KALA


Hidup adalah sebuah pilihan. Tidak semua pilihan itu mudah. Kita harus menghitung, menimbang ke belakang, meraba masa depan yang masih tertutup kabut. Tapi bukankah itu yang diajarkan nasib ?


Tidak semua bisa memahami keputusan besar yang pada suatu ketika membelokkan peta rencana semula. Ada yang mencibir. Ada yang mengumpat. Ada yang coba membeli passion itu dengan iming-iming financial. Tapi otoritas untuk memilih ada pada pundak kita dengan segala konsekuensinya.


Kita bisa saja memilih untuk tetap berada di dalam tempurung yang sama, dengan jaminan financial cukup ‘stabil’ untuk ukuran orang udik yang tidak neko-neko. Akan tetapi hidup bukan semata masalah materi dan kepuasan raga. Ada kalanya sekam mimpi memantik dalam jiwa dan rindu untuk dinyalakan .


Ketika kita telah menghabiskan puluhan purnama bersama orang-orang terbaik yang mengajari kita banyak hal, tentu adalah hal berat memutuskan untuk pergi. Namun rindu akan dunia di luar sana terlalu lama terpendam dalam kotak mimpi yang telah berkarat. Maka perjalanan untuk mengembalikan mimpi-mimpi itu memang harus dibayar dengan pengorbanan, rasa kehilangan, serta ketidaktahuan akan apa yang akan dihadapi di depan sana.


Hidup bukanlah tentang hasil, akan tetapi tentang proses belajar. Belajar menemukan hal-hal baru yang akan membasuh kerinduan jiwa ini akan makna. Juga tentang pelajaran di setiap jengkal bumi yang dibentangkan-Nya.


Maka demi itulah sebuah keputusan harus ditetapkan. Bukan tentang untung rugi, atau semata-mata tentang materi. Akan tetapi hidup yang Cuma sesaat ini terlalu sia-sia jika tak ditempa dengan pengalaman. Terlalu gersang jika tak disirami dengan hikmah dalam tiap episodenya.



Fairytopia


Embun masih mendekap bumi manakala jarum hari membuka pagi

Gelap pekat, tapi aku terus berlari

Beradu dengan bayang-bayangku sendiri

H2O yang mengembun mencekat tenggorokan, tapi aku tak peduli

Napasku tersengal, tulang kakiku meronta manja

Tapi aku tak sudi berhenti, ragaku terus berlari

Petak-petak rumah berjajar berselimut lampu pijar

Seperti kunang-kunang yang diam tenang

Dalam imajiku hukum gravitasi berhenti

Gaya tarik bumi kehilangan supremasi

Tubuhku tiba-tiba saja terasa ringan tak bermassa

Aku melayang

Sweater lusuhku menjelma menjadi sayap Tinker Bell

Melaju menyusuri ruang-ruang hampa dalam negeri Fairytopia

Tanpa beban, tanpa duka mendera

Mencandai angin, menggoda rerumputan

Paru-paruku disesaki O2, tak direcoki karbondioksida

Nyaman, lega tak terkatakan, aku dilena orkestra alam Maha Sempurna

Tiba-tiba... Gawat... aku kehilangan keseimbangan

Bumi dan langit berkonspirasi menjeratku kembali dengan gravitasi

Aku tersedot dalam intensitas tekanan tinggi menukik tajam...

Braaakkkkkk…..

Aku terjatuh

Sakit

Une Femme Honorable


Takdir telah mencatatkan duka mendalam pada lembar sejarah Polandia manakala presidennya beserta sang ibu negara wafat dalam sebuah kecelakaan pesawat di langit Rusia beberapa waktu lalu. Catatan tragis ini lalu menggelitik rasa penasaran saya untuk mengenal Polandia lebih dekat.

Sejujurnya memang tidak banyak yang saya tahu tentang negeri di sebelah timur Belarusia ini. Hanya benderanya saja saya hafal yang sejak SD, persis dengan warna bendera NKRI tapi terbalik. That’s all.

Perjalanan di antara labirin-labirin rasa penasaran itu lantas menautkan saya pada sebuah memoar bertajuk “Une Femme Honorable”. Rekam jejak wanita kelahiran Polandia, 7 November 1867 bernama Marie Curie. Spontan ingatan saya melaju pada matrikulasi kelas 1 SMA sepuluh tahun yang lalu, bab Kimia Unsur. Terimakasih Tuhan telah memberikan guru kimia yang sangat brilian hingga saya masih bisa mengingat istilah "kimia unsur" yang terdengar begitu terpelajar dan sangat...buku.

Sebelum pembicaraan ini menyimpang terlampau jauh, saya ingatkan bahwa wanita yang kita bicarakan ini memang sosok yang luar biasa cerdas, tekun dan setia. Peraih nobel fisika tahun 1903 bersama sang suami, Pierre Curie, praksis Marie dan Piere mengabdikan hidupnya secara total pada penelitian tentang radium. Bahkan akibat intensitas pekerjaan keduanya di lab, baik Marie mapupun Pierre tidak sadar telah terimbas efek radiasi yang mematikan. Jari-jari Marie melepuh seperti terbakar, tubuh wanita ini pun menjadi lemah dan sering sakit-sakitan. Mereka tanpa sadar telah menjadi korban dari penemuan mereka sendiri. Sungguh ironis...

Tahun 1906, Pierre Curie meninggal dunia. Marie dilanda duka luar biasa. Duka inilah yang lantas mengilhaminya untuk menuliskan segala kesedihan itu pada lembar-lembar diari yang pada akhirnya diangkat menjadi biografi populer berjudul “Une Femme Honorable”(Wanita yang Mulia).


Going the extra miles... mungkin itulah kata-kata ajaib yang melecutkan bara semangat buat para pejuang hidup termasuk Marie Curie. sambil menyeka duka, ia terus menekuni penelitiannya tentang radium yang kelak akan sangat mempengaruhi kosmos politik dunia.

Tahun 1911, kedua kalinya Marie mendapatkan Nobel untuk keberhasilannya mengisolasi radium kali ini di bidang Kimia, tanpa Pierre...


Mudah-mudahan setangkup kecil biografi ini mampu menginspirasi kita ...





Bizarre Love Triangle- Frente












Every time I think of you
I get a shot right through
Into a bolt of blue
It's no problem of mine
But it's a problem I find
Living the life that I can't leave behind

There's no sense in telling me
The wisdom of a fool won't set you free
But that's the way that it goes
And it's what nobody knows
And every day my confusion grows

Every time I see you falling
I get down on my knees and pray
I'm waiting for the final moment
You say the words that I can't say

I feel fine and I feel good
I feel like I never should
Whenever I get this way
I just don't know what to say
Why can't we be ourselves like we were yesterday

I'm not sure what this could mean
I don't think you're what you seem
I do admit to myself
That if I hurt someone else
Then I'll never see just what we're meant to be

Every time I see you falling
I get down on my knees and pray
I'm waiting for the final moment
You'll say the words that I can't say




picture was taken from here

Hobi Fotografi


Seperti menulis, menekuni hobi fotografi ternyata menyenangkan. Bagi saya, ini cara lain menuai bulir-bulir makna dan rasa, karena setiap materi di jagat raya menyimpan hikmah jika kita mau menggali lebih dekat. Dan indah, kalau saja kita bersedia menggeser sudut pandang sebelumnya.

Virus inilah yang menggerayangi hasrat saya untuk terus mengasah kepekaan dari waktu ke waktu. Menajamkan insting, menangkap sudut-sudut hari yang seringkali terabaikan, lalu mengabadikannya dalam sekian ratus pixel gambar. Hehe, amatiran memang, tapi lumayan mengasyikkan.




Potret seorang tukang becak yang tertidur tentu tak pernah semenarik poster bergambar Dian sastrowardoyo yang aduhai dalam baliho iklan sabunnya. Tetapi satu bidikan gambar itu sudah cukup mewakili sosiokultur dan satire realitas kesejahteraan yang menghujam tubuh kurus seorang pejuang hidup. Dia kelelahan, maka ia tertidur. Bisa juga perutnya kosong sehingga ia lebih memilih tidur untuk melupakan demonstrasi sang usus. Dalam juring lingkaran waktu yang lebih luas, batin pun akan bertanya, lalu bagaimana jika ia pulang tanpa selembar rupiah? Bagaimana dengan si kecil yang minta jatah susu? Atau sang isteri yang menuntut dibelikan gincu? Hmmm, dari sini kita hanya diijinkan mengintervensi nasib si tukang becak sebatas dalam kotak imajinasi masing-masing, tidak lebih.




Potret “childhood” barangkali sangat biasa di mata banyak orang. Namun dalam prespektif lain, ini bisa bercerita tentang cermin masa lampau yang berbalut kepolosan sekaligus asa tentang masa depan. Lalu perjalanan itu akan mengantar kita pada kepingan kisah serupa, ketika jiwa belum lagi faham apa itu dosa, ketika bu guru menanyakan apa cita-cita kita, dan waktu belum lagi menyulam usia. Wajah-wajah innocent itu ibarat kertas putih yang beberapa tahun kemudian bisa menjadi merah, biru atau abu-abu tergantung kepada siapa yang mewarnainya.




Apa saja bisa menjadi objek fotografi. Namun setiap karya bakal melahirkan rasa dan sentuhan aura yang berbeda. Sangat intim, sangat personal, bahkan egosentris. Mungkin itulah yang membuat karya lukisan seorang Van Gogh begitu diagungkan, tanpa menafikkan fakta sejarah bahwa ia pernah memotong kupingnya sendiri gara-gara mengidap penyakit gila.




Di zaman serba digital seperti sekarang, saya rasa siapapun bisa bertransformasi menjadi fotografer amatiran. Kapanpun dimanapun. Karena spontanitas adalah salah satu prinsip acuan. Kepekaan sekitar sebagai bumbu katalisator. Dan ilmu sebagai penyempurnanya.

Hmmm, tak usahlah saya berbincang banyak tentang bab ini. Lha wong saya ini Cuma tukang foto jadi-jadian. Jadi mending pamit kabur dulu sebelum ada fotografer professional baca…


Award dari sastra-radio



Award dari de javu







PERCUMA


Kuseka mendung di langit timur


Berharap mentari mengeja sapanya


Nihil.


Seperti nisan yang membatu kubaca wajahmu


Tegap tak bergeming


Hingga nada-nada angin yang tersebar ke ufuk semesta


Menggema sia-sia


Duka purnama kali ini menggunung


Tersenyum pucat dibalik satire hujan


Kolase-kolase cinta itu seperti tertutup debu zaman


Terlupakan bersama bongkahan gletser yang mencair


dari puncak Karakoram keangkuhan


Melukis warna perih dalam setia yang kuseduhkan


Ibarat menangkap pelangi


Begitulah dimensimu


Dekat hakikat


Tapi tanpa kata


Kosong makna




Aksioma Rollercoaster

Hidup itu ibarat rollercoaster. Ada kalanya kita berada di atas, tetapi di lain episode roda nasib menggelindingkan kita jauh ke titik minimum dalam kurva hidup. Stagnan.

Maka aksioma itulah yang sedang saya renungi malam ini. Diiringi jarum jam yang berdetak, seirama desah nafas yang mengalun satu-satu, menyenandungkan serenada tentang muhasabah yang masih saja berselimut keangkuhan. Namun pada akhirnya berujung pada silogisme kepasrahan dan ketundukan yang tak sempurna. 

Perjalanan hati ini kemudian mengantar saya pada labirin kenangan bersama orang-orang yang meninggalkan jejak pelajaran hidup yang berharga. Bahkan lebih berharga dari buku mantra Hermione Granger yang super jenius. Ini tentang potongan-potongan kolase optimisme, kerja keras, serta mimpi-mimpi yang membentuk siapa diri kita seutuhnya. Serta kemana kita kan melangkahkan kemudi tujuan di esok hari. 


Saya melihat itu pada diri seorang kawan yang biasa saya panggil “kang”, karena secara kebetulan fakta penciptaan menggariskan kami lahir di hari dan tahun yang sama. Lalu secara sporadis dilemparkan oleh takdir lantas bertemu di tempat yang asing bagi kami pada awalnya. Mungkin kang tidak faham apa itu metafora. Mungkin juga dia tak faham tentang seni analogi bercerita apalagi euphoria sastra. Tapi saya tahu betul bagaimana masa-masa berat yang dulu dilakoninya sebagai bagian dari kaum marjinal, memaksanya bergelut dengan nasib yang tak bersahabat. Dia anak lelaki pertama. Tumpuan keluarga dengan kondisi orangtua yang sakit-sakitan. Saya juga tahu ketika dia harus bergadang setiap malam selepas “ngantor” demi mendapatkan tambahan rupiah. 

Saya masih hafal benar wajah ngantuk itu setiap pagi… tapi saya juga tidak lupa bahwa dia adalah seorang pejuang hidup yang tak pernah berhenti meyakini mimpi-mimpi. Dan itulah yang membuat dia mampu membangun istananya sendiri kini. Menjadi seorang dengan penghasilan tujuh hingga delapan digit setiap bulan, dengan gaya parlente setengah dipaksakan, plus perut sedikit buncit, ups……  dan bahasa Inggris yang luar biasa aduhai kacaunya. Saya rasa rollercoaster tengah membawanya pada perbukitan landai yang menenangkan sekaligus mendebarkan. Lalu secara perlahan mengantar Kang pada definisi kesuksesan dalam kacamata mimpinya selama ini. 


Terlalu picik jika saya mendefinisikan teorema kesuksesan hanya sebatas materi. Tetapi paling tidak, kang telah mengajari saya apa itu kekuatan mimpi. Bahwa kekuatan mimpi yang dikatalisator oleh kerja keras dan keuletan bisa mendorong ke mana pun sayap ini ingin mengepak. Barat atau utara, timur atau juga selatan. Seperti kata Arai, “Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu” (Sang Pemimpi). 


Maka kisah sederhana ini pun menundukkan keangkuhan saya untuk belajar menangkap kepingan proton makna yang tersebar di penjuru semesta. Bahwa siapapun, kapan pun, bisa menjadi guru hidup tanpa legalitas akta mengajar. Selama kita peka. Selama hati ini bersedia. Selama kedua bola mata tidak tertutup kabut kesombongan. Dan selama kedua telinga tak tersumbat nada-nada kepongahan.


Kotak-kotak Pandora Kehidupan



Menjelajahi satu demi satu blog di dunia maya membawa saya pada ruang-ruang prespektif lain. Menyusuri labirin-labirin pemikiran anak manusia yang terkadang di luar batas jangkauan logika. Menyinggahi kotak-kotak Pandora jiwa yang tidak melulu mejikuhibiniu.

Ini ibarat perjalanan backpacking tanpa ransel, nir peta dan kompas. Seperti berkeliling dunia tanpa pesawat, tanpa jetlag dan tanpa money changer. Lalu secara beruntung bertemu dengan dengan pribadi-pribadi yang ternyata mempunyai spektrum rasa yang sama, meski secara materi, tubuh belum pernah bersua. Oh, God saya harus berterimakasih pada siapapun yang telah menemukan teknologi internet pertama kali.

Seperti analogi kotak Pandora tadi, tiap blog memiliki bingkai keunikannya masing-masing. Penuh warna-warni, kaya teka-teki. Sering saya menebak-nebak kira-kira apa lagi yang akan saya temukan dalam blogwalking saya hari ini. Mungkinkah pulau harta karun ? Yah, mungkin saja. Harta karun ilmu tentunya.


Dalam perjalanan backpacking, ups maaf, blogwalking, saya mungkin saja menemukan kisah-kisah inspiratif yang membirukan rasa, menyungaikan air mata. Di lain waktu, wajah ini hanya bisa berekspresi takjub menyelami puisi-puisi jiwa bertabur metafora di ranah maya. Banyak ungkapan-ungkapan patah hati berbalut emosi, luapan kepenatan memandangi lelakon para wayang orang di atas pentas perpolitikan, sampai potret diari diri yang ringan mengalir seperti sapaan Bengawan Solo ketika tenang. Unik, asyik, menyegarkan. Beberapa blog bahkan idenya saling berseberangan secara diametral, namun malah memperkaya dimensi pikir dalam kosmos demokrasi. Diantara semua itu ada juga blog yang dipenuhi iklan blink-blink sehingga sedikit banyak mengolahragakan mata saat memandangnya hehe, maaf jujur.
Hmm, saya yakin tiap kita memiliki motif berbeda ketika membuat blog pertama kali. Dan itu memang prerogatif masing-masing. Kalau suka boleh dibaca, enggak suka ya lewati saja. Simple. Rene Descrates pernah memahatkan sebuah ungkapan, “Aku berpikir, maka aku ada”. Bolehlah saya ganti sedikit, “Aku ngeblog, maka aku ADA”.



Seperti Bintang

















Tawadlu'lah,
Engkau akan seperti bintang,
Bersinar di atas permukaan air, meski ia berada di langit yang tinggi
Jangan engkau seperti asap
ia terbang tinggi menuju angkasa
padahal hakikatnya ia tak berharga.


(dikutip dari buku "Tawadlu" karya Khozin Abu Faqih)

In the momment of silent


I've been sitting here

Under the pale moonlight

Trying to figure out this life


I see clouds hanging on my mind

Then it's fall down

Rain on my soul

Wash my yesterday


I wish I could stand in the wind,

I wish I were free like water,

Flowing down

Under the warmth of the sun


But, now it's cold

So obscure

All alone, just by myself

Among the valley of doubt


People don't know about

The things I said and do

They don't understand

About what I've been through

All they know is blaming and judging


But we get what we put in, right ?

And people get what they deserve

That was Kidrock said


We could never make everyone satisfy

There're always like and dislike

Love and hate


Dear heart,

No matter what happen in this river of life

Stumble and fall

We have to stay strong,

We have to keep holding on





PS : I dedicated this poem to my brother Auliawi Ahmad. I try to write a poem like yours, but I realize I'm not so good in this way. I appreciate your awards. That was a big honor for me. Thank you.



Cerita Langit

"Terkadang satu gambar telah mewakili seribu kata.... "
Mengintip matahari
Berkamuflase
Langit di belakang rumah
Senja di pematang
Menangkap pelangi

Purnama di ujung subuh
Lamp in the shadow
Meranggas
Jendela langit 
Bertengger
Horizon
 The shadow : Abang tukang bakso
 
Ket : gambar saya ambil dengan kamera 2 MP Sonny Ericsson K750 
 


Dua Sisi


“Koq tulisannya beda ya? Tumben ngga seperti sebelumnya…, mana tulisan-tulisanmu yang kayak biasanya ?” , kurang lebih begitulah beberapa komen serupa yang masuk ke kotak komentar saya beberapa waktu ini. Komen dari sahabat blogger yang perhatian betul sampai hafal, bahkan saat saya menghadirkan postingan dengan karakter penulisan yang agak beda dari biasanya. Padahal saya sendiri malah ngga sadar, masa iya beda ? hehe …


Buat blogger kacangan macam saya, memiliki gaya penulisan yang tepat merupakan proses belajar yang masih saya cari akhir muaranya. Ketika menulis, jari-jari ini hanya patuh mengikuti rangkaian huruf demi huruf yang melesat-lesat memenuhi labirin otak, lalu menerjemahkannya dalam tarian keyboard. Just write...that’s all !!!


Ada kalanya saya sangat menikmati menulis hal-hal ringan yang “gue banget”, tanpa harus ribet memikirkan taburan metafora apa yang tepat untuk disisipkan. Di lain waktu, virus melankolis merasuki pikiran dan memaksa tangan ini menuliskan tema-tema yang agak “dalem” untuk ukuran anak udik seperti saya.


Sebagian orang menyebut ini inkonsistensi, tapi saya lebih senang menyebutnya dua sisi. Dua sisi untuk mengasah kepekaan jiwa terhadap berbagai sudut kehidupan yang tidak melulu monokromatik. Seperti pesan sponsornya jeng Agnes Monica, “Life is never flat” ;-p…




Ngga dipungkiri gaya menulis ini kadang dipengaruhi oleh bacaan yang sedang saya baca. “Serenada Kereta Senja”, adalah salah satu tulisan saya yang terkontaminasi Edensor-nya Om Andrea Hirata. “Secangkir kasih buat Jiwa-jiwa Hangat” mungkin dipengaruhi analogi fisika Dr Tauhid Nur Azhar, ilmuwan dari UI yang cerdas itu. Sementara “Bukit Tanpa Puncak” , mungkin hasil dari persemedian saya di atas puncak Argopuro hehehe… ngayal banget!


Buat mba Newsoul, sang komentator yang setia dan bang Auliawi Ahmad yang sajak-sajaknya T.O.P B.G.T mudah-mudahan tulisan ini bisa jadi jawaban atas komentarnya di postingan saya yang lalu. Thanks buat kunjungan selama ini, ditunggu komen-komen selanjutnya!!!



Water and Life

water in purple

Anggrek ungu selepas hujan

gravitasi

vertical horizon

mulut Kamboja Jepang

merambat

mengapung

mengapung (ii)

berbagi habitat

anak dan induk

anak dan induk (ii)

apung-apung

air hujan dalam jaring laba-laba

gutasi

nampang

Ket : foto-foto ini (masih) saya ambil dengan kamera 2MP Sonny Ericsson K750