat. Dan indah, kalau saja kita bersedia menggeser sudut pandang sebelumnya.

Virus inilah yang menggerayangi hasrat saya untuk terus mengasah kepekaan dari waktu ke waktu. Menajamkan insting, menangkap sudut-sudut hari yang seringkali terabaikan, lalu mengabadikannya dalam sekian ratus pixel gambar. Hehe, amatiran memang, tapi lumayan mengasyikkan.




Potret seorang tukang becak yang tertidur tentu tak pernah semenarik poster bergambar Dian sastrowardoyo yang aduhai dalam baliho iklan sabunnya. Tetapi satu bidikan gambar itu sudah cukup mewakili sosiokultur dan satire realitas kesejahteraan yang menghujam tubuh kurus seorang pejuang hidup. Dia kelelahan, maka ia tertidur. Bisa juga perutnya kosong sehingga ia lebih memilih tidur untuk melupakan demonstrasi sang usus. Dalam juring lingkaran waktu yang lebih luas, batin pun akan bertanya, lalu bagaimana jika ia pulang tanpa selembar rupiah? Bagaimana dengan si kecil yang minta jatah susu? Atau sang isteri yang menuntut dibelikan gincu? Hmmm, dari sini kita hanya diijinkan mengintervensi nasib si tukang becak sebatas dalam kotak imajinasi masing-masing, tidak lebih.




Potret “childhood” barangkali sangat biasa di mata banyak orang. Namun dalam prespektif lain, ini bisa bercerita tentang cermin masa lampau yang berbalut kepolosan sekaligus asa tentang masa depan. Lalu perjalanan itu akan mengantar kita pada kepingan kisah serupa, ketika jiwa belum lagi faham apa itu dosa, ketika bu guru menanyakan apa cita-cita kita, dan waktu belum lagi menyulam usia. Wajah-wajah innocent itu ibarat kertas putih yang beberapa tahun kemudian bisa menjadi merah, biru atau abu-abu tergantung kepada siapa yang mewarnainya.




Apa saja bisa menjadi objek fotografi. Namun setiap karya bakal melahirkan rasa dan sentuhan aura yang berbeda. Sangat intim, sangat personal, bahkan egosentris. Mungkin itulah yang membuat karya lukisan seorang Van Gogh begitu diagungkan, tanpa menafikkan fakta sejarah bahwa ia pernah memotong kupingnya sendiri gara-gara mengidap penyakit gila.




Di zaman serba digital seperti sekarang, saya rasa siapapun bisa bertransformasi menjadi fotografer amatiran. Kapanpun dimanapun. Karena spontanitas adalah salah satu prinsip acuan. Kepekaan sekitar sebagai bumbu katalisator. Dan ilmu sebagai penyempurnanya.

Hmmm, tak usahlah saya berbincang banyak tentang bab ini. Lha wong saya ini Cuma tukang foto jadi-jadian. Jadi mending pamit kabur dulu sebelum ada fotografer professional baca…


Award dari sastra-radio



Award dari de javu







PERCUMA


Kuseka mendung di langit timur


Berharap mentari mengeja sapanya


Nihil.


Seperti nisan yang membatu kubaca wajahmu


Tegap tak bergeming


Hingga nada-nada angin yang tersebar ke ufuk semesta


Menggema sia-sia


Duka purnama kali ini menggunung


Tersenyum pucat dibalik satire hujan


Kolase-kolase cinta itu seperti tertutup debu zaman


Terlupakan bersama bongkahan gletser yang mencair


dari puncak Karakoram keangkuhan


Melukis warna perih dalam setia yang kuseduhkan


Ibarat menangkap pelangi


Begitulah dimensimu


Dekat hakikat


Tapi tanpa kata


Kosong makna




Aksioma Rollercoaster

Hidup itu ibarat rollercoaster. Ada kalanya kita berada di atas, tetapi di lain episode roda nasib menggelindingkan kita jauh ke titik minimum dalam kurva hidup. Stagnan.

Maka aksioma itulah yang sedang saya renungi malam ini. Diiringi jarum jam yang berdetak, seirama desah nafas yang mengalun satu-satu, menyenandungkan serenada tentang muhasabah yang masih saja berselimut keangkuhan. Namun pada akhirnya berujung pada silogisme kepasrahan dan ketundukan yang tak sempurna. 

Perjalanan hati ini kemudian mengantar saya pada labirin kenangan bersama orang-orang yang meninggalkan jejak pelajaran hidup yang berharga. Bahkan lebih berharga dari buku mantra Hermione Granger yang super jenius. Ini tentang potongan-potongan kolase optimisme, kerja keras, serta mimpi-mimpi yang membentuk siapa diri kita seutuhnya. Serta kemana kita kan melangkahkan kemudi tujuan di esok hari. 


Saya melihat itu pada diri seorang kawan yang biasa saya panggil “kang”, karena secara kebetulan fakta penciptaan menggariskan kami lahir di hari dan tahun yang sama. Lalu secara sporadis dilemparkan oleh takdir lantas bertemu di tempat yang asing bagi kami pada awalnya. Mungkin kang tidak faham apa itu metafora. Mungkin juga dia tak faham tentang seni analogi bercerita apalagi euphoria sastra. Tapi saya tahu betul bagaimana masa-masa berat yang dulu dilakoninya sebagai bagian dari kaum marjinal, memaksanya bergelut dengan nasib yang tak bersahabat. Dia anak lelaki pertama. Tumpuan keluarga dengan kondisi orangtua yang sakit-sakitan. Saya juga tahu ketika dia harus bergadang setiap malam selepas “ngantor” demi mendapatkan tambahan rupiah. 

Saya masih hafal benar wajah ngantuk itu setiap pagi… tapi saya juga tidak lupa bahwa dia adalah seorang pejuang hidup yang tak pernah berhenti meyakini mimpi-mimpi. Dan itulah yang membuat dia mampu membangun istananya sendiri kini. Menjadi seorang dengan penghasilan tujuh hingga delapan digit setiap bulan, dengan gaya parlente setengah dipaksakan, plus perut sedikit buncit, ups……  dan bahasa Inggris yang luar biasa aduhai kacaunya. Saya rasa rollercoaster tengah membawanya pada perbukitan landai yang menenangkan sekaligus mendebarkan. Lalu secara perlahan mengantar Kang pada definisi kesuksesan dalam kacamata mimpinya selama ini. 


Terlalu picik jika saya mendefinisikan teorema kesuksesan hanya sebatas materi. Tetapi paling tidak, kang telah mengajari saya apa itu kekuatan mimpi. Bahwa kekuatan mimpi yang dikatalisator oleh kerja keras dan keuletan bisa mendorong ke mana pun sayap ini ingin mengepak. Barat atau utara, timur atau juga selatan. Seperti kata Arai, “Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu” (Sang Pemimpi). 


Maka kisah sederhana ini pun menundukkan keangkuhan saya untuk belajar menangkap kepingan proton makna yang tersebar di penjuru semesta. Bahwa siapapun, kapan pun, bisa menjadi guru hidup tanpa legalitas akta mengajar. Selama kita peka. Selama hati ini bersedia. Selama kedua bola mata tidak tertutup kabut kesombongan. Dan selama kedua telinga tak tersumbat nada-nada kepongahan.