














Ket : gambar diambil dengan kamera Sonny Ericsson K750
Hidup adalah sebuah pilihan. Tidak semua pilihan itu mudah. Kita harus menghitung, menimbang ke belakang, meraba masa depan yang masih tertutup kabut. Tapi bukankah itu yang diajarkan nasib ?
Tidak semua bisa memahami keputusan besar yang pada suatu ketika membelokkan peta rencana semula.
Kita bisa saja memilih untuk tetap berada di dalam tempurung yang sama, dengan jaminan financial cukup ‘stabil’ untuk ukuran orang udik yang tidak neko-neko. Akan tetapi hidup bukan semata masalah materi dan kepuasan raga.
Ketika kita telah menghabiskan puluhan purnama bersama orang-orang terbaik yang mengajari kita banyak hal, tentu adalah hal berat memutuskan untuk pergi. Namun rindu akan dunia di luar
Hidup bukanlah tentang hasil, akan tetapi tentang proses belajar. Belajar menemukan hal-hal baru yang akan membasuh kerinduan jiwa ini akan makna. Juga tentang pelajaran di setiap jengkal bumi yang dibentangkan-Nya.
Maka demi itulah sebuah keputusan harus ditetapkan. Bukan tentang untung rugi, atau semata-mata tentang materi. Akan tetapi hidup yang Cuma sesaat ini terlalu sia-sia jika tak ditempa dengan pengalaman. Terlalu gersang jika tak disirami dengan hikmah dalam tiap episodenya.
Embun masih mendekap bumi manakala jarum hari membuka pagi
Gelap pekat, tapi aku terus berlari
Beradu dengan bayang-bayangku sendiri
H2O yang mengembun mencekat tenggorokan, tapi aku tak peduli
Napasku tersengal, tulang kakiku meronta manja
Tapi aku tak sudi berhenti, ragaku terus berlari
Petak-petak rumah berjajar berselimut lampu pijar
Seperti kunang-kunang yang diam tenang
Dalam imajiku hukum gravitasi berhenti
Gaya tarik bumi kehilangan supremasi
Tubuhku tiba-tiba saja terasa ringan tak bermassa
Aku melayang
Sweater lusuhku menjelma menjadi sayap Tinker Bell
Melaju menyusuri ruang-ruang hampa dalam negeri Fairytopia
Tanpa beban, tanpa duka mendera
Mencandai angin, menggoda rerumputan
Paru-paruku disesaki O2, tak direcoki karbondioksida
Nyaman, lega tak terkatakan, aku dilena orkestra alam Maha Sempurna
Tiba-tiba... Gawat... aku kehilangan keseimbangan
Bumi dan langit berkonspirasi menjeratku kembali dengan gravitasi
Aku tersedot dalam intensitas tekanan tinggi menukik tajam...
Braaakkkkkk…..
Aku terjatuh
Sakit


Kuseka mendung di langit timur
Berharap mentari mengeja sapanya
Nihil.
Seperti nisan yang membatu kubaca wajahmu
Tegap tak bergeming
Hingga nada-nada angin yang tersebar ke ufuk semesta
Menggema sia-sia
Duka purnama kali ini menggunung
Tersenyum pucat dibalik satire hujan
Kolase-kolase cinta itu seperti tertutup debu zaman
Terlupakan bersama bongkahan gletser yang mencair
dari puncak Karakoram keangkuhan
Melukis warna perih dalam setia yang kuseduhkan
Ibarat menangkap pelangi
Begitulah dimensimu
Dekat hakikat
Tapi tanpa kata
Kosong makna
Maka aksioma itulah yang sedang saya renungi malam ini. Diiringi jarum jam yang berdetak, seirama desah nafas yang mengalun satu-satu, menyenandungkan serenada tentang muhasabah yang masih saja berselimut keangkuhan. Namun pada akhirnya berujung pada silogisme kepasrahan dan ketundukan yang tak sempurna. 
I've been sitting here
Under the pale moonlight
Trying to figure out this life
I see clouds hanging on my mind
Then it's fall down
Rain on my soul
Wash my yesterday
I wish I could stand in the wind,
I wish I were free like water,
Flowing down
Under the warmth of the sun
But, now it's cold
So obscure
All alone, just by myself
Among the valley of doubt
People don't know about
The things I said and do
They don't understand
About what I've been through
All they know is blaming and judging
But we get what we put in, right ?
And people get what they deserve
That was Kidrock said
We could never make everyone satisfy
There're always like and dislike
Love and hate
Dear heart,
No matter what happen in this river of life
Stumble and fall
We have to stay strong,
We have to keep holding on
PS : I dedicated this poem to my brother Auliawi Ahmad. I try to write a poem like yours, but I realize I'm not so good in this way. I appreciate your awards. That was a big honor for me. Thank you.

“Koq tulisannya beda ya? Tumben ngga seperti sebelumnya…, mana tulisan-tulisanmu yang kayak biasanya ?” , kurang lebih begitulah beberapa komen serupa yang masuk ke kotak komentar saya beberapa waktu ini. Komen dari sahabat blogger yang perhatian betul sampai hafal, bahkan saat saya menghadirkan postingan dengan karakter penulisan yang agak beda dari biasanya. Padahal saya sendiri malah ngga sadar, masa iya beda ? hehe …
Buat blogger kacangan macam saya, memiliki
Sebagian orang menyebut ini inkonsistensi, tapi saya lebih senang menyebutnya dua sisi. Dua sisi untuk mengasah kepekaan jiwa terhadap berbagai sudut kehidupan yang tidak melulu monokromatik. Seperti pesan sponsornya jeng Agnes Monica, “Life is never flat” ;-p…
Ngga dipungkiri
Buat mba Newsoul, sang komentator yang setia dan bang Auliawi Ahmad yang sajak-sajaknya T.O.P B.G.T mudah-mudahan tulisan ini bisa jadi jawaban atas komentarnya di postingan saya yang lalu. Thanks buat kunjungan selama ini, ditunggu komen-komen selanjutnya!!!