Fragmen Jiwa Bernama Kepasrahan

Sekian waktu terjebak dalam rutinitas, hari-hari ini saya mulai mengurangi laju kecepatan. Menikmati setiap detik yang berdetak dengan tafakur. Dalam bahasa mbak Newsoul mungkin itulah yang dinamakan kontemplasi itu.
Maka dalam dimensi saya, sekeliling rasanya bergerak melambat ibarat film slow motion. Bangun tidur, berangkat kerja, pulang ke rumah, berangkat lagi, pulang di petang hari, tidur lagi, bangun berangkat lagi. Begitu seterusnya. 
Hidup kadang membawa kita jauh berenang mengikuti aliran, menikmati riak airnya yang nakal menuju pucuk-pucuk mimpi tak bertepi hingga lupa ke mana kan bermuara.




Betapa banyak waktu dan pikiran telah terpenjara hanya untuk mencari dan mencari apa yang disebut pujangga sebagai “lubang hati”. Entah itu pencarian terhadap cinta atau cita.
Ketika lelah telah menggelayuti diri, barulah jiwa ini tersadar, ternyata begitu banyak cinta terhampar dari orang-orang di sekitar. Cinta yang selama ini justru luput dari perhatian, tulus dari orang-orang terdekat, orang tua, keluarga, sahabat, karib kerabat. Dan yang terpenting di atas semua itu ada cinta kekal yang tak pernah lekang dari Sang Maha Hidup.

“Syukuri apa yang ada”, begitu syair lagu D’massive (dasar penyiar hehe...). Sungguh saya tak pernah peduli dengan lagu ini sebelumnya. Namun kata-kata itu terus mengiang meresonansikan makna luar biasa : Kepasrahan total.
Ya, setelah lautan ikhtiar yang dilalui dan puzzle-puzzle optimisme yang telah dirangkai, maka fragmen berikutnya adalah kepasrahan total kepada Sang Maha Hidup. Ketika usaha telah kita lakukan mati-matian tetapi hasil keringat tak sejalan garis takdirNya, lantas kita mau apa ? Semua ada di bawah otoritas Ar-Rahman yang menuliskan tiap desah nafas kita dalam Lauhul Mahfuz. Dan sebagai makhluk, episode yang harus kita jalani adalah pasrah dan tawakal.
Memang melakukan tak semudah mengatakan, kawan. Diri ini pun masih tertatih-tatih memproyeksikannya dalam kehidupan. Namun satu yang saya yakini, di ujung sungai kepasrahan itulah muara ketenangan berada.

Maka secangkir kepasrahan itu yang saat ini sedang saya butuhkan... mudah-mudahan ada yang rasa moccacinno ...

Secangkir kasih buat jiwa-jiwa hangat


Kabut masih enggan beranjak dari bumi tempat berpijak pagi ini. Sejuk. Aromanya menembus tiap sudut kegalauan di relung hati. Memecah partikel kelesuan yang mengendap.
Kecuali Sang Maha Hidup, segala sesuatu di hadapan mata tampak tak pasti. Sama tak pastinya dengan nilai kejadian dalam teori probabilitas Blaise Pascal.
Bumi masih merotasikan hari. Langit biru masih membisikkan harapan. Tunas-tunas pakis haji di ujung ruangan ini pun menerbitkan asa di atas seribu luka. Tapi, beri tahu saya tentang episode di ujung senja nanti ? Adakah yang bisa menjamin peri-peri pagi kan kembali ?
Apapun itu, diantara ketidakpastian ini kita masih harus tetap berjalan. Melaju seperti bulan yang setia mengiringi bumi. Jua seperti Colombus yang tak lelah mengarungi Atlantik. Bersama cinta yang selalu ada.
Tak perlu mencarinya hingga ke ujung samudra hingga penat kubaca dalam wajahmu. Sebab dia dekat di sini. Tumbuh dari bibit ketulusan terdalam. Berdifusi dari jiwa-jiwa hangat yang mewarnai sepenggal perjalanan diri. Lalu diproses sehingga menghasilkan secangkir kasih beraroma vanilla persahabatan.



Maka secangkir kasih ini saya persembahkan buat jiwa-jiwa hangat yang telah sudi berbagi. Mba Newsoul trimakasih atas award dan tulisan-tulisan yang selalu menginspirasi, mba Fanda, ijin pasang awardnya di sini yah hehe. Tulisan ini juga saya persembahkan buat jiwa hangat lainnya, Mba Tisti Rabbani dan semua sahabat yang telah sudi berkunjung ke blog ini.


 

Matahari dan Bulan


Dalam ukuran dan proporsinya, setiap unsur di alam semesta teramat bijak dan cerdas dalam memaknai perannya. Coba kita lihat matahari. Ia terus bersedekah memberikan potensi energi yang dimilikinya untuk menjamin kehidupan makhluk lain di sudut – sudut semesta. Tanpa mengeluh, ia terus berproses mereaksikan hidrogen secara fusi untuk menghasilkan atom ringan helium hingga menghasilkan sekumpulan elektron energi. Energi ini lantas dipancarkan ke mana saja sehingga kita, penduduk bumi tetap bisa merasakan hangatnya pagi. (Dapatkah kita bayangkan terbangun di esok hari tanpa ada sinar matahari ? Hanya ada warna malam yang kelam .... membayangkannya saja saya sudah merinding ....).  

Lalu mari sejenak kita pandangi bulan di langit malam. Yang hadirnya selalu dinanti, menyiratkan rasa hangat di hati kita. Bulan selalu istiqomah dalam fungsinya sebagai satelit yang mengorbit. Dengan patuh ia mengekor ke manapun planet induknya pergi. Ia terus berusaha memantulkan “kebaikan” matahari. Keteraturan orbital serta cahaya yang ia pantulkan, mampu menjadi penunjuk jalan, arah, serta patokan penanggalan Qamariyah. Posisinya mempengaruhi pula terjadinya pasang surut di permukaan laut. Ketika purnamanya merekah, membentuk diameter yang sempurna, akan banyak hal “istimewa” terjadi. Darah yang naik ke kepala akibat gravitasi akan memunculkan aktivasi kelenjar-kelenjar hipotalamus dan hipofisis. Akibatnya manusia lebih mampu meningkatkan arus impuls dan melahirkan pusaran logika. Pada keluarga cumi-cumi, kondisi ini akan merangsang hormon reproduksi bereaksi lebih intens dibanding momen-momen lain.  


“Maka nikmat Tuhan mana yang bisa kita dustakan ?”  


Mudah-mudahan kita mampu menjadi seperti matahari yang ikhlas. Serta menjadi seperti bulan yang memantulkan kebaikan. Semoga.

Dikutip dengan sedikit perubahan dari buku karya Dr. Tauhid Nur Azhar&Eman Sulaiman : Ajaib bin Aneh, Jadi insan Segala Tahu (2009).






Pertanyaan Dik

Huaaaammm.... kayaknya uda cukup lama berhibernasi terbuai meriahnya Lebaran. Pagi ini meluncur ke blog para sahabat, meneguk sebanyak mungkin ilmu dan hikmah. Sekaligus mencuri semangat untuk mengalirkan kembali kran ide yang sempat mengendap.

Teringat obrolan tempo hari dengan seorang kawan, sebut saja “dik” karena usianya memang lebih muda dari saya. Entah bagaimana mulanya, obrolan kami kemudian berkembang. Dik mengakui ketertarikannya terhadap matematika meski sejak sekolah dia tergolong seorang matematikaphobia.  Saya tersentak dengan rasa penasarannya terhadap simbol phi (3,14 = 22/7) yang selama ini hanya ia pahami sebatas dogma. Karena sang guru tidak pernah menjelaskan asal mulanya.  

Juga tentang kekritisannya mempertanyakan urutan bilangan. Mengapa 1 harus diikuti 2, kemudian 3, dst. Mengapa bukan bilangan yang lain ? Bagaimana kalau dia tak menginginkan urutan seperti itu ? Mengapa pula 6 dibagi nol hasilnya tak terhingga ? Lalu pertanyaan-pertanyaan lain yang meluapkan dahaganya akan jawaban logis atas itu semua.  

Sabar, dik. Pelan-pelan saja. Nanti kau tersedak ;-p

Jujur kekritisan sahabat muda saya itu ikut menohok batas ruang pemikiran saya yang selama ini banyak terjebak pada tuntutan kurikulum. Apalagi sebagai tutor amatiran yang dibatasi jam tatap muka dengan siswa, saya akui substansi materi kadang harus dikalahkan deadline ulangan dan PR-PR sekolah.  

Tapi baiklah, dik, saya akan coba menjawab pertanyaanmu sebatas yang saya pahami ya...

Kebenaran dalam matematika sebenarnya bersifat nisbi (tidak mutlak). Itu yang kadang salah kita artikan. Artinya suatu kebenaran dalam ilmu matematika tergantung pada kesepakatan awal yang disetujui bersama. Inilah yang kita kenal dengan “postulat” atau “aksioma”. Kelak, bisa saja kebenaran ini berubah apabila muncul kesepakatan baru yang  membentuk postulat-postulat baru.  

Adalah Al- Khawarizmi yang telah mengenalkan sistem bilangan dengan urutan 0, 1, 2, 3, dst dikembangkan dari sistem bilangan hindu-arabik. Buah pemikiran Al Khawarizmi ini kemudian disepakati bersama untuk digunakan secara umum dalam kehidupan sehari-hari demi memudahkan penghitungan. Butuh proses dan perdebatan selama berabad-abad untuk sampai pada penyimpulan sistem numerasi di atas. Dari jaman Mesir Kuno yang menggunakan hieroglyph, hingga masa Yunani kuno yang melahirkan simbol-simbol alfa, beta, teta, gamma, dst. Seiring berkembangnya zaman, manusia di berbagai belahan bumi tentu membutuhkan suatu sistem bilangan yang seragam sehingga memudahkan transaksi dan komunikasi. Itulah mengapa dalam bingkai sistem urutan bilangan setelah 1 adalah 2, kemudian 3 dst.  


Lalu “mengapa 6 dibagi nol hasilnya tak terhingga ?”, begitu tanyamu.

Setahu saya, bilangan real berapapun jika dibagi nol tidak mempunyai hasil (tidak terdefinisi). Jadi bukan “tak terhingga” (infinite). Karena antara “tak terhingga” dengan “tak terdefinisi” memiliki pengertian yang berbeda. Menurut Abdul Halim Fathani dalam buku “Matematika Hakikat dan Logika” (2009), munculnya jawaban tak terhingga dalam pembagian 6 terhadap nol dipengaruhi aliran logisme yang  bertumpu pada logika. Coba kita perhatikan :  

6 : 6 = 1

6 : 2 = 3

6 : 1 = 6

6 : 0,1 = 60

6 : 0,01 = 600

6 : 0,000.000. 0001 = 6. 000.000. 000

dst

Dalam aliran logisme, jika bilangan real dibagi dengan bilangan yang semakin kecil maka hasilnya akan semakin besar. Maka logikanya 6 : 0 hasilnya sangat besar (tak terhingga). Perlu dicatat tidak semua kalangan sependapat dengan pemikiran ini. Karena sesuai aksioma, bilangan real berapapun jika dibagi nol tidak mempunyai hasil (tidak terdefinisi).  

Trus, soal pertanyaanmu tentang bilangan phi itu, lain waktu saja ya kita diskusi lagi.  


PS : To “dik”, jangan pernah berhenti untuk mencari. Kelak kau kan temukan jawabannya.

Filosofi Fibonacci



Adalah mustahil bila hidup dianalogikan seperti deret geometri yang memiliki rasio keteraturan tetap. 2, 4, 8, 16, kemudian 32 , dst. Artinya setiap apa yang akan terjadi kelak bisa dikalkulasi secara sempurna tanpa meleset sedikitpun. Sungguh tidak mungkin, kecuali hanya dalam bingkai imajinasi kita yang tak terbatas. 



Saya bisa saja membangun imajinasi tentang hidup saya yang sempurna, dengan mengkalibrasi ikhtiar secara maksimal. Tapi menurut garis kalam-Nya, kita dihadapkan pada kenyataan yang berbanding terbalik dengan harapan. Melenceng jauh dari prediksi awal. Maka di situlah eksistensi ketawakalan diperlukan.

Bagi saya pribadi, hidup lebih identik dengan rangkaian angka Fibonacci. Misterius dan tak terprediksi hingga di saat-saat akhir. 2, 4, 6, 10, 16, 26, dst. Deret Fibonacci sebenarnya memang mempunyai formula yang bisa dicari, sehingga membentuk sebuah keteraturan. Misterius disini maksud saya, bahwa dalam perjalanannya, ternyata para ilmuwan dapat menemukan keteraturan2 lain dalam semesta yang sejalan dengan formula Fibonacci. 

Kerennya lagi, deret yang dikembangkan oleh Pak Fibonacci ini kemudian menjadi dasar sebuah pola perhitungan modern chaos theory. Chaos Theory sendiri adalah sebuah cabang ilmu matematika dan juga fisika yang membahas sebuah pola pergerakan yang acak namun beraturan. Acak karena tidak pernah menempati titik koordinat yang sama setiap kali bergerak. Beraturan karena selalu pada arah yang sama. Contohnya adalah pergerakan sayap pada kupu-kupu. Meskipun tidak beraturan, pergerakan sayap kupu-kupu selalu sama dari waktu ke waktu yaitu naik dan turun meskipun tidak pernah menempati titik yang sama setiap kali bergerak. (Running Pig - Fibonacci Retracement).

Jika kita membagi Un dengan Un-1, maka akan diperoleh rasio emas (golden ratio) yang ternyata memiliki keseimbangan sama dengan sejumlah fenomena di alam semesta. Golden ratio bisa kita jumpai sebagai pendekatan paling ideal dengan perbandingan ukuran bagian tubuh manusia rata-rata. Inilah yang banyak dijadikan dasar acuan para seniman dalam menciptakan karya arsitektur mereka. Cangkang-cangkang kebanyakan moluska yang tumbuh mengikuti bentuk spiral logaritmik , susunan spiral pada bunga matahari dan buah pinus, hingga lukisan Monalisa karya Da Vinci, kesemuanya mempunyai pola kesesuaian dengan golden ratio. (Harun Yahya, "Keindahan yang diciptakan di alam : Rasio Emas").

Bukan mustahil ke depannya masih banyak rahasia-rahasia semesta yang bakal terungkap dengan angka-angka Fibonacci ....
Dalam kerangka nafas manusia, setiap jengkal episode yang dilalui seringkali adalah konsekuensi dari pilihan sebelumnya. Dan sangat mungkin bahwa apa yang kita terima jauh berbeda dengan milik orang lain, karena kapasitas ikhtiar dan garis hidup berlainan. begitulah misteriusnya hidup. 

Saya sadar sepenuhnya jalan titian itu panjang dan berliku, sarat keluputan dan kekhilafan. Seperti yang pernah ditulis Om Andrea Hirata, Hidup dan nasib bisa tampak berantakan, misterius, fantastis, dan sporadis. Namun tiap elemennya adalah subsistem keteraturan dari sebuah desain holistik yang sempurna.

Maka sebagai manusia biasa, di ujung Ramadhan yang biru ini, izinkan saya memohon maaf kepada kawan semuanya. Atas kealpaan diri, atas tulisan-tulisan yang tak berkenan di hati. Mudah-mudahan kepergian Ramadhan meninggalkan jejak ketawakalan mendaki belantara kehidupan.

Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1430 H. Maaf lahir batin.



Sajak Savana Hijau





Dunia savanaku mengering,
Mungkin haus akan tarian hujan

Sementara kelopak-kelopak awan terbalut siluet senja yang menghitam,
Samar di penghujung malam

Adalah kisah kita dalam kereta kehidupan,
Melewati setapak, menjejak langit dengan angkuhnya
Kemudian kembali menemukan asal
Bersama bumi, bersama pepohonan,
Bersama air yang mengalir, dalam guliran sungai yang damai
Menggoreskan episode hidup
Tentang kuncup-kuncup mimpi yang mekar,
Sebagian lagi berguguran

Peri-peri kecil terus bernyanyi,
Melagukan cerita tentang dunia,
Tentang anak manusia
Tentang sesuatu yang kausebut itu “CINTA”

Aku tidak mengerti tentang dirimu,
Seperti aku tidak mengerti isi sajak pelangi selepas hujan
Walau terkadang kutemukan kita dalam bingkai spektrum warna yang sama
Selebihnya berbeda

Ah, aq terlalu dungu untuk memahami apa yang tertulis dalam kalam-Nya
Kerendahan wujudku sebagai insan
Tak kan mampu menjangkau Ke-Maha Besaran Ilmu-Nya
Yang gunung-gunung pun bergetar apabila ditasbihkan namaNya

Maka disinilah aku,
Terbenam keangkuhan dalam kerdilnya diri
Tertunduk dalam terang dan redupnya cahaya jiwa
Kadang ingat,
Kadang jua alpa

Salam Hormatku



Sebagai bentuk penghormatan terhadap para sahabat blogger yang luar biasa, izinkan saya untuk memajang award dari mereka.


Here it is, award cantik dari sahabat blogger dengan label “Hottest Female Blogger Award”, am I ?





Ngga nyangka, but anyway trimakasih buat Mbak Reni, Mbak Elly and Mbak Rachel (yang telah menghadiahkan award yang sama buat si blogger kacangan ini. Maaf juga kalo ngga bisa up date and berkunjung secara teratur. Maklum maksud hati pingin pasang spidi sendiri, tapi apa daya tingkat finansial belum nyampe hihi. Yah, jadilah warnet depan rumah menjadi saksi bisu aktivitas ngeblog selama ini ;-p. But we have to keep spirit, right ? (Yuuu huuu….)

Dan ini dia aturan mainnya :

1. Banner award tidak boleh diubah baik tulisan, warna dan signaturenya, kalo di-resize gambar boleh.

2. Tuliskan siapa yang ngasi award dan url nya trus url nya harus di-hyperlink ke bannernya yaa… supaya yang ngasih dapet backlink dari website kamu. Award cantik ini sekali lagi saya dapatkan dari THE OTHERS (30 September 2009), NEWSOUL (4 September 2009), dan PERNIK PEREMPUAN (September, tanggalnya ngga ada hehe).

3. Pilih 10 orang female blogger yang kamu kenal dan belum nerima award ini, dan sebutkan alasan kenapa kamu pikir dia layak dapetin award ini. 
Ya ampun, setelah berkeliling ternyata para bloggerwati yang saya tahu sudah pada memajang award ini. Yah, that's because they deserve to have it. Hiks…Lha trus saya musti gimana nih ?? ? hehe ...

4. Peer selanjutnya adalah :
  • Buka search engine Google
  • Tulis nama kamu dilanjutkan dengan kata ‘needs’, misalnya : Rosi needs
  • Klik “search”
  • Tulis deh 10 hasil pertama yang muncul di halaman itu. (kalo namanya gak keluar, coba ditulis dengan tanda petik “_” misalnya “Rosi needs” baru disearch).

Mari intip hasilnya :

  1. Rosi needs A loving home pet for sale (hehe emang sih I love cats very much )
  2. Rosi needs to find her own authentic voice …(walah lha selama ini berarti suara saya masih belum original gitu maksudnya ? *bingung mode on*)
  3. ROSI needs some skill and experience (Yup, absolutely correct )
  4. Rosi needs help (So, is there anyone want to save me ???)
  5. Rosi needs another sub shop (Buat belanja lebaran kali ya …)
  6. ROSI needs to be amended if there is ever to be any change allowed on the municipal property ( Wah ternyata Rosi adalah nama undang-undang yang bisa diamandemen juga, ckckckckck…)
  7. ROSI needs to be evaluated further (Betul, biar ngga salah melulu )
  8. Rosi needs to concentrate ( wah wah pasti saya ketauan pas lagi bengong di kelas, mikirin buka puasa sih hehe)
  9. ROSI NEEDS TO DIE A HORRIBLE TECHNOLOGICAL DEATH (Hmmmm, sereem )
  10. ROSI needs to be tested over a wide range of operating conditions (Yang ini kayaknya merk produk solar hihihihi )
Yah, award sudah dipasang. Mudah- mudahan ini jadi penanda silaturrahim dengan para sahabat di kawah maya. Salam Hormat dari saya. 

Satu lagi Frame Kehidupan

Setengah terkantuk saya membaca pesan singkat itu, “ Mbak nanti masuk enggak?”. Empat patah kata diakhiri tanda tanya. Simple, tapi kemudian membuyarkan gelembung imajinasi yang telah saya rangkai dengan sempurna untuk mengakhiri hari ini dengan indah.

Yah, setelah seharian penuh bergulat dengan nasib, beradu dengan radiasi matahari, pada akhirnya melepuh bersama hari di jelang senja yang ranum. Seperempat jam lagi bedug maghrib. Buka puasa, delapan rakaat tarawih, lalu segera bersua dengan kasur untuk merebahkan rangka tubuh ini. Hmm, sebuah rencana yang sempurna bukan buatan.

Saya bahkan sudah berpikir untuk membatalkan jadwal mengajar  di Rumah Singgah ba'da tarawih. Ego saya terus berbisik, toh tak mengapa kalo Cuma absen sekali.  Lagipula minggu depan kan masih ada waktu. Anak-anak itu pasti bisa mengerti.  Dan kasur di atas tempat tidur reyot itu rasanya bagai singgasana yang kian kuat memancarkan medan magnet di sekitar saya. 

Lalu sms kedua datang , " Mbak Ros, nanti malam masuk kan? ". Akhiran -kan di belakang pesan itu tidak hanya menegaskan pertanyaan pertama,  tetapi sekaligus harapan bahwa orang yang ditanya akan menjawab "iya". Tapi siapa yang bakal tega mengatakan tidak untuk wajah-wajah itu ? Anak-anak yang kala pagi harus bekerja entah sebagai PRT, loper koran, bahkan security, lalu malam harinya masih menyisakan semangat demi mendapat gelar paket C setara SMA. Anak-anak usia 20-an yang secara kurikulum harus mendapatkan Teorema fundamental integral meskipun sampai saat ini saya masih belum tahu bagaimana mengajarkannya untuk membuat mereka tidak "nggumun". Di saat siswa SMA lain bisa duduk nyaman di pagi hari dengan buku-buku berkualitas berstandar Chambridge, mereka harus puas hanya dengan mencatat dari papan tulis. 

Yah, sebuah kelas malam yang lebih sering molor hingga setengah jam demi menggenapkan muridnya menjadi 2 orang. Bahkan tak jarang si pengajar harus rela menjemput siswanya agar mau datang untuk belajar.  Satu lagi frame realita kehidupan. Hukum sebab akibat yang sangat populer,  "kemiskinan dan sulitnya akses pendidikan". Tapi melihat semangat di mata anak-anak itu, menemukan pijar antusias ketika mereka baru tahu bahwa aktivitas belanja di pasar bisa dimanipulasi menjadi model persamaan linear. Saya rasa tak ada seorangpun yang akan  sanggup mengatakan tidak. 


Catatan Pagi



Jam digital di
Sony Ericsson saya menunjukkan angka 01. 35 dini hari. Saya sudah di atas tunggangan, bersiap untuk meluncur di sirkuit jalanan kota. Sayup suara ibu berpesan, “Yen wis teko enggon, telepon yo nduk…..” (bahasa Jawa yang artinya kurang lebih “Kalo uda nyampe tujuan, telepon ya, Nak”). Pesan seorang ibu yang akan melepas anak perempuannya menunaikan tugas dini hari ini. Bismillah, mudah-mudahan nyampe dengan selamat. 

Langit masih menyisakan pekat, Cuma ada satu dua kendaraan yang lewat. Ada beberapa warung yang masih buka menemani pengelana malam demi menghimpun segenggam rupiah, menjajakan menu sahur buat para pengais pahala.

Ini memang hari pertama saya menjalankan amanah kerja malam. Membangunkan manusia buat sahur. (Ronda kali ya …. Hehe). Yah, bisa dibilang satu ordo tugas tapi dalam bungkus yang berbeda. Sebenarnya buat saya tidak masalah, insyaallah ini bagian dari ibadah juga. Mudah-mudahan lillahita ‘ala. Yang sempat jadi masalah adalah protes dari ibu yang tidak merelakan anak perempuannya berangkat sendiri di malam buta, walaupun jarak rumah ke tempat kerja tidak lebih dari seperempat putaran penuh jarum jam kalo naik motor. Bahkan beliau sempat berniat menelepon Kabag saya agar membatalkan jadwal malam yang sudah final. Hehehe, Thank God akhirnya enggak jadi. Saya bisa maklum, mungkin begitulah fitrah seorang ibu. Meskipun sudah segede ini, kadang ibu masih saja overprotective. Oh, Ibu….

Gusti, mudah-mudahan Kau ikhlaskan hati ini agar apa yang kukerjakan bisa menjadi catatan amal di Ramadhan-Mu. Amin.

Buat mbak NewSoul yang telah menyegarkan partikel kelesuan dalam hari-hariku, dengan tulisan-tulisan yang penuh makna, terimakasih. Pun jua atas Award yang sudah dihibahkan buat jiwa yang gersang ini. Sungguh, perhatianmu menggetarkan langit (hehehe saya harus mengucapkan itu untuk kesekian kalinya…).



award dari NewSoul

Buat mbak Fanda juga yang telah beberapa waktu menganugrahi award (gara-gara saya yang nodong hehehe). Maaf baru dipajang di tulisan ini. Karena saya merasa belum pantas untuk itu. Trimakasih.


award dari bukuFanda

 

Mencari Jalan Buat Jiwa

Beberapa waktu tidak mengunjungi blog ini. Kangen sekali rasanya. Blog yang dilahirkan untuk pertama kalinya dengan semangat dan idealisme. Tentang keresahan hati, keterbatasan diri untuk berbuat sesuatu, tentang isi kepala yang tidak tersampaikan karena belum tentu setiap orang bersedia mendengar. Tentang pemikiran yang mungkin bersebrangan dan melawan arus.

Tentang kejujuran menjadi diri sendiri karena pada kenyataannya tidak semua orang mampu mengungkapkan jati diri. Lagipula postulat hidup telah memperlihatkan bahwa manusia kebanyakan hanya dinilai dari penampilan luarnya. "The Way I am", menjadi diri sendiri apa adanya, begitulah kira-kira alasannya. Meskipun dibuat dengan tertatih-tatih karena si pembuatnya adalah seorang yang gaptek yang minus ilmu tentang cyber space.

Belakangan, ketika berbagai masalah mendera jalan hidup, datang bergantian mengakrabi nasib. Kran semangat menulis itupun seakan ikut macet. Tenaga dan pikiran tersedot, lalu hanya menyisakan eksistensi malas dan murung yang hampir menyentuh stadium lanjut.

Namun, manusia mana yang hidup tanpa masalah ? Di atas Langit masih ada langit. Mengapa pemikiran saya jadi begitu sempit ? Bukankah segala masalah adalah intisari kehidupan yang membedakan seseorang dengan zombie? Tuhan, ternyata jiwa ini masih begitu kerdil.

Perkataan seorang teman di tempo hari seakan menjadi energi listrik yang meletup menyalakan kran semangat ini.
"Ketika engkau menghadapi masalah, bicaralah. Biarkan seseorang meringankan bebanmu, atau paling tidak bicaralah pada secarik kertas. Dengan menulis engkau akan mampu melihat lebih jauh dalam perspektif yang berbeda".

Dengan menulis, semua masalah akan terlihat lebih nyata dalam urutan yang logis dan sistematis ibarat matriks-matriks yang siap dimanipulasi dalam hitungan. Menulis, hhmmm.. sebuah ritual yang beberapa waktu ini terabaikan karena kesibukan yang semu. Mudah-mudahan jiwa ini bisa mencari jalannya untuk segera kembali.

Requiem Subuh

Langit menyisakan pekat pada sebuah ujung subuh, Daun-daun sujud, Gunung-gunung takluk, Angin membisikkan ketundukan Sementara bagi jiwa-jiwa pesakitan Kotak hidup hanya menyisakan pagi yang meradang Menapaki gulita asa dalam distorsi cahaya Kemudian jatuh terkulai Seperti kuncup yang gugur sebelum mekar Menetes bersama gutasi mimpi Kelam, mengendap, dan berjelaga Lebur dalam musim yang menua Rembulan pucat pasi dalam diameter yang sempurna Tak rela beranjak, Seperti kabut yang enggan menggulung petang Bahkan matahari yang kunanti pun tak sudi mengulum senyum Sang hidup terus merotasikan waktu, Menyisakan masa bagi nafas-nafas yang hendak memeluk hari, mencangkuli bumi Akankah pagi berkereta bersama mereka ? Ataukah lelap tertimbun bersama Terracotta ?

Buku versus Layar Lebar

Oke, harus saya akui kalo dunia kecil saya saat ini ngga bisa lepas dari mesin ajaib bernama komputer. Yah gara-gara motherboard rusak, stabilitas beberapa agenda jadi terganggu. Termasuk tugas-tugas dari Bayu Mukti yang biasanya saya lembur malam hari akhirnya harus canceled (sorry Bay, cuti dulu ampe guncangan finansial mereda). Tapi kali ini saya ngga bakal membahas motherboard yang lagi rusak, saya cuma ingin menanyakan, kalo seandainya teman-teman diminta memilih antara buku dengan layar lebar, kira -kira mana yang bakal lebih disuka?
Maksud saya, fokus pembicaraan ini adalah antara buku-buku best seller dengan versi movie-nya yang telah menginspirasi sutradara.
Sejauh ini uda ratusan judul film diangkat dari karya best seller. Tapi tentu saja keduanya menyuguhkan daya tarik berbeda meski memiliki alur cerita yang kurang lebih sama. J.K Rowling sudah membuktikan bahwa 7 seri novel fiksi Harry Potternya telah membius jutaan pembaca hingga rela bermalam di depan bookstores hanya karena takut kehabisan. Sementara itu film-filmnya juga telah membius jutaan pasang mata, dan membuat Daniel Radcliff menjadi salah satu anak terkaya di Britania. Tapi jujur, saya lebih cinta dengan filmnya dari pada harus membaca novel versi Indonesia yang tebalnya 800 halaman lebih. Bukan karena apa-apa, mungkin karena saya tidak begitu nyaman dengan penerjemahan bahasanya yang cenderung kaku, atau visual cortex otak saya yang rada lemot hehe....
Salah satu film yang mempesona saya adalah The Da Vinci Code, yah mungkin karena permainan watak Tom Hanks yang begitu memikat, atau visualisasi karya-karya Da Vinci yang disuguhkan dalam versi layar lebar cukup memuaskan imajinasi saya.
Untuk chicklit ringan seperti Cintapuccino atau Confession of a Shopaholic, saya lebih terpikat pada novel aslinya yang mengijinkan kotak imaji saya berpendar dalam spektrum yang lebih luas. Sementara versi movie terkesan dipaksakan karena ada beberapa segmen cerita yang dipotong.
Juga Laskar Pelangi yang fenomenal, jujur mata ini lebih betah memelototi tulisan Andrea Hirata selama berjam-jam ketimbang menonton filmnya yang berdurasi 2 jam. Maaf mas Riri Riza, bukannya filmya tidak bagus. Sama sekali bukan, tapi mungkin imajinasi saya sudah terlanjur membayangkan yang lebih hehehehe.
Pun sama halnya dengan Ayat-Ayat Cinta, saya lebih jatuh hati pada tulisannya Habiburrahman Elzirazy. Saya rasa ini karena faktor aktor/aktris yang profilnya uda terlanjur dikenal publik sebagai VJ atau anak band jadi hmmm …., tapi bukan berarti saya ngga suka latar syutingnya yang eksotis. Untuk KCB, saya masih belum nonton filmnya tapi mudah-mudahan bakal seindah novelnya ( versi saya hehehe...).
Film yang sedang saya tunggu saat ini adalah Sang Pemimpi, iya kawan, ini sekuelnya Laskar Pelangi. Masih diproduseri Riri Riza dan sebagian lokasi pengambilan gambarnya juga di Belitung. Let's wait n see apakah bakal seheboh film pertama.
Ada lagi satu buku best seller Three Cups of Tea (makasih mba Dea uda mau minjemin). Ini salah satu buku terindah yang pernah saya baca. Based on true story by Greg Mortenson yang menyuguhkan potret dunia Islam di Asia Tengah versus Amerika dalam cara pandang yang sama sekali berbeda, dengan latar lembah Pakistan indah menggetarkan. Terimakasih buat penerjemahnya yang bikin buku ini jadi benar-benar membuat saya seakan bisa memandang warna langit di puncak K2 Himalaya. Tapi saya belum tahu apa sudah difilmkan ya ?
Sekarang saatnya bertanya, seandainya kawan-kawan diminta memilih antara buku dan layar lebar, lebih pilih yang mana ?

Belajar Mendengar (Sebuah De Javu Tulisan)

Kenapa judulnya De Javu Tulisan ? Sebenarnya saya pernah memposting tulisan ini tahun lalu, tapi ngga tahu kenapa pingin aja memposting ulang. yah mungkin untuk lecutan buat diri sendiri yang semakin ngga peka ini. 

Mencintai diri sindiri. Itulah fitrah kita sebagai manusia. Sadar ngga sih tiap kali kita berbicara dengan orang lain, berapa sering kita mengucapkan ‘aku’ daripada ‘kamu’. Ngga peduli apapun yang lagi dibicarakan, “Emm, Kalau aku sih….gini… gitu…”, “ Aku dulu pernah kayak gitu… anu…”, “ Kalau aku malah …..bla…bla…bla”.
Yah, bicara tentang diri sendiri emang hal yang paling menyenangkan ya ?

Saya pernah punya pengalaman curhat dengan seorang teman, karena saya pikir dia bakal kasih solusi buat saya, tapi coba tebak apa yang terjadi setelah saya cerita tentang masalah saya. …. Twwiiing…, dia malah balik menceritakan masalahnya yang menurutnya jauh lebih besar, lebih hebat, pokoknya lebih … bla..bla. benar-benar saat yang tidak tepat pikir saya. Dari situ saya kemudian lebih hati-hati kalo cari teman buat curhat, sangat sangat selektif bahkan. Coba anda bayangkan, ketika anda sedang dirundung masalah, punya suatu beban yang ingin anda keluarkan, anda ingin ada orang yang bisa memberikan masukan atau paling tidak sekedar mendengar lah. Lalu teman anda dengan tanpa berdosa malah gantian mencenceritakan perihal dirinya, perihal hidupnya… fiuuuh.

Dalam berinteraksi memang dibutuhkan suatu timbal balik. Ketika dua sahabat bertemu bisa saja saling berkisah tentang pengalaman masing-masing. Tapi ada masanya kita juga musti panda-pandai membaca situasi. Ketika ada seorang teman yang datang dengan masalah yang memberatkan punggungnya, disitulah kita ada untuk menampung keluh kesahnya, mengeringkan air matanya, give a shoulder to cry on. Menjadi tong sampah yang baik buat mereka. Disinilah kedewasaan kita dibutuhkan, dan keegoisan kita untuk sekedar mengatakan “Kalau aku … bla bla ” ditahan sebentar deh.

Sekarang coba jujur pada diri sendiri, pastinya kita bakal lebih betah ngobrol dengan orang yang antusias mendengar cerita-cerita kita, orang yang menyimak setiap detil kata yang kita ucapkan. Bahkan ketika kita mulai membual tentang kehebatan diri sendiri, dia masih tampak setia memperhatikan kita sampai tenggorokan kita kering. Bandingkan ketika berada dengan orang yang begitu banyak bicara.

Sahabat saya pernah menceritakan pengalamannya makan bareng temen-temen kerjanya. Diantara mereka ada seorang yang memang sangat ekstrovert. Selama 2 x 60 menit acara makan-makan, dan pembicaraan hanya didominasi oleh cerita-cerita si ekstrovert tentang dirinya, keluarganya, pengalamannya, apa-apa yang dia sukai, hobinya , binatang peliaraannya , bla…bla…bla… (kalo boleh saya ilustrasikan sih dari terbit matahari sampai maghrib, ngga bakal selesai … hehehe…). Dan saya bisa menebak bagaimana perasaan sahabat saya yang sangat introvert itu.
Mudah-mudahan ini bisa jadi pelajaran buat siapapun, terutama buat diri saya sendiri, buat menjadi pendengar yang baik.

“ Setiap pertemuan menjadi petualangan. Setiap orang menjadi pelajaran kehidupan. Yang kaya, yang miskin, yang berkuasa, dan yang kesepian, semuanya penuh impian dan keraguan sama seperti kita. Dan setiap orang memiliki kisah unik kalau saja kita bersedia mendengarkan. Betapa sering kita membiarkan kesempatan itu melewati kita. Seorang gadis yang menurut kita bisaa saja, penjual roti yang setiap hari lewat di depan rumah kita, orang orang itu memiliki cerita sama seperti kita. Dan sama seperti kita juga, mereka memimpikan akan ada orang yang mau mendengarnya.”(Chicken Soup For The Soul)

Terjebak Biro Jodoh Internasional


Membaca biografi Ennie Van Moorsel Arif membuka mata hati saya tentang dimensi lain yang ditawarkan oleh mimpi-mimpi anak manusia yang sebagian harus berakhir .... ah, bahkan saya tak sanggup membayangkannya.

Adalah biro jodoh internasional yang telah mengenalkan Ennie dengan seorang pria warga Belanda, Gez, begitulah namanya disebut. Saat itu tahun 1986, internet belum lagi singgah merangkul tanah air. Hubungan mereka berjalan via klub penpals (semacam klub korespondensi internasional). Lewat video, Ennie melihat sosok pria itu begitu simpatik, gagah, tinggi, kekar, atletis dan gentleman. Beberapa bulan mereka berkorespondensi, berkomunikasi via telepon, serta saling berkirim hadiah, hingga suatu ketika Gez melamar Ennie menjadi istrinya. Menikah dengan seorang pria Bule bisa jadi adalah mimpi bagi sebagian wanita, dan Ennie adalah satu diantaranya. Maka tanpa banyak pertimbangan, dengan modal menjual asset kekayaan hasil usaha yang telah dibangun bertahun-tahun, Ennie terbang ke Amsterdam membawa putra kecil semata wayangnya hasil pernikahan pertamanya yang telah gagal. Merajut mimpi demi melacak jejak surga kehidupan yang selama ini ia cari. Akan tetapi semuanya menguap tak bersisa hanya sedetik setelah Ennie mendapati sosok Gez yang nyatanya benar-benar jauh berbeda dari profil yang dikenal selama ini. Sosok gentleman itu ternyata adalah makhluk pemabuk paling kasar yang terjebak dalam tubuh manusia.

Tiba di Belanda Ennie dan putranya langsung dibawa ke sebuah apartemen, ditodong dengan pistol, putranya dikunci dalam toilet hingga kelaparan dan kedinginan, disekap selama berminggu-minggu, diberi makan sisa remah-remah roti, dihajar hingga babak belur, dipaksa melayani nafsu bejat si durjana dengan membabi buta –maaf- dengan alat-alat aneh scherp en vreemde voorwerpen. Di titik ini saya tidak sanggup lagi melanjutkan berbagai penyiksaan lain yang diterima Ennie dan putranya. Perut saya rasanya seperti diaduk – aduk membayangkan semua kebejatan Gez yang ternyata adalah seorang interniran militer, penipu, pemabuk dan psikopat kronis !! Mengapa profilnya di video yang direkomendasikan biro jodoh internasional itu awalnya tampak begitu simpatik, ganteng dan lembut ?

Walau pada akhirnya Tuhan menolong Ennie untuk bisa kabur dari Gez, trauma penyiksaan berminggu-minggu itu selamanya akan melekat dalam ingatan En dan putranya hingga dewasa.

Kita mungkin bisa belajar dari pengalaman hidup Ennie Van Moorsel Arif, adik kandung Pipiet Senja, salah satu penulis terbaik di tanah air. Kisahnya menjadi warning bagi sebagian dari kita yang selama ini telah dilenakan kemudahan transaksi dunia maya. Memang tidak salah kalau kita bisa menjalin komunikasi dengan banyak orang hingga ujung Tierra del Fuego. Bisa saja lewat myspace atau facebook kita menemukan jodoh yang selama ini dicari. Namun perkenalan lewat chatting, facebook, friendster, myspace, biro jodoh, atau apapun namanya jangan sampai membuat kita bermimpi di siang bolong lalu hilang kewarasan untuk berpikir logis. Sebab bagaimana pun juga, kita harus tetap terjaga dan berpijak pada realita.



Kenapa Flash Disk Rusak ?

Hari-hari terakhir ini saya harus kembali menelan kenyataan pahit ditinggalkan oleh flashdisk kesayangan. Bukan ditinggalkan sih, lebih tepatnya rusak, intinya uda ngga bisa digunakan lagi. Ini kali kedua saya mengalami hal serupa.
Kronologisnya, waktu itu lagi nyobain ngenet di warnet baru deket rumah. Lumayan kan ngga harus menggeber tunggangan kalo Cuma pengin posting atau cek email. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, Semarang ibukota Jawa Tengah (hehe yang terakhir ngaco…), habis masang socket flashdisk ke port USB, sama sekali ngga ada komentar yang muncul di layar. Saya coba intip di jendela explorer juga belum muncul juga. Beberapa menit kemudian, saya cabut flash disk dari port. Sempet kaget juga karena flashdisk tiba-tiba terasa panas dan bau seperti benda terbakar. Aneh, soalnya setelah dicek sama si empunya warnet pake flash disk laen ternyata bisa detect. Jadi bingung, ada apa dengan flash disk saya ?


Seingat saya sejauh ini saya selalu mematuhi dan mengamalkan undang-undang di dalam memperlakukan flashdisk secara baik dan benar, diantaranya :
1. Menjauhkan dari pengaruh medan magnet kuat kayak TV, handphone, dan benda- benda sejenis lainnya.
2. Menghindarkan dari air meski sudah diklaim oleh vendor sebagai waterproof
3. Selalu melakukan proses virus scan
4. Melakukan proses eject sebelum mencabut flash disk dari port USB
5. Menjauhkan dari sinar matahari langsung
6. Menghindarkan dari benturan keras
7. Selalu menutup socket flash disk pas lagi ngga dipakai
8. Dan meminimalisir proses hapus tulis langsung dari flashdisk

Paling tidak itulah rambu-rambu yang saya pegang selama ini. Menurut sebuah artikel usia flashdisk berbeda-beda tergantung kualitas dan merk, biasanya berkisar antara 10.000 – 100.000 kali proses hapus tulis. Sementara umur flashdisk saya sekitar 1, 5 tahun dengan frekuensi pemakaian sedang.
Sempat Tanya ke beberapa teman soal hal ini. Ada yang bilang ini kesalahan pasang socket USB pada CPU, ada juga pendapat kalo CPU ngga bisa support jenis flashdisk tertentu. Setelah saya Tanya ke mbah Google pun belum ada jawaban yang memuaskan. Intinya kalo flashdisk uda rusak ya tamatlah riwayat file-file yang tersimpan di dalamnya, that’s all.
Jadi ingat kali pertama saya kehilangan data-data penting gara-gara flash disk rusak di tempat KKN, padahal umurnya baru beberapa bulan. Kronologisnya benar-benar sama, para flashdisk ini harus mengakhiri hidupnya di komputer orang lain. Padahal waktu itu ada data skripsi, proyek penelitian, naskah-naskah soal yang sudah tertata, presentasi power point, foto-foto , semuanya hilang. Hiks…. Parahnya beberapa bulan kemudian data back up di hardisk juga hilang karena hardisk rusak. Hikz kuadrat ;-(
Oya jujur kedua flashdisk saya yang rusak merk Kingston semua. Saya ngga menyalahkan merk koq, entahlah tapi saya pikir pasti ada alasan lain yang seharusnya bisa menjelaskan kejadian ini, biar ke depannya ngga akan terulang lagi. Mungkin teman-teman ada yang tahu penyebab kenapa flash disk bisa rusak ?

Rendezvous

Ceritanya sore ini saya sempatkan untuk membawa tunggangan mengelilingi kota tercinta Madiun, sesuatu yang uda lama tidak saya lakukan. Ngga ke seluruh kota sih, cuma sebagian saja. Udara masih terasa hangat meski matahari sudah mulai condong ke barat, pertanda kemarau menjelang. Aspal jalanan juga masih menyimpan sisa-sisa panas yang terik sejak pagi hingga siang tadi. Tips : kalo lagi pengen jalan sore, jangan sampe ngga pake sandal atawa sepatu, bisa-bisa pulang dengan kaki melepuh minimal kapalan.

Saya arahkan motor butut kesayangan melewati tempat-tempat yang jadi sejarah hidup sewaktu muda (lagi ngerasa sok tua niy….). Bangunan sekolah di jalan kartini yang dari luar belum banyak berubah kelihatan dingin, anggun membisu, tapi menyimpan kenangan. Lagu Kisah klasik untuk masa depan-nya Sheila on 7 tiba-tiba terngiang -ngiang di kepala saya. Untung, saya bisa menahan diri untuk tidak berjoget ;-p. Di sebelah selatannya, gedung pengadilan negeri berdiri dengan wajah baru. Saya sampai pangling melihat bangunan yang dulu usang berpayung beringin itu kini terlihat cling. Lupa saya kapan terakhir kali lewat jalan ini.

Karangan bunga ucapan selamat untuk walikota baru juga masih terpajang di pintu masuk kantor Pemkot. Iya, sekedar info buat warga luar, Madiun baru saja mendapat pemimpin baru periode 2009-2014, dilantik di Gedung Graha tanggal 29 April di bawah pengamanan hampir 1000 personil keamanan. Banyak yang bilang, pengamanannya superketat, kayak suasana DOM (daerah operasi militer) di Aceh. Ada watercanon, sniper, untung ngga ada tenk tempur sekalian ya, Pak Kapolres…
(catatan : Bambang Irianto-Sugeng Rismiyanto menang dalam Pilkada kota Madiun 23 Oktober 2008 di bawah dugaan skandal money politik).


obral euy...


Pusat perbelanjaan berdiri menggoda di sepanjang jalur Pahlawan. Heran juga, di kota sekecil Madiun, dengan laju ekonomi yang biasa saja, dengan profil demografi penduduk usia produktif kebanyakan tak berpenghasilan, bisa saja berdiri 4 mall dalam kurun lima tahun terakhir. Mungkin Pemerintah Kota sadar benar kalo para warganya sangat tidak mudah menolak godaan obral tiap akhir bulan dan derasnya migrasi gaya hidup ala kota besar. Kemudian mata saya membaca tulisan besar-besar di bawah jembatan penyebrangan, tepat di depan salah satu mall “PUSAT REKREASI DAN BELANJA KELUARGA”. Qeqeqeqe, benar-benar provokatif …
(Sisi positifnya, beberapa tetangga saya diterima bekerja di pusat belanja yang baru berdiri di bekas lahan terminal lama. Utamakan anak lokal ya Pak manajer ?)


pusat belanja dan rekreasi keluarga weks...


Alun- alun belum banyak berubah, sepertinya sore ini sedang digelar liga sepakbola professional antara RT Baru Maju versus RT Mundur Kena. Rame juga yang nonton, dari penjual bakso sampai anak-anak, lumayan kan bisa nonton bola gratis dari tribun VVIP. Di sebelah timur, satu mall yang sudah eksis sejak saya belum lahir sekarang sudah beralih fungsi menjadi pusat jual-beli handphone, karena kalah saingan mungkin.

Sore jelang maghrib, populasi pedagang kaki lima di area stadion wilis semakin bertambah. Saya tidak ingat kapan tepatnya lokasi ini mulai menjadi pusat wisata kuliner malam hari. Yang pasti mulai dari penjual kacang rebus sampe es puter semua ada. Apalagi dengan migrasi pedagang PBM ke pasar penampungan di utara stadion. Bikin kehidupan malam di Madiun jadi tambah semarak, seperti pasar malam.

Konsentrasi PKL juga tersebar di sepanjang jalan Diponegoro dari timur ke arah barat. Roti bakar, ayam bakar, seafood bakar, sampe bakso bakar tersedia di tenda-tenda pinggir jalan. Tapi menu nasi kucing yang murah meriah sepertinya belum berhenti menjadi primadona.

Di sebelah barat, lapangan basket bosbow dengan background pohon beringin tua masih memamerkan sejarahnya. Hehe, dia saksi bisu betapa aduhainya shooting basket saya dulu, hemmm… ibarat pungguk merindukan keranjang basket. (saya punya usul gimana kalo keranjangnya dibuat agak rendah sedikit ? Ide yang bagus bukan ?... ).



the unforgotten bosbow


Mendekati maghrib, jalanan semakin ramai. Sebagian orang-orang bersepatu yang baru pulang kerja dan sebagian lain mungkin orang-orang yang ingin keluar melepas kepenatan hidup. Tapi saya harus pulang.



senja sore ini lagi bagus...

Karena Mereka Istimewa

Semua orang tua mengharapkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Tidak ada seorang pun yang menyangsikan. Semua orang tua menaruh rasa sayang sekaligus cinta kepada para buah hatinya. Tak ada yang meragukan. Tetapi pada kenyataannya rasa sayang dan cinta itu seringkali diterjemahkan dalam wujud yang tak dapat dipahami, paling tidak oleh nalar saya yang dangkal ini.
Saking sayangnya terkadang orangtualah yang menyetir ke mana anak-anaknya harus melangkah. “Kamu harus menjadi dokter”, atau “Bapak ingin kamu jadi sarjana teknik”, “Kuliah di IKJ kamu mau jadi apa?”, “Swasta itu hidupnya susah”, dll. Banyak orangtua yang meminta anaknya harus jadi anu atau kudu kuliah di jurusan itu, padahal si anaklah yang kelak akan menjalani hidupnya, bukan sang bapak atau ibu kan ?
Saya sadar sebenarnya saya tidak memiliki “wewenang ilmiah” tentang ini (karena saya belum berstatus orang tua), tapi saya coba berbicara dari sudut pandang orang luar yang sering bersentuhan langsung dengan masalah-masalah serupa. Maklum, profesi sebagai tutor mau tidak mau memaksa saya untuk masuk ke dalam area hubungan anak dan orang tua yang seringkali mengalami friksi hanya karena miskomunikasi.



“ Anakmu bukanlah milikmu. Mereka putra-putri Sang Hidup
yang rindu pada diri sendiri …..” (K. Gibran)



Dalam bukunya “Dig your well before you thirsty”, Harvey Mackay mengatakan, sebenarnya setiap orang memiliki aspek daya jual baik dalam aspek pengetahuan, kompetensi, ketrampilan, minat, sasaran, visi , misi, maupun pengalaman-. Intinya tiap kita adalah istimewa. Kita lahir dengan potensi, bakat, dan keinginan masing-masing. Untuk itulah guru SD kita selalu bertanya “Apa cita-citamu kelak?”, ketika sang anak telah meretas impiannya untuk menjadi novelis hebat karena terinspirasi kesuksesan JK Rowling misal, tapi kemudian di tengah jalan sang ibu menginginkan anaknya menjadi perwira, bukankah kedengarannya cukup tidak adil bagi si anak ? Terlebih jika si anak samasekali tidak mempunyai minat ataupun bakat menjadi perwira. Kondisi ini sepertinya juga dilematis bagi anak sendiri. Di satu sisi ia ingin mewujudkan mimpi dan cita-citanya, sementara di sisi lain tak ingin mengecewakan orangtua yang telah membesarkan dengan sepenuh jiwa.
Saya mempunyai seorang kawan yang sejak kecil suka sekali menggambar. Buku-buku pelajarannya dipenuhi coretan kartun, desaign baju, model bangunan, gambar-gambar dalam dimensi dunianya sendiri. Bahkan ketika guru menerangkan di depan kelas, tangannya tidak berhenti bergerak ibarat Claude Monet yang menggoreskan sketsa di atas kertas. Hasil coretannya pun bisa dibilang outstanding untuk ukuran seorang otodidak yang berguru pada bakat. Sayang sekali bakat luar biasanya ini tidak tersalurkan sebab sang ibu lebih merestuinya menjadi birokrat. – ini hanya satu contoh.
Alangkah bahagianya ketika orangtua yang kita cintai bisa mendukung, bukan mencibir setiap visi kita, mengingatkan bukan menyalahkan ketika jalan kita menyimpang, menasihati bukan menyetir apa yang kita citakan. Karena restu Sang Hidup berasal dari restu orangtua jua.

SHOPAHOLIC

Wanita dan belanja rasanya ibarat dua sisi keping mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Sulit untuk dipungkiri, sebab sekalipun saya mau membela diri untuk menolak generalisasi ini, secara de facto realitas telah berkata demikian. Mulai dari pasar tradisional ala Indonesia yang murah meriah hingga pusat perbelanjaan Primark di Oxford street ala London, lihat saja siapa komunitas yang mayoritas bertransaksi di sana? Kaum hawa, golongan saya.

Beberapa minggu lalu saya sendiri jatuh ke dalam endemic shopaholic. Entah bisikan dari mana yang tiba-tiba mendorong saya untuk memuaskan keinginan belanja ala “perempuan” yang sebelumnya tidak pernah saya lakukan. Pikiran ketika itu mengatakan toh sekali-kali ngga apa-apa, sebagai imbalan buat diri sendiri atas kerja keras tiap hari dari subuh ampe malam. Akhirnya demi menuruti bisikan itu, lembar demi lembar rupiah mengalir untuk membeli keperluan yang bisa dibilang bukan “kebutuhan”. Sepatu, baju, kaos, sandal, jajan, dan jajan lagi. Sesaat terpikir, oke setelah saya mendapatkan baju ini atau sepatu itu saya bakal mendapatkan kepuasan batin. Tapi nyatanya tidak, kawan. Semakin menuruti hasrat berbelanja yang tidak lagi sejalan dengan teori kebutuhan itu, semakin saya berjalan menjauhi rel definisi kepuasan hati. Ibarat meminum air laut, semakin banyak diminum, justru semakin membuat haus.

Tenggorokan saya rasanya tercekat, melihat di pinggir-pinggir jalan pedagang koran masih berdiri di siang bolong hanya untuk menawarkan Jawa Pos yang bahkan tinggal separuh harga. Benar-benar malu jika berkaca pada mereka yang menghargai sekeping rupiah untuk bertahan hidup sementara saya menghamburkan uang hanya demi menuruti keinginan sesaat.

Saya tidak mengerti apa yang ada dalam benak mereka yang rela menghabiskan waktu seharian bahkan hanya untuk keluar masuk mall dengan tas di pundak atas, tangan kanan dan kiri menjinjing berbagai barang bermerk untuk memenuhi kepuasan yang fatamorgana itu. Saya teringat seorang teman pernah bertanya retorik, “Apa salahnya belanja barang bermerk kalo emang punya uang ?”. Sama sekali tidak salah, logikanya saya balik begini, kalo ada barang lain yang sudah cukup memenuhi asas kemanfaatan meski pun tidak bermerk, buat apa beli yang mahal ? Toh uangnya bisa buat hal lain dari sekedar membeli prestise brand terkenal.

Tapi itu semua kembali pada pribadi masing-masing. Saya tidak menganggap ini pendapat yang benar, sama sekali tidak. Sangat relatif, sangat subjektif. Namun di atas itu semua ada indikator paling sensitif yang bisa menilai yaitu kata hati.

Dilema Masa Skripsi

Kalo masa kuliah diibaratkan dengan sebuah kurva parabola terbuka ke bawah, maka titik pucaknya yang terdiri dari absis sumbu simetri dan ordinat maksimum adalah masa-masa tugas akhir yang rawan dan penuh godaan. Jika titik kulminasi ini berhasil dilewati dengan baik, maka grafik selanjutnya bakal turun dengan mulus membentuk kurva parabola yang sempurna. Itu analogi hidup dari menjadi mahasiswa tingkat akhir yang ngga akan bisa lari kejaran tugas akhir alias skripsi. Diburu waktu, dan pikiran setelah lulus nanti mau kerja dimana semakin melengkapi penderitaan karena pasca wisuda biasanya status demografi yang melekat adalah pengangguran paling intelek di kampung asal.
Belakangan banyak sahabat yang mengaku berada pada titik jenuh, pusing hingga tablet aspirin pun ngga sanggup meredakan, stagnate, dan putus asa karena terjebak pada pilihan judul TA-nya sendiri. Belum lagi pressure dari dosen yang luar bisaa intens. Tiap pengajuan ditolak dengan alasan kurang inilah, kurang itulah, secara teori benar tapi secara statistic pembuktian keliru, dsb. Atau ketika uda lolos sensor pertama, lalu gagal pada sensor dosen pembimbing II. Fiuh.., itu belum termasuk wira-wiri plus begadang sampai ubanan menunggu sang dosen pembimbing tercinta yang sering pura-pura lupa kalo sudah bikin janji. Apalagi kalo dosen sama sekali tidak kooperatif dengan mahasiswanya.
Saya jadi teringat pengalaman pribadi waktu mengerjakan skripsi dua tahun lalu. Saya memang nekat mengajukan judul penelitian tindakan kelas (PTK) yang masih menjadi kontroversi diantara para pendidik. Alasannya PTK hanya boleh dilakukan oleh seorang guru terhadap murid-muridnya, mahasiswa yang belum berpengalaman mengajar tidak berhak menggunakan metode ini. Saya membela diri karena saat itu saya juga sedang menjalani program guru magang di salah satu SMP, jadi saya punya murid sebagai subyek observasi.
Ujian kesabaran itu datang dari dosen pembimbing II yang memang terkenal angker, otoriter, paling ditakuti se-fakultas, bahkan se-kampus karena beliau ketua yayasan, dan yang paling mengerikan adalah beliau termasuk golongan yang kontra terhadap skripsi PTK. Itu belum seberapa, perlu saya beri tahu juga beliau adalah penganut mahzab klasik yang sering tidak bersedia menerima ide-ide pembaharuan dalam dunia pendidikan. Friksi itu pun terjadi, beliau menampik pendapat saya dan puncaknya skripsi saya sempat dilempar di atas meja dan saya digadang-gadang akan dianugerahi maksimal label C minus. Hiks, saya benar-benar membeku seketika itu, frozen. Tidak menyangka dan speechless.
Setelah kejadian itu saya dilanda frustasi. Kehilangan semangat. Kampus bagi saya ibarat ladang pembantaian, yang keluar dengan selamat akan berakhir di RS Jiwa Menur berkumpul bersama para caleg gagal. Benar-benar menakutkan.
Berminggu-minggu saya mengacuhkan skripsi dan penelitian saya hingga berlumut. Saya melarikan diri dengan kesibukan lain mengajar privat anak-anak SMA yang akan menghadapi UAN.
Di tengah kesibukan itu entah bisikan dari mana yang tiba-tiba secara ajaib menegur saya, “Well, sampai kapan mau terus begini ? hampir empat tahun kamu lewati, dan tinggal satu satuan lagi langkahmu tiba”. Magis. Kata-kata singkat itu membius saya dan menjadi pelecut semangat untuk kembali ke jalur penelitian. Waktu itu saya hanya berharap sang dosen terkena amnesia sebagian sehingga lupa telah melempar skripsi saya.
Untung dosen pembimbing I selalu memberikan support dan mengapresiasi apa yang saya kerjakan. Saya cukup termotivasi. Alhasil kekhawatiran tentang nilai C itu tidak terbukti dan poin 3 koma sudah cukup mengantar saya untuk lulus.
Saya yakin hampir semua mahasiswa tingkat akhir di luar sana mengalami dilemma yang sama dengan konfliknya masing-masing. Karena itulah saya berani mengeneralisasi ini sebagai suatu hal yang wajar. Tinggal bagaimana kita bisa menjaga niat, konsistensi, dan tujuan hingga batu ujian seberat apapun tidak akan membuat kita berhenti. Em, berhenti sebentar boleh sih tapi jangan lama-lama sampe karatan. Setelah mampu melewati semua itu, saya taruhan anda akan setuju dengan pendapat saya kalo skripsi adalah intisari kehidupan mahasiswa. So, goodluck and wish all the best !!!

Presented to : 'uteng' dan semua mahasiswa tingkat akhir yang lagi dilanda frustasi. Keep on spirit !!

DO MORE TALK LESS : SAVE THE WATER!!



Did you ever think that the number of water in this world is decrease day after day ?
Okay, maybe you’ll say that more than 70% earth contains of water, but this is kind of salty water. We can’t drink or wash something with it.
I’m talking about the fresh water, the water that comes from the rivers and the depth under the ground, saved by the trees.
The population increase every second, and this condition isn’t balance with the water supply. The experts estimated that If we’re not save the water right now, millions people will lack of water in the next ten years. The world commemorate March 22nd  every year as Water Day. So this is the right time to make any reflection, “ Have we really care with the water existence ?”
Now, look at our rivers! We’re faced in serious conditions. The rivers are full with garbage and industrial cesspool. The rivers are polluted. We have to be honest, our people still don’t have any attention with their environment. People just blame the nature when disasters come. Floods and landslides are happen every years because of us, and the solutions is back to ourselves, could we change our bad habbits?
Actually there’re so many ways that we can do to save the water. For a simple example, don’t forget to turn off the water faucet after we use it. Use the water wisely, don’t waste it in useless ways. The most important, don’t ever through the garbage in to the rivers, I’m begging you please ! 
The other way, we can plant some trees in front of our house. The roots will save the water that comes from the rain and keep it in the ground to prevent floods and landslides.
The answer now, Why do we have to care ? Because we are part of the ecosystem and the keeper of the nature. We live in here and depend on another creatures. So, we should give respect to the nature which has give us all we need.
There’s no other way, DO MORE TALK LESS. SAVE THE WATER !

Start from a simple thing
Start from ourself
Start right now !!!