Jika keyakinan kita mantap, semua variabel di alam semesta akan mendukung keyakinan tersebut. Hal-hal rasional seakan tidak berlaku lagi, hukum alam seakan "berhenti". Sebab kita telah bermain dalam dimensi lain.
(Tauhid Nur Azhar)
“Assalamualaikum, bagaimana ya caranya mengingatkan orang yang merokok di dalam bis umum?”, begitulah kira-kira bunyi pesan pendek yang dikirim seorang sahabat. Saat mengirim sms itu ia memang sedang dalam perjalanan di atas bis dengan fasilitas plus-plus, yaitu full musik dangdut dan gratis mandi asap rokok sepuasnya. Serasa menikmati sauna dengan aroma terapi TAR, dipadu karbonmonoksida lantas disempurnakan dengan komposisi nikotin.
Saya yakin potret itu bisa saja terjadi pada setiap kita. Pada anda, saya, atau orang-orang yang merasa terdzalimi haknya karena ada orang yang merokok di tempat-tempat umum tanpa rasa bersalah sama sekali. Dalam kotak imajinasi saya, perokok-perokok ini ibarat manusia-manusia cerobong asap ;-p (maaf......hehe). Bukannya saya membenci perokok, toh merokok adalah prerogatif masing-masing. Akan tetapi ketika aktivitas merokok itu dilakukan di tempat-tempat publik , tidakkah terpikir asap yang dihasilkan akan mengganggu orang lain?
Hak hidup jelas diatur dalam hukum dasar manusia termasuk konvensi PBB, sedangkan untuk hidup manusia butuh bernapas. Jika dalam proses bernapas itu ada zat-zat membahayakan dari asap rokok yang disumbangkan para perokok di sekitar kita, apakah itu tidak melanggar hak hidup juga namanya ? Apalagi menurut sejumlah riset, perokok pasif menerima 75 % dampak dari asap rokok yang dihirup akibat berada dalam radius yang dekat dengan perokok aktif.
Perjalanan dengan naik bis umum atau KA ekonomi sebenarnya sangat menyenangkan , karena saya bisa mengamati perilaku orang-orang dengan rentang kasta yang berbeda-beda, mendengar dialek-dialek yang polos dan meriah seperti pasar malam, plus live music dari para pengamen jalanan. Dari itu semua alasan yang paling rasional tentu karena tarifnya yang cocok dengan kantong saya. Namun yang menjadi pantangan terbesar adalah mendapat tempat duduk di dekat perokok. Fiuhhh, dan beruntungnya saya sebab hampir setiap perjalanan selalu saja ada momen-momen menyiksa semacam ini.
Pernah suatu ketika dalam perjalanan melewati alas Baluran di perbatasan Situbondo-Banyuwangi. Supir bis mengurangi kecepatan untuk menciduk penumpang semaksimal mungkin walaupun kurva bobot angkutan sudah melebihi batas maksimum. Penumpang masih terus dijejalkan. Bis benar-benar penuh waktu itu, bahkan lorong antar kursi pun tak bisa dilewati. Orang-orang berseragam hijau memenuhi kendaraan, plus pedagang-pedagang yang juga ingin menyeberang ke Gilimanuk.
Di tengah bis yang padat massa, saya terjebak. Sebelah kiri, depan dan belakang saya dengan seenaknya orang-orang itu menyalakan rokok. Ya Tuhan, saya benar-benar terjebak, tak berkutik di tengah kepungan asap rokok. Panas, pengap, bau, seperti ikan yang terpanggang karbonmonoksida. Pembuluh darah saya terasa menyempit, dan saya pengin muntah. Alangkah senangnya kalo saja bisa muntah di depan mereka, hitung-hitung balas jasa atas asap rokok yang mereka sumbangkan pada paru-paru saya. Rasanya antara hidup dan mati. Sungguh manusia-manusia cerobong asap yang merokok di dalam bis, tidak berperi kemanusiaan. Pantas diadili di mahkamah internasional lalu dimasukkan di penjara Azkaban bersama para dementor seperti di cerita Harry Potter : D hihihihi.....
***
Yah, itu hanya satu penggal pengalaman, sahabat. Sebenarnya tiap daerah bisa saja memberlakukan Perda tentang kawasan bebas rokok. Jakarta dan Surabaya sudah memulainya meski implementasinya masih jauh dari harapan. Selain sosialisasi yang kurang maksimal, minimnya kesadaran individu juga menjadi faktor gagalnya realisasi peraturan tersebut. Saya rasa tanpa Perda sebenarnya kawasan bebas rokok (dalam hal ini tempat-tempat publik, termasuk transportasi umum) bisa ditegakkan. Asalkan ada kesadaran dan penghormatan akan hak orang lain.
Laki-laki itu bernama Don Hasman. Jujur saya tidak tahu banyak tentang Om Don selain dari literatur-literatur yang saya googling dari internet. Pengalaman hidupnya, perjalanannya menyinggahi berbagai sudut dunia, karya fotografinya selama berpuluh tahun , dedikasi dan pengabdian terhadap profesinya sebagai fotografer kelas dunia. Sampai seorang kawan mengenalkan saya dengan sosok sederhana itu dalam sebuah kesempatan beberapa waktu lalu. Saking takjubnya saya sampai spechless, ‘ndesoni’ barangkali. Kharisma lelaki yang seumuran dengan mbah saya itu lah membuat saya kehilangan jurus interogasi yang biasanya jadi gaya saya selama ini.
Don Hasman. Kalau menyimak penggalan episode perjalanannya di dunia fotografi sejak puluhan tahun lalu, saya kira semua akan sepakat Om Don sangat berbakat. Karya fotografinya selalu memberikan sudut pandang yang berbeda, unik, di luar mainstream, unpredictable. Lihat saja ‘kegilaannya’ mempelajari lalu mengabadikan kehidupan suku Asmat di Papua, Suku Tengger di Jawa Timur, kelompok orang Kubu di Sumatra, juga karya fotografinya mengabadikan jalur ziarah Santiago de Compostela dan Finisterrea Spanyol utara dengan berjalan kaki sejauh 1000 km dalam 35 hari, tiga tahun lalu. Dan jarak ini ditempuhnya dalam usia yang tak lagi muda.
Mengawali karir sebagai wartawan di sejumlah harian, ditemani kamera second kelas empat , Om Don berguru pada pengalaman secara otodidak dengan sempurna. Hingga kini masih menjadi Ketua Asosiasi Fotografer Indonesia. Pengalaman memang guru yang terbaik, kan? Saya kira yang membuat karya-karya seorang Don Hasman istimewa adalah karena ia melakukan semua itu dengan hati. Ada makna yang tersirat dalam tiap hasil bidikan gambarnya. Satu kalimat yang saya catat betul dari lelaki ini adalah tentang ketulusan untuk berbagi. Ketika kita bisa berada di satu tempat yang tak terjangkau bagi orang lain, bagilah itu! Abadikan momennya, biarkan orang lain turut menikmati apa yang kita juga nikmati. Sekalipun itu hanya dalam bentuk gambar photo. Maka tak heran ketika Don Hasman ditawari sekian ratus dollar setelah menjadi pemandu dalam sebuah perjalanan di luar negeri, ia menolak. “Sudah diberi kesempatan untuk membantu menjadi pemandu saja sudah syukur”, begitu katanya. Dari situ saya sadar, orang ini luar biasa. Maka tak heran Om Don sering menolak jika disiapkan hotel khusus untuk menginap selama mengisi berbagai undangan. Bahkan ia tak ragu membagi ilmunya secara Cuma-Cuma di seminar-seminar yang diadakan komunitas fotografi di seluruh Indonesia.
Menyerap pengalaman hidup sang fotografer yang sarat makna, menyimak berbagai ekspedisi dan pendakian yang dilakukannya sejauh ini, kadang menyiratkan pucuk-pucuk kerinduan akan kotak mimpi diri yang telah lama berkarat. Bertebaran di muka bumiNya, meneguk segala hikmah semesta, mencium aroma gletser kehidupan yang penuh tantangan, menggoda marabahaya di antartika, lalu menelan saripati makna yang tersimpan dalam tiap kepingan proton semesta.
Hmm, kisah Don Hasman sepertinya telah membangunkan kembali mimpi-mimpi seorang anak manusia di satu sudut bumi. Sedikit jejak impressive Don Hasman ini, mudah-mudahan memberikan inspirasi.
Don Hasman : Fotografi dan Kejujuran
(Indonesian Photo Magazine Online)
Don Hasman di depan karyanya saat berpameran di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. (TEMPO/M.Syaifullah)
Don hasman (kiri), saya (kanan), dalam seminar fotografi yang
diadakan Magetan Photography Community
Akhirnya bisa juga menulis dengan tenang. Setelah beberapa pekan terbelenggu dengan hal yang tak urgen tapi lumayan menguras perhatian.
Rindu sekali dengan suasana ini, duduk di balik jendela kayu sambil memandangi langit sore yang violet. Harum bau tanah basah yang menyegarkan, dan tembok berlumut yang eksotis. Bagi orang seperti saya itu sudah cukup merupakan kemewahan buat jiwa, tak akan setara meskipun ditukar dengan fasilitas di hall cafe beratapkan ukir-ukiran mahakarya Michelangelo, beralaskan porselen terbaik dari Dinasti Qin.
Menghirup sore yang beraroma vanila. Bercengkerama dengan angin musim kemarau yang mengintai dari balik tirai bulan Rajab. Suara gaduh suporter Indonesia Open yang mendukung Taufik Hidayat dari tabung ajaib bernama televisi di belakang saya seperti harmonisasi orkestra Hayden saja. Bisingnya knalpot sepeda motorsport yang digeber keras-keras di samping kantor kecamatan, yang biasanya memekakkan gendang telinga, sore ini layaknya alunan simponi Mozart yang riang. Nikmat, dan syahdu.
Jujur saya tidak tahu akan menulis apa. Saya juga tak tahu ke mana arah paragraf-paragraf ini. Yang saya tahu, saat ini saya kangen sekali menulis. Ya, kangen sekali.
Saya biarkan jari-jari ini menari di atas keyboard yang telah lama terindukan. Biarkan kran kerinduan mengalir membasahi sela-sela jiwa yang tertidur.
Mungkin saya hanya ingin menyapa anda, para sahabat tercinta. Mungkin juga saya hanya ingin menyapa tulisan saya sendiri yang beberapa waktu ini kehilangan tuannya.
“ Menulis sudah menjadi bagian integral dalam hidup. Maka jeda sedikit saja dari menulis, ibarat kehilangan satu bagian dari hidup”, begitu kata orang –orang pandai yang ada di koran.
Buat saya, menulis bagi diri sendiri adalah proses pelepasan sesuatu dari jiwa. Satu bentuk eksistensi bahwa kita bebas. Bebas dari aturan kebahasaan, bebas dari penentuan tema, bebas dari apa saja. Sebab kitalah yang menentukan segalanya. Kitalah tuannya.
Seperti juga sore ini, ketika saya membiarkan diri ini bebas terbawa ‘aliran’. Hanya menulis. Tanpa terikat tema, tanpa diperbudak aturan bahasa. Tanpa prediksi bagaimana saya harus mengakhiri paragrafnya. Tapi buat yang satu ini, saya sepakat dengan Jikustik untuk mengakhirinya dengan indah.
Selamat menikmati sore.
Hidup adalah sebuah pilihan. Tidak semua pilihan itu mudah. Kita harus menghitung, menimbang ke belakang, meraba masa depan yang masih tertutup kabut. Tapi bukankah itu yang diajarkan nasib ?
Tidak semua bisa memahami keputusan besar yang pada suatu ketika membelokkan peta rencana semula.
Kita bisa saja memilih untuk tetap berada di dalam tempurung yang sama, dengan jaminan financial cukup ‘stabil’ untuk ukuran orang udik yang tidak neko-neko. Akan tetapi hidup bukan semata masalah materi dan kepuasan raga.
Ketika kita telah menghabiskan puluhan purnama bersama orang-orang terbaik yang mengajari kita banyak hal, tentu adalah hal berat memutuskan untuk pergi. Namun rindu akan dunia di luar
Hidup bukanlah tentang hasil, akan tetapi tentang proses belajar. Belajar menemukan hal-hal baru yang akan membasuh kerinduan jiwa ini akan makna. Juga tentang pelajaran di setiap jengkal bumi yang dibentangkan-Nya.
Maka demi itulah sebuah keputusan harus ditetapkan. Bukan tentang untung rugi, atau semata-mata tentang materi. Akan tetapi hidup yang Cuma sesaat ini terlalu sia-sia jika tak ditempa dengan pengalaman. Terlalu gersang jika tak disirami dengan hikmah dalam tiap episodenya.
Embun masih mendekap bumi manakala jarum hari membuka pagi
Gelap pekat, tapi aku terus berlari
Beradu dengan bayang-bayangku sendiri
H2O yang mengembun mencekat tenggorokan, tapi aku tak peduli
Napasku tersengal, tulang kakiku meronta manja
Tapi aku tak sudi berhenti, ragaku terus berlari
Petak-petak rumah berjajar berselimut lampu pijar
Seperti kunang-kunang yang diam tenang
Dalam imajiku hukum gravitasi berhenti
Gaya tarik bumi kehilangan supremasi
Tubuhku tiba-tiba saja terasa ringan tak bermassa
Aku melayang
Sweater lusuhku menjelma menjadi sayap Tinker Bell
Melaju menyusuri ruang-ruang hampa dalam negeri Fairytopia
Tanpa beban, tanpa duka mendera
Mencandai angin, menggoda rerumputan
Paru-paruku disesaki O2, tak direcoki karbondioksida
Nyaman, lega tak terkatakan, aku dilena orkestra alam Maha Sempurna
Tiba-tiba... Gawat... aku kehilangan keseimbangan
Bumi dan langit berkonspirasi menjeratku kembali dengan gravitasi
Aku tersedot dalam intensitas tekanan tinggi menukik tajam...
Braaakkkkkk…..
Aku terjatuh
Sakit


Kuseka mendung di langit timur
Berharap mentari mengeja sapanya
Nihil.
Seperti nisan yang membatu kubaca wajahmu
Tegap tak bergeming
Hingga nada-nada angin yang tersebar ke ufuk semesta
Menggema sia-sia
Duka purnama kali ini menggunung
Tersenyum pucat dibalik satire hujan
Kolase-kolase cinta itu seperti tertutup debu zaman
Terlupakan bersama bongkahan gletser yang mencair
dari puncak Karakoram keangkuhan
Melukis warna perih dalam setia yang kuseduhkan
Ibarat menangkap pelangi
Begitulah dimensimu
Dekat hakikat
Tapi tanpa kata
Kosong makna
Maka aksioma itulah yang sedang saya renungi malam ini. Diiringi jarum jam yang berdetak, seirama desah nafas yang mengalun satu-satu, menyenandungkan serenada tentang muhasabah yang masih saja berselimut keangkuhan. Namun pada akhirnya berujung pada silogisme kepasrahan dan ketundukan yang tak sempurna. 
I've been sitting here
Under the pale moonlight
Trying to figure out this life
I see clouds hanging on my mind
Then it's fall down
Rain on my soul
Wash my yesterday
I wish I could stand in the wind,
I wish I were free like water,
Flowing down
Under the warmth of the sun
But, now it's cold
So obscure
All alone, just by myself
Among the valley of doubt
People don't know about
The things I said and do
They don't understand
About what I've been through
All they know is blaming and judging
But we get what we put in, right ?
And people get what they deserve
That was Kidrock said
We could never make everyone satisfy
There're always like and dislike
Love and hate
Dear heart,
No matter what happen in this river of life
Stumble and fall
We have to stay strong,
We have to keep holding on
PS : I dedicated this poem to my brother Auliawi Ahmad. I try to write a poem like yours, but I realize I'm not so good in this way. I appreciate your awards. That was a big honor for me. Thank you.

“Koq tulisannya beda ya? Tumben ngga seperti sebelumnya…, mana tulisan-tulisanmu yang kayak biasanya ?” , kurang lebih begitulah beberapa komen serupa yang masuk ke kotak komentar saya beberapa waktu ini. Komen dari sahabat blogger yang perhatian betul sampai hafal, bahkan saat saya menghadirkan postingan dengan karakter penulisan yang agak beda dari biasanya. Padahal saya sendiri malah ngga sadar, masa iya beda ? hehe …
Buat blogger kacangan macam saya, memiliki
Sebagian orang menyebut ini inkonsistensi, tapi saya lebih senang menyebutnya dua sisi. Dua sisi untuk mengasah kepekaan jiwa terhadap berbagai sudut kehidupan yang tidak melulu monokromatik. Seperti pesan sponsornya jeng Agnes Monica, “Life is never flat” ;-p…
Ngga dipungkiri
Buat mba Newsoul, sang komentator yang setia dan bang Auliawi Ahmad yang sajak-sajaknya T.O.P B.G.T mudah-mudahan tulisan ini bisa jadi jawaban atas komentarnya di postingan saya yang lalu. Thanks buat kunjungan selama ini, ditunggu komen-komen selanjutnya!!!