Kotak-kotak Pandora Kehidupan



Menjelajahi satu demi satu blog di dunia maya membawa saya pada ruang-ruang prespektif lain. Menyusuri labirin-labirin pemikiran anak manusia yang terkadang di luar batas jangkauan logika. Menyinggahi kotak-kotak Pandora jiwa yang tidak melulu mejikuhibiniu.

Ini ibarat perjalanan backpacking tanpa ransel, nir peta dan kompas. Seperti berkeliling dunia tanpa pesawat, tanpa jetlag dan tanpa money changer. Lalu secara beruntung bertemu dengan dengan pribadi-pribadi yang ternyata mempunyai spektrum rasa yang sama, meski secara materi, tubuh belum pernah bersua. Oh, God saya harus berterimakasih pada siapapun yang telah menemukan teknologi internet pertama kali.

Seperti analogi kotak Pandora tadi, tiap blog memiliki bingkai keunikannya masing-masing. Penuh warna-warni, kaya teka-teki. Sering saya menebak-nebak kira-kira apa lagi yang akan saya temukan dalam blogwalking saya hari ini. Mungkinkah pulau harta karun ? Yah, mungkin saja. Harta karun ilmu tentunya.


Dalam perjalanan backpacking, ups maaf, blogwalking, saya mungkin saja menemukan kisah-kisah inspiratif yang membirukan rasa, menyungaikan air mata. Di lain waktu, wajah ini hanya bisa berekspresi takjub menyelami puisi-puisi jiwa bertabur metafora di ranah maya. Banyak ungkapan-ungkapan patah hati berbalut emosi, luapan kepenatan memandangi lelakon para wayang orang di atas pentas perpolitikan, sampai potret diari diri yang ringan mengalir seperti sapaan Bengawan Solo ketika tenang. Unik, asyik, menyegarkan. Beberapa blog bahkan idenya saling berseberangan secara diametral, namun malah memperkaya dimensi pikir dalam kosmos demokrasi. Diantara semua itu ada juga blog yang dipenuhi iklan blink-blink sehingga sedikit banyak mengolahragakan mata saat memandangnya hehe, maaf jujur.
Hmm, saya yakin tiap kita memiliki motif berbeda ketika membuat blog pertama kali. Dan itu memang prerogatif masing-masing. Kalau suka boleh dibaca, enggak suka ya lewati saja. Simple. Rene Descrates pernah memahatkan sebuah ungkapan, “Aku berpikir, maka aku ada”. Bolehlah saya ganti sedikit, “Aku ngeblog, maka aku ADA”.



Seperti Bintang

















Tawadlu'lah,
Engkau akan seperti bintang,
Bersinar di atas permukaan air, meski ia berada di langit yang tinggi
Jangan engkau seperti asap
ia terbang tinggi menuju angkasa
padahal hakikatnya ia tak berharga.


(dikutip dari buku "Tawadlu" karya Khozin Abu Faqih)

In the momment of silent


I've been sitting here

Under the pale moonlight

Trying to figure out this life


I see clouds hanging on my mind

Then it's fall down

Rain on my soul

Wash my yesterday


I wish I could stand in the wind,

I wish I were free like water,

Flowing down

Under the warmth of the sun


But, now it's cold

So obscure

All alone, just by myself

Among the valley of doubt


People don't know about

The things I said and do

They don't understand

About what I've been through

All they know is blaming and judging


But we get what we put in, right ?

And people get what they deserve

That was Kidrock said


We could never make everyone satisfy

There're always like and dislike

Love and hate


Dear heart,

No matter what happen in this river of life

Stumble and fall

We have to stay strong,

We have to keep holding on





PS : I dedicated this poem to my brother Auliawi Ahmad. I try to write a poem like yours, but I realize I'm not so good in this way. I appreciate your awards. That was a big honor for me. Thank you.



Cerita Langit

"Terkadang satu gambar telah mewakili seribu kata.... "
Mengintip matahari
Berkamuflase
Langit di belakang rumah
Senja di pematang
Menangkap pelangi

Purnama di ujung subuh
Lamp in the shadow
Meranggas
Jendela langit 
Bertengger
Horizon
 The shadow : Abang tukang bakso
 
Ket : gambar saya ambil dengan kamera 2 MP Sonny Ericsson K750 
 


Dua Sisi


“Koq tulisannya beda ya? Tumben ngga seperti sebelumnya…, mana tulisan-tulisanmu yang kayak biasanya ?” , kurang lebih begitulah beberapa komen serupa yang masuk ke kotak komentar saya beberapa waktu ini. Komen dari sahabat blogger yang perhatian betul sampai hafal, bahkan saat saya menghadirkan postingan dengan karakter penulisan yang agak beda dari biasanya. Padahal saya sendiri malah ngga sadar, masa iya beda ? hehe …


Buat blogger kacangan macam saya, memiliki gaya penulisan yang tepat merupakan proses belajar yang masih saya cari akhir muaranya. Ketika menulis, jari-jari ini hanya patuh mengikuti rangkaian huruf demi huruf yang melesat-lesat memenuhi labirin otak, lalu menerjemahkannya dalam tarian keyboard. Just write...that’s all !!!


Ada kalanya saya sangat menikmati menulis hal-hal ringan yang “gue banget”, tanpa harus ribet memikirkan taburan metafora apa yang tepat untuk disisipkan. Di lain waktu, virus melankolis merasuki pikiran dan memaksa tangan ini menuliskan tema-tema yang agak “dalem” untuk ukuran anak udik seperti saya.


Sebagian orang menyebut ini inkonsistensi, tapi saya lebih senang menyebutnya dua sisi. Dua sisi untuk mengasah kepekaan jiwa terhadap berbagai sudut kehidupan yang tidak melulu monokromatik. Seperti pesan sponsornya jeng Agnes Monica, “Life is never flat” ;-p…




Ngga dipungkiri gaya menulis ini kadang dipengaruhi oleh bacaan yang sedang saya baca. “Serenada Kereta Senja”, adalah salah satu tulisan saya yang terkontaminasi Edensor-nya Om Andrea Hirata. “Secangkir kasih buat Jiwa-jiwa Hangat” mungkin dipengaruhi analogi fisika Dr Tauhid Nur Azhar, ilmuwan dari UI yang cerdas itu. Sementara “Bukit Tanpa Puncak” , mungkin hasil dari persemedian saya di atas puncak Argopuro hehehe… ngayal banget!


Buat mba Newsoul, sang komentator yang setia dan bang Auliawi Ahmad yang sajak-sajaknya T.O.P B.G.T mudah-mudahan tulisan ini bisa jadi jawaban atas komentarnya di postingan saya yang lalu. Thanks buat kunjungan selama ini, ditunggu komen-komen selanjutnya!!!



Water and Life

water in purple

Anggrek ungu selepas hujan

gravitasi

vertical horizon

mulut Kamboja Jepang

merambat

mengapung

mengapung (ii)

berbagi habitat

anak dan induk

anak dan induk (ii)

apung-apung

air hujan dalam jaring laba-laba

gutasi

nampang

Ket : foto-foto ini (masih) saya ambil dengan kamera 2MP Sonny Ericsson K750

Bukit Tanpa Puncak


Saya memandangi jarum jam yang berotasi membentuk busur lingkaran yang sempurna. Sebentar lagi 2009 khatam dan mau tidak mau kaki ini harus melangkah menapaki kalender baru.

Sudah menjadi fitrah, manusia ditakdirkan tidak pernah puas dengan apa yang telah diteguk. Namun, bukankah itu juga merupakan interpretasi dari sabda Nabi bahwa barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari pada hari kemarin, maka ia termasuk golongan yang merugi ?

Saya yakin tiap kita menginginkan bisa merengkuh pencapaian lebih baik dari waktu ke waktu. Yang masih studi, goalnya bisa lulus dengan predikat cumlaude syukur-syukur honorable mention. Yang uda lulus, penginnya cepet kerja sykur-syukur sesuai bingkai keinginan. Yang uda kerja, diusahakan bisa mencapai posisi yang strategis. Begitu seterusnya, ibarat menapaki bukit yang tidak nampak mana puncaknya.



Hidup adalah sebuah pilihan. Kalimat yang luar biasa populer. 
Dan setiap pilihan mengandung elemen-elemen resiko. Ketika kita terjebak di persimpangan, bimbang dan galau dalam menentukan jalan. Disitulah hidup menuntut kita untuk pandai berhitung, mengkalkulasi peluang keberhasilan yang bakal diraih sekaligus meminimalisasi kegagalan yang mengiringi. Sebagian orang menyebutnya gambling, tapi saya lebih senang menyebutnya sebagai seni dalam hidup.

Yang terpenting adalah bukan tentang materi yang bakal kita dapat dari jalan yang nantinya kita putuskan, tapi bagaimana pilihan itu membuat kita tumbuh menjadi dewasa dalam berpikir.

Suatu ketika, ada teman yang mengatakan bahwa saya tipe orang yang lebih senang berada di zona nyaman, terlalu takut mengambil resiko, takut melakukan gambling. Beberapa hari saya coba mencerna perkataan itu hingga lumat dalam pikiran. Apa benar begitu ?

Mungkin iya saya selalu berkalkulasi tentang jalan yang akan saya tempuh. Bagaimana resikonya, hasil finalnya, pengaruhnya buat orang-orang terdekat, dsb.
Tapi saya pikir pilihan telah mengantarkan diri saya pada posisi 180 derajat dari zona nyaman sebelumnya. Menjadi seseorang yang benar-benar berbeda dalam banyak hal. Saya kira perubahan itu membutuhkan sebuah keberanian. Bukan bermaksud membela diri, tapi mungkin ukuran “berani” atau tidak berani, sukses atau tidak sukses itu berbeda di benak tiap orang. Dan Tuhan Tahu sejauh mana kapasitas ikhtiar hamba-hambaNya.




Negeri Van Oranje


Pernah ngga sih membayangkan ada manusia yang rela meninggalkan karir bagus dan kemapanan, demi menerima tantangan : meraih gelar Master di luar negeri “hanya” bermodalkan uang beasiswa ?
Mungkin kita bakal berpikir “Gila banget nih orang…!” Sebab kalo saya balik, faktanya kebanyakan dari kita (it means ngga semuanya loh) justru pengin menyandang gelar MSc, M.BA, LLM, PH.d, atau apapun itu demi mendapat posisi bagus di tempat kerja. Lah yang ini koq…
Tapi itulah yang terjadi pada sosok Banjar, salah satu tokoh dari Buku Negeri Van Oranje yang mungkin sudah pernah dibaca kawan blogger. Dari judulnya, kita langsung bisa menebak setting cerita berlokasi di negeri Kincir Angin Belanda.
Ditulis secara keroyokan oleh empat mahasiswa senior Indonesia yang telah makan asam garam studi di Belanda. Ceritanya ringan tapi sangat informative, bahkan ada tips-tips keren ala mahasiswa untuk mendapatkan kontrakan yang mudah dan murah. Trik tentang bagaimana mendapatkan side jobs untuk menutupi biaya hidup, info seputar sulitnya birokrasi ngurus ijin kerja, trik dapetin sepeda murah (sepeda adalah alat transportasi utama mahasiswa di sana), sampai tips supaya tesis khatam dengan predikat honorable mention!! Semuanya dikemas dalam cerita yang mengalir renyah, gurih, dan …. Delicious ( ngebayangin es krim pistachio ekstra saus caramel yang dipaparkan dengan sangat detil….tega bener… ini kriminalisasi terhadap air liur namanya !!!)



Lima tokoh utama: Banjar, Lintang, Wicak, Daus, dan Geri dengan spesifikasi karakter yang beda-beda karena memang kelimanya beda “alam’.
Alur pertemuan awal kelima sahabat tersebut memang sih terkesan dipaksakan. Apalagi roman cinta segi-lima yang melibatkan tokoh-tokohnya secara gravitasional. India bangetts !!!
Tapi deskripsi imaginatif tentang situasi kota-kota di negeri Van Oranje yang old and charming paling tidak sudah cukup menutupi kekurangan di alur cerita. Leiden yang dipenuhi bangunan tua bersejarah dan kapal-kapal antic yang melintasi Kanal Oude Rhine, atau kanal-kanal di Amsterdam yang tenang menyimpan romansa, juga taman bunga Keukenhoff yang bersemi di bulan Maret.
Informasi yang diselipkan dalam cerita pas banget untuk kawan-kawan yang berencana melanjutkan studi ke Belanda. Atau kalaupun ada yang punya planning berpetualang ala naked traveler, kayaknya buku ini oke buat jadi panduan. Sementara itu, saya pengin berkhayal dulu ciblon di Sungai Rhine yang eksotis … !!!


Fragmen Jiwa Bernama Kepasrahan

Sekian waktu terjebak dalam rutinitas, hari-hari ini saya mulai mengurangi laju kecepatan. Menikmati setiap detik yang berdetak dengan tafakur. Dalam bahasa mbak Newsoul mungkin itulah yang dinamakan kontemplasi itu.
Maka dalam dimensi saya, sekeliling rasanya bergerak melambat ibarat film slow motion. Bangun tidur, berangkat kerja, pulang ke rumah, berangkat lagi, pulang di petang hari, tidur lagi, bangun berangkat lagi. Begitu seterusnya. 
Hidup kadang membawa kita jauh berenang mengikuti aliran, menikmati riak airnya yang nakal menuju pucuk-pucuk mimpi tak bertepi hingga lupa ke mana kan bermuara.




Betapa banyak waktu dan pikiran telah terpenjara hanya untuk mencari dan mencari apa yang disebut pujangga sebagai “lubang hati”. Entah itu pencarian terhadap cinta atau cita.
Ketika lelah telah menggelayuti diri, barulah jiwa ini tersadar, ternyata begitu banyak cinta terhampar dari orang-orang di sekitar. Cinta yang selama ini justru luput dari perhatian, tulus dari orang-orang terdekat, orang tua, keluarga, sahabat, karib kerabat. Dan yang terpenting di atas semua itu ada cinta kekal yang tak pernah lekang dari Sang Maha Hidup.

“Syukuri apa yang ada”, begitu syair lagu D’massive (dasar penyiar hehe...). Sungguh saya tak pernah peduli dengan lagu ini sebelumnya. Namun kata-kata itu terus mengiang meresonansikan makna luar biasa : Kepasrahan total.
Ya, setelah lautan ikhtiar yang dilalui dan puzzle-puzzle optimisme yang telah dirangkai, maka fragmen berikutnya adalah kepasrahan total kepada Sang Maha Hidup. Ketika usaha telah kita lakukan mati-matian tetapi hasil keringat tak sejalan garis takdirNya, lantas kita mau apa ? Semua ada di bawah otoritas Ar-Rahman yang menuliskan tiap desah nafas kita dalam Lauhul Mahfuz. Dan sebagai makhluk, episode yang harus kita jalani adalah pasrah dan tawakal.
Memang melakukan tak semudah mengatakan, kawan. Diri ini pun masih tertatih-tatih memproyeksikannya dalam kehidupan. Namun satu yang saya yakini, di ujung sungai kepasrahan itulah muara ketenangan berada.

Maka secangkir kepasrahan itu yang saat ini sedang saya butuhkan... mudah-mudahan ada yang rasa moccacinno ...

Secangkir kasih buat jiwa-jiwa hangat


Kabut masih enggan beranjak dari bumi tempat berpijak pagi ini. Sejuk. Aromanya menembus tiap sudut kegalauan di relung hati. Memecah partikel kelesuan yang mengendap.
Kecuali Sang Maha Hidup, segala sesuatu di hadapan mata tampak tak pasti. Sama tak pastinya dengan nilai kejadian dalam teori probabilitas Blaise Pascal.
Bumi masih merotasikan hari. Langit biru masih membisikkan harapan. Tunas-tunas pakis haji di ujung ruangan ini pun menerbitkan asa di atas seribu luka. Tapi, beri tahu saya tentang episode di ujung senja nanti ? Adakah yang bisa menjamin peri-peri pagi kan kembali ?
Apapun itu, diantara ketidakpastian ini kita masih harus tetap berjalan. Melaju seperti bulan yang setia mengiringi bumi. Jua seperti Colombus yang tak lelah mengarungi Atlantik. Bersama cinta yang selalu ada.
Tak perlu mencarinya hingga ke ujung samudra hingga penat kubaca dalam wajahmu. Sebab dia dekat di sini. Tumbuh dari bibit ketulusan terdalam. Berdifusi dari jiwa-jiwa hangat yang mewarnai sepenggal perjalanan diri. Lalu diproses sehingga menghasilkan secangkir kasih beraroma vanilla persahabatan.



Maka secangkir kasih ini saya persembahkan buat jiwa-jiwa hangat yang telah sudi berbagi. Mba Newsoul trimakasih atas award dan tulisan-tulisan yang selalu menginspirasi, mba Fanda, ijin pasang awardnya di sini yah hehe. Tulisan ini juga saya persembahkan buat jiwa hangat lainnya, Mba Tisti Rabbani dan semua sahabat yang telah sudi berkunjung ke blog ini.


 

Matahari dan Bulan


Dalam ukuran dan proporsinya, setiap unsur di alam semesta teramat bijak dan cerdas dalam memaknai perannya. Coba kita lihat matahari. Ia terus bersedekah memberikan potensi energi yang dimilikinya untuk menjamin kehidupan makhluk lain di sudut – sudut semesta. Tanpa mengeluh, ia terus berproses mereaksikan hidrogen secara fusi untuk menghasilkan atom ringan helium hingga menghasilkan sekumpulan elektron energi. Energi ini lantas dipancarkan ke mana saja sehingga kita, penduduk bumi tetap bisa merasakan hangatnya pagi. (Dapatkah kita bayangkan terbangun di esok hari tanpa ada sinar matahari ? Hanya ada warna malam yang kelam .... membayangkannya saja saya sudah merinding ....).  

Lalu mari sejenak kita pandangi bulan di langit malam. Yang hadirnya selalu dinanti, menyiratkan rasa hangat di hati kita. Bulan selalu istiqomah dalam fungsinya sebagai satelit yang mengorbit. Dengan patuh ia mengekor ke manapun planet induknya pergi. Ia terus berusaha memantulkan “kebaikan” matahari. Keteraturan orbital serta cahaya yang ia pantulkan, mampu menjadi penunjuk jalan, arah, serta patokan penanggalan Qamariyah. Posisinya mempengaruhi pula terjadinya pasang surut di permukaan laut. Ketika purnamanya merekah, membentuk diameter yang sempurna, akan banyak hal “istimewa” terjadi. Darah yang naik ke kepala akibat gravitasi akan memunculkan aktivasi kelenjar-kelenjar hipotalamus dan hipofisis. Akibatnya manusia lebih mampu meningkatkan arus impuls dan melahirkan pusaran logika. Pada keluarga cumi-cumi, kondisi ini akan merangsang hormon reproduksi bereaksi lebih intens dibanding momen-momen lain.  


“Maka nikmat Tuhan mana yang bisa kita dustakan ?”  


Mudah-mudahan kita mampu menjadi seperti matahari yang ikhlas. Serta menjadi seperti bulan yang memantulkan kebaikan. Semoga.

Dikutip dengan sedikit perubahan dari buku karya Dr. Tauhid Nur Azhar&Eman Sulaiman : Ajaib bin Aneh, Jadi insan Segala Tahu (2009).






Pertanyaan Dik

Huaaaammm.... kayaknya uda cukup lama berhibernasi terbuai meriahnya Lebaran. Pagi ini meluncur ke blog para sahabat, meneguk sebanyak mungkin ilmu dan hikmah. Sekaligus mencuri semangat untuk mengalirkan kembali kran ide yang sempat mengendap.

Teringat obrolan tempo hari dengan seorang kawan, sebut saja “dik” karena usianya memang lebih muda dari saya. Entah bagaimana mulanya, obrolan kami kemudian berkembang. Dik mengakui ketertarikannya terhadap matematika meski sejak sekolah dia tergolong seorang matematikaphobia.  Saya tersentak dengan rasa penasarannya terhadap simbol phi (3,14 = 22/7) yang selama ini hanya ia pahami sebatas dogma. Karena sang guru tidak pernah menjelaskan asal mulanya.  

Juga tentang kekritisannya mempertanyakan urutan bilangan. Mengapa 1 harus diikuti 2, kemudian 3, dst. Mengapa bukan bilangan yang lain ? Bagaimana kalau dia tak menginginkan urutan seperti itu ? Mengapa pula 6 dibagi nol hasilnya tak terhingga ? Lalu pertanyaan-pertanyaan lain yang meluapkan dahaganya akan jawaban logis atas itu semua.  

Sabar, dik. Pelan-pelan saja. Nanti kau tersedak ;-p

Jujur kekritisan sahabat muda saya itu ikut menohok batas ruang pemikiran saya yang selama ini banyak terjebak pada tuntutan kurikulum. Apalagi sebagai tutor amatiran yang dibatasi jam tatap muka dengan siswa, saya akui substansi materi kadang harus dikalahkan deadline ulangan dan PR-PR sekolah.  

Tapi baiklah, dik, saya akan coba menjawab pertanyaanmu sebatas yang saya pahami ya...

Kebenaran dalam matematika sebenarnya bersifat nisbi (tidak mutlak). Itu yang kadang salah kita artikan. Artinya suatu kebenaran dalam ilmu matematika tergantung pada kesepakatan awal yang disetujui bersama. Inilah yang kita kenal dengan “postulat” atau “aksioma”. Kelak, bisa saja kebenaran ini berubah apabila muncul kesepakatan baru yang  membentuk postulat-postulat baru.  

Adalah Al- Khawarizmi yang telah mengenalkan sistem bilangan dengan urutan 0, 1, 2, 3, dst dikembangkan dari sistem bilangan hindu-arabik. Buah pemikiran Al Khawarizmi ini kemudian disepakati bersama untuk digunakan secara umum dalam kehidupan sehari-hari demi memudahkan penghitungan. Butuh proses dan perdebatan selama berabad-abad untuk sampai pada penyimpulan sistem numerasi di atas. Dari jaman Mesir Kuno yang menggunakan hieroglyph, hingga masa Yunani kuno yang melahirkan simbol-simbol alfa, beta, teta, gamma, dst. Seiring berkembangnya zaman, manusia di berbagai belahan bumi tentu membutuhkan suatu sistem bilangan yang seragam sehingga memudahkan transaksi dan komunikasi. Itulah mengapa dalam bingkai sistem urutan bilangan setelah 1 adalah 2, kemudian 3 dst.  


Lalu “mengapa 6 dibagi nol hasilnya tak terhingga ?”, begitu tanyamu.

Setahu saya, bilangan real berapapun jika dibagi nol tidak mempunyai hasil (tidak terdefinisi). Jadi bukan “tak terhingga” (infinite). Karena antara “tak terhingga” dengan “tak terdefinisi” memiliki pengertian yang berbeda. Menurut Abdul Halim Fathani dalam buku “Matematika Hakikat dan Logika” (2009), munculnya jawaban tak terhingga dalam pembagian 6 terhadap nol dipengaruhi aliran logisme yang  bertumpu pada logika. Coba kita perhatikan :  

6 : 6 = 1

6 : 2 = 3

6 : 1 = 6

6 : 0,1 = 60

6 : 0,01 = 600

6 : 0,000.000. 0001 = 6. 000.000. 000

dst

Dalam aliran logisme, jika bilangan real dibagi dengan bilangan yang semakin kecil maka hasilnya akan semakin besar. Maka logikanya 6 : 0 hasilnya sangat besar (tak terhingga). Perlu dicatat tidak semua kalangan sependapat dengan pemikiran ini. Karena sesuai aksioma, bilangan real berapapun jika dibagi nol tidak mempunyai hasil (tidak terdefinisi).  

Trus, soal pertanyaanmu tentang bilangan phi itu, lain waktu saja ya kita diskusi lagi.  


PS : To “dik”, jangan pernah berhenti untuk mencari. Kelak kau kan temukan jawabannya.

Filosofi Fibonacci



Adalah mustahil bila hidup dianalogikan seperti deret geometri yang memiliki rasio keteraturan tetap. 2, 4, 8, 16, kemudian 32 , dst. Artinya setiap apa yang akan terjadi kelak bisa dikalkulasi secara sempurna tanpa meleset sedikitpun. Sungguh tidak mungkin, kecuali hanya dalam bingkai imajinasi kita yang tak terbatas. 



Saya bisa saja membangun imajinasi tentang hidup saya yang sempurna, dengan mengkalibrasi ikhtiar secara maksimal. Tapi menurut garis kalam-Nya, kita dihadapkan pada kenyataan yang berbanding terbalik dengan harapan. Melenceng jauh dari prediksi awal. Maka di situlah eksistensi ketawakalan diperlukan.

Bagi saya pribadi, hidup lebih identik dengan rangkaian angka Fibonacci. Misterius dan tak terprediksi hingga di saat-saat akhir. 2, 4, 6, 10, 16, 26, dst. Deret Fibonacci sebenarnya memang mempunyai formula yang bisa dicari, sehingga membentuk sebuah keteraturan. Misterius disini maksud saya, bahwa dalam perjalanannya, ternyata para ilmuwan dapat menemukan keteraturan2 lain dalam semesta yang sejalan dengan formula Fibonacci. 

Kerennya lagi, deret yang dikembangkan oleh Pak Fibonacci ini kemudian menjadi dasar sebuah pola perhitungan modern chaos theory. Chaos Theory sendiri adalah sebuah cabang ilmu matematika dan juga fisika yang membahas sebuah pola pergerakan yang acak namun beraturan. Acak karena tidak pernah menempati titik koordinat yang sama setiap kali bergerak. Beraturan karena selalu pada arah yang sama. Contohnya adalah pergerakan sayap pada kupu-kupu. Meskipun tidak beraturan, pergerakan sayap kupu-kupu selalu sama dari waktu ke waktu yaitu naik dan turun meskipun tidak pernah menempati titik yang sama setiap kali bergerak. (Running Pig - Fibonacci Retracement).

Jika kita membagi Un dengan Un-1, maka akan diperoleh rasio emas (golden ratio) yang ternyata memiliki keseimbangan sama dengan sejumlah fenomena di alam semesta. Golden ratio bisa kita jumpai sebagai pendekatan paling ideal dengan perbandingan ukuran bagian tubuh manusia rata-rata. Inilah yang banyak dijadikan dasar acuan para seniman dalam menciptakan karya arsitektur mereka. Cangkang-cangkang kebanyakan moluska yang tumbuh mengikuti bentuk spiral logaritmik , susunan spiral pada bunga matahari dan buah pinus, hingga lukisan Monalisa karya Da Vinci, kesemuanya mempunyai pola kesesuaian dengan golden ratio. (Harun Yahya, "Keindahan yang diciptakan di alam : Rasio Emas").

Bukan mustahil ke depannya masih banyak rahasia-rahasia semesta yang bakal terungkap dengan angka-angka Fibonacci ....
Dalam kerangka nafas manusia, setiap jengkal episode yang dilalui seringkali adalah konsekuensi dari pilihan sebelumnya. Dan sangat mungkin bahwa apa yang kita terima jauh berbeda dengan milik orang lain, karena kapasitas ikhtiar dan garis hidup berlainan. begitulah misteriusnya hidup. 

Saya sadar sepenuhnya jalan titian itu panjang dan berliku, sarat keluputan dan kekhilafan. Seperti yang pernah ditulis Om Andrea Hirata, Hidup dan nasib bisa tampak berantakan, misterius, fantastis, dan sporadis. Namun tiap elemennya adalah subsistem keteraturan dari sebuah desain holistik yang sempurna.

Maka sebagai manusia biasa, di ujung Ramadhan yang biru ini, izinkan saya memohon maaf kepada kawan semuanya. Atas kealpaan diri, atas tulisan-tulisan yang tak berkenan di hati. Mudah-mudahan kepergian Ramadhan meninggalkan jejak ketawakalan mendaki belantara kehidupan.

Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1430 H. Maaf lahir batin.



Sajak Savana Hijau





Dunia savanaku mengering,
Mungkin haus akan tarian hujan

Sementara kelopak-kelopak awan terbalut siluet senja yang menghitam,
Samar di penghujung malam

Adalah kisah kita dalam kereta kehidupan,
Melewati setapak, menjejak langit dengan angkuhnya
Kemudian kembali menemukan asal
Bersama bumi, bersama pepohonan,
Bersama air yang mengalir, dalam guliran sungai yang damai
Menggoreskan episode hidup
Tentang kuncup-kuncup mimpi yang mekar,
Sebagian lagi berguguran

Peri-peri kecil terus bernyanyi,
Melagukan cerita tentang dunia,
Tentang anak manusia
Tentang sesuatu yang kausebut itu “CINTA”

Aku tidak mengerti tentang dirimu,
Seperti aku tidak mengerti isi sajak pelangi selepas hujan
Walau terkadang kutemukan kita dalam bingkai spektrum warna yang sama
Selebihnya berbeda

Ah, aq terlalu dungu untuk memahami apa yang tertulis dalam kalam-Nya
Kerendahan wujudku sebagai insan
Tak kan mampu menjangkau Ke-Maha Besaran Ilmu-Nya
Yang gunung-gunung pun bergetar apabila ditasbihkan namaNya

Maka disinilah aku,
Terbenam keangkuhan dalam kerdilnya diri
Tertunduk dalam terang dan redupnya cahaya jiwa
Kadang ingat,
Kadang jua alpa

Salam Hormatku



Sebagai bentuk penghormatan terhadap para sahabat blogger yang luar biasa, izinkan saya untuk memajang award dari mereka.


Here it is, award cantik dari sahabat blogger dengan label “Hottest Female Blogger Award”, am I ?





Ngga nyangka, but anyway trimakasih buat Mbak Reni, Mbak Elly and Mbak Rachel (yang telah menghadiahkan award yang sama buat si blogger kacangan ini. Maaf juga kalo ngga bisa up date and berkunjung secara teratur. Maklum maksud hati pingin pasang spidi sendiri, tapi apa daya tingkat finansial belum nyampe hihi. Yah, jadilah warnet depan rumah menjadi saksi bisu aktivitas ngeblog selama ini ;-p. But we have to keep spirit, right ? (Yuuu huuu….)

Dan ini dia aturan mainnya :

1. Banner award tidak boleh diubah baik tulisan, warna dan signaturenya, kalo di-resize gambar boleh.

2. Tuliskan siapa yang ngasi award dan url nya trus url nya harus di-hyperlink ke bannernya yaa… supaya yang ngasih dapet backlink dari website kamu. Award cantik ini sekali lagi saya dapatkan dari THE OTHERS (30 September 2009), NEWSOUL (4 September 2009), dan PERNIK PEREMPUAN (September, tanggalnya ngga ada hehe).

3. Pilih 10 orang female blogger yang kamu kenal dan belum nerima award ini, dan sebutkan alasan kenapa kamu pikir dia layak dapetin award ini. 
Ya ampun, setelah berkeliling ternyata para bloggerwati yang saya tahu sudah pada memajang award ini. Yah, that's because they deserve to have it. Hiks…Lha trus saya musti gimana nih ?? ? hehe ...

4. Peer selanjutnya adalah :
  • Buka search engine Google
  • Tulis nama kamu dilanjutkan dengan kata ‘needs’, misalnya : Rosi needs
  • Klik “search”
  • Tulis deh 10 hasil pertama yang muncul di halaman itu. (kalo namanya gak keluar, coba ditulis dengan tanda petik “_” misalnya “Rosi needs” baru disearch).

Mari intip hasilnya :

  1. Rosi needs A loving home pet for sale (hehe emang sih I love cats very much )
  2. Rosi needs to find her own authentic voice …(walah lha selama ini berarti suara saya masih belum original gitu maksudnya ? *bingung mode on*)
  3. ROSI needs some skill and experience (Yup, absolutely correct )
  4. Rosi needs help (So, is there anyone want to save me ???)
  5. Rosi needs another sub shop (Buat belanja lebaran kali ya …)
  6. ROSI needs to be amended if there is ever to be any change allowed on the municipal property ( Wah ternyata Rosi adalah nama undang-undang yang bisa diamandemen juga, ckckckckck…)
  7. ROSI needs to be evaluated further (Betul, biar ngga salah melulu )
  8. Rosi needs to concentrate ( wah wah pasti saya ketauan pas lagi bengong di kelas, mikirin buka puasa sih hehe)
  9. ROSI NEEDS TO DIE A HORRIBLE TECHNOLOGICAL DEATH (Hmmmm, sereem )
  10. ROSI needs to be tested over a wide range of operating conditions (Yang ini kayaknya merk produk solar hihihihi )
Yah, award sudah dipasang. Mudah- mudahan ini jadi penanda silaturrahim dengan para sahabat di kawah maya. Salam Hormat dari saya. 

Satu lagi Frame Kehidupan

Setengah terkantuk saya membaca pesan singkat itu, “ Mbak nanti masuk enggak?”. Empat patah kata diakhiri tanda tanya. Simple, tapi kemudian membuyarkan gelembung imajinasi yang telah saya rangkai dengan sempurna untuk mengakhiri hari ini dengan indah.

Yah, setelah seharian penuh bergulat dengan nasib, beradu dengan radiasi matahari, pada akhirnya melepuh bersama hari di jelang senja yang ranum. Seperempat jam lagi bedug maghrib. Buka puasa, delapan rakaat tarawih, lalu segera bersua dengan kasur untuk merebahkan rangka tubuh ini. Hmm, sebuah rencana yang sempurna bukan buatan.

Saya bahkan sudah berpikir untuk membatalkan jadwal mengajar  di Rumah Singgah ba'da tarawih. Ego saya terus berbisik, toh tak mengapa kalo Cuma absen sekali.  Lagipula minggu depan kan masih ada waktu. Anak-anak itu pasti bisa mengerti.  Dan kasur di atas tempat tidur reyot itu rasanya bagai singgasana yang kian kuat memancarkan medan magnet di sekitar saya. 

Lalu sms kedua datang , " Mbak Ros, nanti malam masuk kan? ". Akhiran -kan di belakang pesan itu tidak hanya menegaskan pertanyaan pertama,  tetapi sekaligus harapan bahwa orang yang ditanya akan menjawab "iya". Tapi siapa yang bakal tega mengatakan tidak untuk wajah-wajah itu ? Anak-anak yang kala pagi harus bekerja entah sebagai PRT, loper koran, bahkan security, lalu malam harinya masih menyisakan semangat demi mendapat gelar paket C setara SMA. Anak-anak usia 20-an yang secara kurikulum harus mendapatkan Teorema fundamental integral meskipun sampai saat ini saya masih belum tahu bagaimana mengajarkannya untuk membuat mereka tidak "nggumun". Di saat siswa SMA lain bisa duduk nyaman di pagi hari dengan buku-buku berkualitas berstandar Chambridge, mereka harus puas hanya dengan mencatat dari papan tulis. 

Yah, sebuah kelas malam yang lebih sering molor hingga setengah jam demi menggenapkan muridnya menjadi 2 orang. Bahkan tak jarang si pengajar harus rela menjemput siswanya agar mau datang untuk belajar.  Satu lagi frame realita kehidupan. Hukum sebab akibat yang sangat populer,  "kemiskinan dan sulitnya akses pendidikan". Tapi melihat semangat di mata anak-anak itu, menemukan pijar antusias ketika mereka baru tahu bahwa aktivitas belanja di pasar bisa dimanipulasi menjadi model persamaan linear. Saya rasa tak ada seorangpun yang akan  sanggup mengatakan tidak. 


Catatan Pagi



Jam digital di
Sony Ericsson saya menunjukkan angka 01. 35 dini hari. Saya sudah di atas tunggangan, bersiap untuk meluncur di sirkuit jalanan kota. Sayup suara ibu berpesan, “Yen wis teko enggon, telepon yo nduk…..” (bahasa Jawa yang artinya kurang lebih “Kalo uda nyampe tujuan, telepon ya, Nak”). Pesan seorang ibu yang akan melepas anak perempuannya menunaikan tugas dini hari ini. Bismillah, mudah-mudahan nyampe dengan selamat. 

Langit masih menyisakan pekat, Cuma ada satu dua kendaraan yang lewat. Ada beberapa warung yang masih buka menemani pengelana malam demi menghimpun segenggam rupiah, menjajakan menu sahur buat para pengais pahala.

Ini memang hari pertama saya menjalankan amanah kerja malam. Membangunkan manusia buat sahur. (Ronda kali ya …. Hehe). Yah, bisa dibilang satu ordo tugas tapi dalam bungkus yang berbeda. Sebenarnya buat saya tidak masalah, insyaallah ini bagian dari ibadah juga. Mudah-mudahan lillahita ‘ala. Yang sempat jadi masalah adalah protes dari ibu yang tidak merelakan anak perempuannya berangkat sendiri di malam buta, walaupun jarak rumah ke tempat kerja tidak lebih dari seperempat putaran penuh jarum jam kalo naik motor. Bahkan beliau sempat berniat menelepon Kabag saya agar membatalkan jadwal malam yang sudah final. Hehehe, Thank God akhirnya enggak jadi. Saya bisa maklum, mungkin begitulah fitrah seorang ibu. Meskipun sudah segede ini, kadang ibu masih saja overprotective. Oh, Ibu….

Gusti, mudah-mudahan Kau ikhlaskan hati ini agar apa yang kukerjakan bisa menjadi catatan amal di Ramadhan-Mu. Amin.

Buat mbak NewSoul yang telah menyegarkan partikel kelesuan dalam hari-hariku, dengan tulisan-tulisan yang penuh makna, terimakasih. Pun jua atas Award yang sudah dihibahkan buat jiwa yang gersang ini. Sungguh, perhatianmu menggetarkan langit (hehehe saya harus mengucapkan itu untuk kesekian kalinya…).



award dari NewSoul

Buat mbak Fanda juga yang telah beberapa waktu menganugrahi award (gara-gara saya yang nodong hehehe). Maaf baru dipajang di tulisan ini. Karena saya merasa belum pantas untuk itu. Trimakasih.


award dari bukuFanda

 

Mencari Jalan Buat Jiwa

Beberapa waktu tidak mengunjungi blog ini. Kangen sekali rasanya. Blog yang dilahirkan untuk pertama kalinya dengan semangat dan idealisme. Tentang keresahan hati, keterbatasan diri untuk berbuat sesuatu, tentang isi kepala yang tidak tersampaikan karena belum tentu setiap orang bersedia mendengar. Tentang pemikiran yang mungkin bersebrangan dan melawan arus.

Tentang kejujuran menjadi diri sendiri karena pada kenyataannya tidak semua orang mampu mengungkapkan jati diri. Lagipula postulat hidup telah memperlihatkan bahwa manusia kebanyakan hanya dinilai dari penampilan luarnya. "The Way I am", menjadi diri sendiri apa adanya, begitulah kira-kira alasannya. Meskipun dibuat dengan tertatih-tatih karena si pembuatnya adalah seorang yang gaptek yang minus ilmu tentang cyber space.

Belakangan, ketika berbagai masalah mendera jalan hidup, datang bergantian mengakrabi nasib. Kran semangat menulis itupun seakan ikut macet. Tenaga dan pikiran tersedot, lalu hanya menyisakan eksistensi malas dan murung yang hampir menyentuh stadium lanjut.

Namun, manusia mana yang hidup tanpa masalah ? Di atas Langit masih ada langit. Mengapa pemikiran saya jadi begitu sempit ? Bukankah segala masalah adalah intisari kehidupan yang membedakan seseorang dengan zombie? Tuhan, ternyata jiwa ini masih begitu kerdil.

Perkataan seorang teman di tempo hari seakan menjadi energi listrik yang meletup menyalakan kran semangat ini.
"Ketika engkau menghadapi masalah, bicaralah. Biarkan seseorang meringankan bebanmu, atau paling tidak bicaralah pada secarik kertas. Dengan menulis engkau akan mampu melihat lebih jauh dalam perspektif yang berbeda".

Dengan menulis, semua masalah akan terlihat lebih nyata dalam urutan yang logis dan sistematis ibarat matriks-matriks yang siap dimanipulasi dalam hitungan. Menulis, hhmmm.. sebuah ritual yang beberapa waktu ini terabaikan karena kesibukan yang semu. Mudah-mudahan jiwa ini bisa mencari jalannya untuk segera kembali.

Requiem Subuh

Langit menyisakan pekat pada sebuah ujung subuh, Daun-daun sujud, Gunung-gunung takluk, Angin membisikkan ketundukan Sementara bagi jiwa-jiwa pesakitan Kotak hidup hanya menyisakan pagi yang meradang Menapaki gulita asa dalam distorsi cahaya Kemudian jatuh terkulai Seperti kuncup yang gugur sebelum mekar Menetes bersama gutasi mimpi Kelam, mengendap, dan berjelaga Lebur dalam musim yang menua Rembulan pucat pasi dalam diameter yang sempurna Tak rela beranjak, Seperti kabut yang enggan menggulung petang Bahkan matahari yang kunanti pun tak sudi mengulum senyum Sang hidup terus merotasikan waktu, Menyisakan masa bagi nafas-nafas yang hendak memeluk hari, mencangkuli bumi Akankah pagi berkereta bersama mereka ? Ataukah lelap tertimbun bersama Terracotta ?

Buku versus Layar Lebar

Oke, harus saya akui kalo dunia kecil saya saat ini ngga bisa lepas dari mesin ajaib bernama komputer. Yah gara-gara motherboard rusak, stabilitas beberapa agenda jadi terganggu. Termasuk tugas-tugas dari Bayu Mukti yang biasanya saya lembur malam hari akhirnya harus canceled (sorry Bay, cuti dulu ampe guncangan finansial mereda). Tapi kali ini saya ngga bakal membahas motherboard yang lagi rusak, saya cuma ingin menanyakan, kalo seandainya teman-teman diminta memilih antara buku dengan layar lebar, kira -kira mana yang bakal lebih disuka?
Maksud saya, fokus pembicaraan ini adalah antara buku-buku best seller dengan versi movie-nya yang telah menginspirasi sutradara.
Sejauh ini uda ratusan judul film diangkat dari karya best seller. Tapi tentu saja keduanya menyuguhkan daya tarik berbeda meski memiliki alur cerita yang kurang lebih sama. J.K Rowling sudah membuktikan bahwa 7 seri novel fiksi Harry Potternya telah membius jutaan pembaca hingga rela bermalam di depan bookstores hanya karena takut kehabisan. Sementara itu film-filmnya juga telah membius jutaan pasang mata, dan membuat Daniel Radcliff menjadi salah satu anak terkaya di Britania. Tapi jujur, saya lebih cinta dengan filmnya dari pada harus membaca novel versi Indonesia yang tebalnya 800 halaman lebih. Bukan karena apa-apa, mungkin karena saya tidak begitu nyaman dengan penerjemahan bahasanya yang cenderung kaku, atau visual cortex otak saya yang rada lemot hehe....
Salah satu film yang mempesona saya adalah The Da Vinci Code, yah mungkin karena permainan watak Tom Hanks yang begitu memikat, atau visualisasi karya-karya Da Vinci yang disuguhkan dalam versi layar lebar cukup memuaskan imajinasi saya.
Untuk chicklit ringan seperti Cintapuccino atau Confession of a Shopaholic, saya lebih terpikat pada novel aslinya yang mengijinkan kotak imaji saya berpendar dalam spektrum yang lebih luas. Sementara versi movie terkesan dipaksakan karena ada beberapa segmen cerita yang dipotong.
Juga Laskar Pelangi yang fenomenal, jujur mata ini lebih betah memelototi tulisan Andrea Hirata selama berjam-jam ketimbang menonton filmnya yang berdurasi 2 jam. Maaf mas Riri Riza, bukannya filmya tidak bagus. Sama sekali bukan, tapi mungkin imajinasi saya sudah terlanjur membayangkan yang lebih hehehehe.
Pun sama halnya dengan Ayat-Ayat Cinta, saya lebih jatuh hati pada tulisannya Habiburrahman Elzirazy. Saya rasa ini karena faktor aktor/aktris yang profilnya uda terlanjur dikenal publik sebagai VJ atau anak band jadi hmmm …., tapi bukan berarti saya ngga suka latar syutingnya yang eksotis. Untuk KCB, saya masih belum nonton filmnya tapi mudah-mudahan bakal seindah novelnya ( versi saya hehehe...).
Film yang sedang saya tunggu saat ini adalah Sang Pemimpi, iya kawan, ini sekuelnya Laskar Pelangi. Masih diproduseri Riri Riza dan sebagian lokasi pengambilan gambarnya juga di Belitung. Let's wait n see apakah bakal seheboh film pertama.
Ada lagi satu buku best seller Three Cups of Tea (makasih mba Dea uda mau minjemin). Ini salah satu buku terindah yang pernah saya baca. Based on true story by Greg Mortenson yang menyuguhkan potret dunia Islam di Asia Tengah versus Amerika dalam cara pandang yang sama sekali berbeda, dengan latar lembah Pakistan indah menggetarkan. Terimakasih buat penerjemahnya yang bikin buku ini jadi benar-benar membuat saya seakan bisa memandang warna langit di puncak K2 Himalaya. Tapi saya belum tahu apa sudah difilmkan ya ?
Sekarang saatnya bertanya, seandainya kawan-kawan diminta memilih antara buku dan layar lebar, lebih pilih yang mana ?